Páginas

Selasa, 16 Desember 2014

(Hari Bahagia) Surat Dari Sang Kekasih




“Ass….

Maha Suci Allah swt. yang telah menciptakan makhluk (wanita) secantik dan seindah dirimu yang selalu memberiku Harapan dan Semangat setiap waktu. Engkau bagaikan bunga tulip yang selalu memberi aroma harum yang bisa menenangkan dan menyejukkan orang yang mencium baunya. 

Engkau bagaikan setetes embun yang dapat meredakan kehausan.

Dede, tolong jangan hancurkan Harapan ku yang telah membumbung tinggi untuk terus bersamamu. 

Tolong jangan kecewakan aku yang jauh di sini. Jangan melakukan hal-hal yang bisa menyakitiku karena dirimu lah satu-satunya harapan yang bisa membuatku bertahan di tempat ini.

Terus Berjuang …. Kobarkan semangat 45 …. Hehe ….

Semoga Menang. AMIN.

Satu pi pale’ …. Minta a obat na gigi ku nah. Hehehe J sama foto ….

I always LOVE You 4ever.”

(Hari Bahagia) Surat Cinta Lomba Cipta Puisi

Hari ini bahagiaaa banget. Ini salah satu hari terbaik dalam hidupku.

Setelah kemarin sedih dan mengalami hari yang buruk karena harus menengalami kekalahan dua kali berturut-turut, hari ini aku mengalami hari yang luar biasa. Mungkin ada makna dan hikmah di balik kejadian kemarin. Buktinya saja hari ini aku mengalami hari yang bahagia dan banyak kejadian yang menyenangkan.

Aku sudah memutuskan untuk berhenti mengikuti lomba catur. Kalah dua kali berturut-turut itu sudah cukup. Tidak harus menambah luka lagi dengan menambah kekalahan.

Jadi hari ini aku mengikuti lomba yang kedua yaitu Lomba Cipta Puisi.

Deg-degan banget. Karena ini pertama kalinya aku mengikuti Lomba Cipta Puisi. Yang aku takutkan adalah bagaimana nanti jika lomba sudah berlangsung aku tidak memiliki ide yang bisa ku tulis.

Belum lagi penggunaan majas yang harus ada dalam puisi untuk dapat menambah keindahan puisi tersebut. Aduh, mau pakai majas yang bagaimana ? Nilai ulangan bahasa Indonesia ku saja tidak tuntas.

Tapi tak apa lah. Kehormatan ini sudah di berikan padaku dan aku telah di percaya oleh pihak sekolah untuk mewakili nama sekolah dalam cabang lomba ini. Jadi PeDe saja.

Untung saja tadi otakku sedang fresh dan tidak butuh waktu lama untuk memanasakannya. Jadi aku tidak terlalu butuh waktu lama untuk mencari ide.

Dalam salah satu episode Spongebob diajarkan bahwa yang paling sulit itu adalah memulai sesuatu.

Memang benar. Memulai sesuatu memang hal yang paling sulit. Jika sudah menemukan cara untuk memulainya, maka melanjutkannya adalah hal yang gampang. Tinggal meneruskan apa yang telah kita mulai.

Dan dalam waktu beberapa detik …

Tadaaaaaa …

Jadilah karya terbaruku yang berjudul “Negeriku Berurai Air Mata”.

Aku sebenarnya ingin menuliskannya di sini. Tapi sayang aku tidak bisa mengingat dengan persis apa yang telah ku tuliskan tadi, jadi aku tidak bisa menuliskannya kembali. Biarlah itu menjadi arsip panitia, siapa tau puisiku karya ku menang dan bisa muncul di majalah atau Koran. Hehehe.

Setelah itu aku keluar ruangan dengan senyuman puas karena merasa telah berhasil menaklukan tantangan yang ku hadapi hari ini. Kalah atau menang itu masalah di belakang. Yang penting aku sudah memberikan yang terbaik yang bisa ku lakukan.

Tante Husna, atau yang biasa di panggil Bunda kalau di sekolah, memberikanku kotak berisi kue. Whahaha. Bahagia banget dapat kotak. Iya sih sederhana. Tapi dalam keadaan lomba seperti ini, kotak berisi kue itu sesuatu yang mahal.

Bagaimana tidak ? Hanya guru yang diberikan kotak. Sedangkan kami peserta lomba tidak beri apa pun, bahkan air minum pun tidak ada. Jadi di beri kotak oleh guru itu sesuatu banget. Hahahaha.

Waktu aku berdiri-berdiri di depan ruangan lomba sambil menunggu temanku menyelesaikan karyanya, tiba-tiba ada anak cowok yang aku tidak tau namanya tapi kalau aku tebak dia anak SMP, datang kepadaku dan memberikan secarik kertas.

Dan kalian tau ? Anak SMP itu bersekolah di SMP BABUSSALAM. Aku ulangi, SMP BABUSSALAM.

Ya, tempat sang pujaan hati menimba ilmu saat ini.

“Nih, dari Ilham.”

“Dia dimana ? Dia sekarang ada di sana?”, tanyaku sambil menunjuk ke arah kumpulan anak Babussalam.

“Iya.”, lalu dia pergi begitu saja.

Aku pun langsung membuka surat tersebut dan membaca isinya.

Deg ….

Oh Tuhan. Setelah membaca surat itu, rasanya aku berada di atas awan. Bagaimana tidak, isi suratnya itu sangat dalam dan ….

Ah ! Entahlah !

Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Bahkan Inna dan Kiky pun yang ku suruh untuk membaca surat itu merasa berada di atas awan dan berharap kekasih mereka pun dapat menulis kata-kata semanis yang berada di surat tersebut.

Langsung aja baca nih suratnya.


“Ass….

Maha Suci Allah swt. yang telah menciptakan makhluk (wanita) secantik dan seindah dirimu yang selalu memberiku Harapan dan Semangat setiap waktu. Engkau bagaikan bunga tulip yang selalu memberi aroma harum yang bisa menenangkan dan menyejukkan orang yang mencium baunya. Engkau bagaikan setetes embun yang dapat meredakan kehausan.

Dede, tolong jangan hancurkan Harapan ku yang telah membumbung tinggi untuk terus bersamamu. Tolong jangan kecewakan aku yang jauh di sini. Jangan melakukan hal-hal yang bisa menyakitiku karena dirimu lah satu-satunya harapan yang bisa membuatku bertahan di tempat ini.

Terus Berjuang …. Kobarkan semangat 45 …. Hehe ….

Semoga Menang. AMIN.

Satu pi pale’ …. Minta a obat na gigi ku nah. Hehehe J sama foto ….

I always LOVE You 4ever.”


Seakan belum cukup kebahagiaanku hari ini, Allah kembali memberiku kejutan kecil yang lainnya. Setelah memberiku kotak, Bunda memberiku lagi Pulpy Orange.

Dapat rezeki lagi nih kita.

Setelah itu aku di traktir makan lalapan di warung makan dekat segitiga yang ada patung jeruknya.

Bahagia + Kenyang = Surga Dunia.

Whahahaha. Benar-benar dapat surga dunia aku hari ini. Istilahnya “Ketiban Durian Runtuh”.

Oh iya, hari ini ATM ku juga sudah jadi. Lengkap sudah kebahagiaanku hari ini. Kurang bahagia apa lagi coba ?

Mulai dari dapat menghadapi tantangan di Lomba Cipta Puisi, dapat kotak, di traktir makan, di traktir pulpy, ATM perdanaku keluar.

Benar-benar salah satu Hari Terbaik dalam hidupku.

Terima kasih, Ya Allah.Terima kasih untuk hari ini.

Kemarin Allah memberiku cobaan, tapi hari ini, Allah membuat senyumku kembali terkembang. 

Mungkin ini juga merupakan cobaan, Allah ingin melihat bagaimana aku menyikapi kebahagiaan yang hari ini diberikan kepadaku.

Kata bijak hari ini, “Pelangi akan tampak setelah hujan reda, dan hujan tidak akan berlangsung selamanya. Demikian pula dengan kehidupan. Keindahan akan tampak setelah kita melewati beberapa kesedihan, tetapi kesedihan itu tidak akan berlangsung selamanya.”


“Roda itu berputar, demikian juga kehidupan. Tidak selamanya berada di atas, dan tidak selamanya pun berada di bawah.”

Senin, 15 Desember 2014

(Pengalaman Pahit) Kalah Dua Kali Berturut-Turut

Emang sih waktu aku pernah ngomong, Lebih Baik Kalah Daripada Tidak Sama Sekali. Tapi itu untuk masalah satu kali tanding dan kita memang udah jago di bidang itu.

Kalo udah jago mah, pengennya tanding terus, supaya tau sampai mana batas kemampuan kita, siapa saja yang bisa kita kalahkan dan siapa saja yang kemampuannya sudah di atas kita. Tapi itu kalo udah jago. Sekali lagi, itu kalo UDAH JAGO.

Lah ini, belum tau apa-apa udah ikutan tanding, malah kalah dua kali berturut-turut. Ya Ampun !! 
Kalo kata Cita Citata nih, sakitnya tuh di sini .. !! #nunjukhidung.

Huuuuwaaaaaaaa .. !! Kalah dua kali berturut-turut itu sakit banget ya Allah !! Pengen rasanya nangis sambil teriak sekencang-kencangnya, pukul barang, lempar, tending, atau apalah yang bisa  menyembuhkan sakit di hati ini.

Sakiiiiiit BANGET !!

Itu baru untuk hari ini. Gimana besok ??

Kalau besok lomba Cipta Puisinya kalah lagi, ampun, mau di simpan di mana muka aku ?

Dua cabang lomba yang di ikutin dan tidak ada satu pun yang dimenangkan ?! OMG !! WHAT THE HELL ??!!

Walaupun mungkin sebagian orang, entah itu sebagian besar atau sebagian kecil, tidak mempermasalahkan hal itu, tapi tetap saja aku malu.

Dua cabang lomba di percayakan kepadaku dan tidak ada satu pun yang dapat mengangkat dan menaikkan nama sekolahku, malah menjatuhkan. Itu malunya luar biasa loh !!

Selain sakit, malu juga ...

Kalah (Sakit + Malu) = pengen lari sambil nangis dan sembunyi untuk sementara waktu dan tidak mau bertemu dengan teman dan guru-guru ku.

Sumpah ! Untuk pertandingan kali ini aku tidak punya persiapan S-E-D-I-K-I-T pun !!

Jadi, semua hanya modal nekat dan coba-coba.

Oh iya, andai aja DIA ada di dekatku saat ini, mungkin semuanya tidak akan tampak seburuk ini karena ada dia yang tidak akan membiarkanku sedih dan selalu membuatku tersenyum. Sayangnya, itu hanya "andai" ..

Ya Allah, semoga besok bisa lebih baik ..

Minimal masuk tiga besar lah.

Aaaamiinn ..


Rabu, 10 Desember 2014

Hari Terakhir Ulangan

Horeee .... !!! Alhamdulillah. Akhirnya ulangan semester selesai juga. Ya, hari ini merupakan hari terakhir pelaksaan ujian akhir semester di sekolah ku atau yang orang lain biasa sebut UAS.

Ulangan semester sudah selesai dan itu artinya semester genap di tahun ajaran ini juga sudah berakhir. Huh. Lega juga rasanya. Perjuangan selama enam bulan terbayar di hari ini. Walaupun hasil ulangan belum semuanya berakhir, tapi aku sudah cukup lega karena sambil menunggu hasil ujian keluar, aku bisa bersantai-santai.

Semoga saja semuanya tuntas dan tidak ada yang remedy. Jadi, aku bisa santai lebih awal walaupun pengumuman libur belum keluar dengan resmi.

Tapi tak apa. Aku gak keberatan pergi sekolah setiap hari walaupun gak ngapa-ngapain di sekolah. Yang paling seru dari sekolah itu adalah waktu ngumpul sama teman-teman. Gak peduli belajar atau gak, yang penting ngumpul.

Bahagianya tuh gak bisa di lukiskan dengan kata-kata. Rasanya tuh bahagiaaaaaaaaa banget !! Enam bulan yang tidak sebentar dan tidak mudah, penuh lika-liku, mulai dari marah-marah karena guru gak pernah masuk, tugas banyak, guru sering ngomel, masalah sama teman, sama pacar juga, hmmm, tapi semua itu akhirnya bisa di lewati dengan tenang dan sampai pada puncaknya.

Bagaikan sedang mendaki gunung, sekarang tuh aku lagi ada di puncak paling atas !

Kalau udah ada di puncak sih rasanya gak mau turun. Naiknya aja susah apalagi turunnya. Tapi yaa gak apa-apalah turun. Kan nanti bisa naik lagi.

Tapi, selagi aku di atas, aku mau menikmati semua kenikamatan yang jarang dan sudah ku nanti-nantikan selama enam bulan ini.

Eh, baru ingat, di hari terakhir ulangan ini ada cerita lucu loh. Mungkin kalau aku ceitakan tapi gak akan selucu seperi kejadin aslinya, tapi gak ada salahnya juga kalau di ceritain.

Jadi gini, tadi tuh abis ulangan kita ngumpul-ngumpul di tempat piket. Orang-orang itu adalah aku, Kiky, Inna, Nisa, Nuni’, Karmila, Idha, Sukri, Henry, Bahtiar, Hasbir, dan Harfing.

Dan semua itu adalah anak kelas XI IPA. Tidak ada kelas lain selain kami.

Seperti yang biasa dilakukan orang kalau lagi ngumpul, kita cerita-cerita tentang semua hal. Mulai dari film, ngegospin guru, ngegosipin teman sendiri, bahkan sampai ngegosipin orang yang kehidupannya jauh dari kami.

Saking serunya ngobrol, kami sampai lupa kalau ternyata masih ada orang yang melaksanakan ulangan. Padahal Henry sebagai ketua kelas telah mengingatkan kami agar tidak terlalu ribut, tapi kalian tau kan gimana sifatnya perempuan kalau udah ngobrol.

Awalnya sih kami mendengarkan dan mengurangi volume suara kami, tapi lama-kelamaan kami lupa dan volume suara kami kembali meningkat.

Waktu lagi tengah seru-serunya ketawa, tanpa aku perhatikan ternyata Kiky sudah lama diam dan tidak ikut tertawa. Tapi karena aku dan yang lain tidak memperhatikan, maka kami tetap saja tertawa, bukan hanya yang perempuan, yang laki-laki pun ikut tertawa terbahak bahak.

Tiba-tiba .....

“Ngapain kalian semua di situ ??!! Kalau udah gak ada ulangan mendingan kalian semua pulang !! 
Daripada di situ duduk bercerita ganggu orang lain ulangan. Temannya ulangan dia malah ribut di situ. Bodoh Semua !!”

Dalam hitungan sepersekian detik, semuanya diam tanpa aba-aba. Tidak ada tawa, tidak ada suara, bahkan senyum pun tak ada.

Semuanya tertunduk takut, tak berani menatap kearah sang empunya suara. Aku yang saat itu membelakang juga tidak berani membalik badan. Aku hanya duduk di kursi ku tanpa ada gerakan sedikit pun.

Sebenarnya kami tidak akan seperti itu jika yang punya suara itu orang lain. Masalahnya, yang punya suara itu adalah GURU BP. Bagaimana tidak takut coba ?

Ini bukan yang pertama kalinya aku di marahi oleh Guru BP, tapi aku tidak mau masuk ruang BP untuk yang kedua kalinya. Masa gara-gara ribut gitu doing kami semua harus masuk ruang BP. Mau di simpan di mana muka anak IPA kalau hampir setengah dari kami masuk ruang BP ? Bisa hancur reputasi kami.

Kalau sampai itu terjadi, selain mendapat amukan dari guru BP, tentunya kami juga akan mendapat wejangan tambahan dari Wali Kelas kami.

Syukurnya, setelah dia mengucapkan kalimat sakti tadi, dia langsung pergi, meninggalkan kami yang masih dalam posisi patung.

Setelah dia benar-benar pergi, dasar kaminya yang memang agak gendeng, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun, kami pun kembali tertawa. Menertawakan kebodohan kami.

Setelah tertawa, yang cowok langsung kabur ke kantin karena takut kena semprotan yang kedua, sedangkan kami yang cewek tanpa ada instruksi langsung membubarkan forum dengan sendirinya.

Tiba-tiba Diani datang, “Kalian kena marah juga ya?”, Tanya dian ke kami.

“Iya, memangnya kamu kena juga ya ?”

“Iya.”

“Loh, koq bisa ? Memangnya tadi kamu di mana ?”

“Di depan kelas XII IPA.”

“Oalah. Hahahaha. Pantas. Kami di samping kelas XII IPA, sedangkan kamu di depannya. Klop sudah. Hahaha.”

Kami pun kembali tertawa sambil lalu. Takut kalau saja tiba-tiba guru BP keluar lagi dan memarahi kami.

“Aku sih sebenarnya udah liat ibu BP dari tadi.”, ujar Kiky waktu kami mau beranjak pulang.

“Kok kamu gak ngomong-ngomong sih ?”

“Aku sebenarnya mau ngomong, tapi takut. Ibu BP sudah terlanjur liat kita. Sebenarnya dia juga udah negur kita, tapi kalian gak dengar dan suara tawa kalian malah makin besar, jadi dia marah. Dari tadi aku udah diam, mau ngasih kode ke kalian supaya diam juga, tapi kalian gak ada yang liat aku.”

Ya ampun Kiky, kok baru bilang sekarang. Kena semprot deh kita. Tapi gak apa-apa, sudah lewat kok.

Pesannya, kalau cerita suaranya jangan terlalu besar, apalagi kalau ada yang ulangan, supaya kalau di tegur guru bisa langsung kedengaran dan gak harus dapat jatah. Hehehehe.

Oh ya, beberapa hari yang lalu, juga merupakan hari jadianku yang ke enam bulan bersama sang Abang terkasih “Ilcham Hidayat”. Kalau di pikir-pikir, berarti aku pacaran sama dia sejak naik kelas dua, ya kan ?

Terimakasih ya Bang buat enam bulan yang indah ini. Gak kerasa ya sudah setengah tahun kita bareng-bareng. Walapun kita jarang ketemu.

Terimakasih, Tuhan ! Akhirnya hari ini datang juga.

Selamat Tinggal Semester Ganjil. Aku mau santai-santai dulu yaa ..

Byeee .. !!

Selasa, 02 Desember 2014

Ada Beberapa Orang

Ada beberapa orang di hidup ini yang hanya menarik pada saat masa sekolah saja. Lepas dari masa itu, dia tidak menarik lagi bahkan cenderung menjengkelkan.

Sebut saja teman, atau bisa di bilang sahabat SMPku. Namanya Jafar. Dulu waktu SMP aku pernah mengalami yang namanya jatuh cinta pada sahabat ku sendiri. Entah kenapa, tapi saat itu dia tampak menarik bagiku. Semua yang berhubungan dengan dia adalah sesuatu yang indah dan dapat membuatku luluh.

Mulai dari caranya berbicara, sikapnya yang apa adanya, gokil, santai, pokoknya saat itu semua yang ada padanya adalah hal yang baik dan menarik. Bahkan setelah dia jadian dengan temanku dan aku harus sakit hati tetapi harus ikhlas menerima semua itu, dia tetap tampak baik dan menarik di mataku. 

Bahkan setelah dia dikeluarkan dari sekolah aku tetap berharap dapat bertemu lagi dengannya dan dia aku bisa berusaha kembali mencuri hatinya.

Tapi, setelah beberapa tidak bertemu dengannya, ada sesuatu yang berubah. Pernah sekali dia menelponku dan memintaku untuk jadi bagian dari hidupnya, tapi saat itu aku sudah terlanjur sakit hati dan tidak mau menerimanya. Mengapa baru sekarang ? Mengapa setelah kau dicampakkan baru kau mencariku ? Mengapa tidak dari dulu ? Apakah aku hanya pelarian ? Atau kau terlambat menyadari bahwa sebenarnya aku lah orang yang selalu ada untukmu ? Aku bahkan sempat kehilangan harga diriku di hadapanmu karena aku mengakui bahwa aku menyukaimu, tapi kau meresponnya dengan biasa-biasa saja.

Saat itu aku sempat berpikir untuk menerimanya tapi dengan syarat aku ingin bertemu dengannya sekali saja. Karena aku rindu ingin bertemu dengannya. Rindu dengan candaan dan obrolan kami di salah satu sudut masjid pesantren Babussalam setiap malam ahad sesudah shalat maghrib. Kini itu semua hanya menjadi kenangan.

Setelah saat itu aku tidak pernah lagi mendengar kabar darinya dan dia seakan-akan hilang dari kehidupanku.

Dan pesona yang dia berikan waktu SMP ? Hilang dan pergi bersamaan dengan hilangnya dia dari hidupku. Rasa suka itu sudah tidak lagi. Rasa kagum dan menarik itu hilang diterbangkan angin. Dan dia sudah tidak menarik lagi bagiku. Kini dia hanya sahabat SMPku yang lama tidak berjumpa.

Selain Jafar, ada satu orang lagi yang juga waktu SMP sempat memberikan kisah Cinta Monyet untukku. Namanya Alim. Aku pernah menulis tentang dia di sini.

Hampir sama dengan Jafar, dia juga menawarkan sebuah pesona yang sulit untuk di tolak. Pesona tersebut menyilaukan mata hingga tidak peduli bahwa saat itu dia sedang bersama seseorang. Tapi dia tidak pernah berani mengungkapkan perasaanya karena takut merusak persahabatan yang telah kami bina. Tapi tetap saja, rasa suka itu tidak akan hilang begitu saja. Bahkan hingga aku kelas satu SMA, aku masih berharap dia akan pindah ke sekolahku dan kami bisa akrab lagi seperti saat SMP. Sayang, itu semua hanyalah harapan kosong yang tidak mungkin terwujud.

Kabar terakhir yang ku dengar, dia berhenti sekolah.

Sejak saat itu, rasa suka ku ke dia langsung hilang begitu saja. Apa yang bisa diharapkan dari seseorang yang tidak bersekolah ? Dan sama seperti Jafar, kini dia juga hanya lah sahabat SMPku yang paling ku sayang dan dia juga menyayangiku tapi tidak untuk dijadikan teman hidup.
Istilah “Terima apa adanya” tidak ada dalam kamus kehidupanku. Mau makan apa kalau hanya bermodalkan cinta. Cinta tidak dapat membuat kenyang.

Selain mereka berdua, ada lagi kakak kelas ku di Aliyah, namanya Ali. Waktu aku masih kelas satu dan dia kelas tiga, aku sempat ngefans dan suka dengan dia. Bagaimana tidak ? Penampilannya yang keren, suaranya bagus, pintar memainkan alat music, sosok laki-laki idaman hampir semua wanita.

Beruntung sekali orang yang ditaksir olehnya. Dan temanku merupakan salah satu orang yang dia taksir. Tentu saja aku tidak termasuk dalam daftar cewek yang dia taksir. Aku tidak memenuhi criteria standard yang dia tetapkan.

Aku sempat iri dengan temanku itu. Enak sekali bisa di taksir oleh kakak kelas sekeren itu.

Tapi, hampir sama dengan Jafar dan Alim, menjelang saat-saat terkakhir SMAnya dia menjadi agak-agak stress. Entah karena pengaruh apa. Tapi yang ku dengar dari gossip yang beredar, dia mengalami semacam masalah religious. Entah apa maksudnya itu.

Nah, saat itu lah pesona yang dia miliki hilang. Cahaya yang selama ini mengelilinginya kini berubah menjadi gelap. Bahkan setitik cahaya pun tidak ada yang tersisa. Pesonanya benar-benar hilang.

Kini aku berpikir, untunglah aku tidak termasuk dalam daftar cewek yang dia taksir. Pernah ngefans ke dia tidak apa, itu hanyalah kesalahan kecil yang biasa dilakukan oleh remaja labil. Untunglah aku sempat menyadari hal itu.


Jadi, dalam kehidupan ini, ada beberapa orang yang seiring berjalannya waktu, pesonanya bagaikan hilang sedikit demi sedikit di terbangkan oleh angin dan mungkin diberikan ke orang lain yang lebih pantas dan lebih tau bagaimana cara menggunakan dan mensyukuri karunia yang telah diberikan oleh Allah swt.

Senin, 24 November 2014

Seiring Berjalannya Waktu ...

Terkadang, seiring dengan berjalannya waktu, ada beberapa orang dalam hidup kita yang akan menjauh dari kehidupan kita dengan sendirinya.

Factor apa yang mempengaruhi itu tidak ada yang tau. Semua berjalan dengan sendirinya. Mengalir bagaikan air hingga menemukan tempat untuk bermuara.

Terkadang, seiring berjalannya waktu, sahabat terdekat pun akan Nampak seperti orang asing.

Hal-hal yang dulu sering kita lakukan bersama bagaikan debu yang di tiupkan angin. Hilang. Pergi. Tidak meninggalkan bekas sedikit pun.

Terkadang, seiring berjalannya waktu, orang yang jaraknya hanya satu meter dari tempat kita berdiri bisa terasa layaknya dipisahkan oleh sebuah jurang yang sangat dalam.

Tidak ada yang tau. Benar-benar tidak ada yang tau mengapa semua itu bisa terjadi.

Tapi, seiring berjalannya waktu, semuanya bisa terjadi.


Minggu, 23 November 2014

Tes Golongan Darah - Part 2

Karena keanehan yang terjadi pada waktu tes pertama, maka guru biologiku menyuruhku untuk melakukan tes golongan darah untuk yang kedua kalinya.

Oh Tuhan ! Aku tidak sanggup. Itu terlalu sakit. Sudah cukup satu kali saja aku melakukan tes itu. Tidak perlu diulang.

Tapi apa daya. Guruku memaksaku untuk melakukan tes ulang karena ingin memastikan apakah aku benar-benar bergolongan darah AB atau bukan. Sebuah keanehan yang membawa derita buatku.

Tapi untungnya, bukan hanya aku yang harus menjalani tes golongan darah untuk kedua kalinya. Semua siswa yang hasil tes golongan darahnya waktu tes pertama adalah AB harus mengikuti tes golongan darah yang kedua. Total semuanya ada 4 orang.

Alhamdulillah. Aku tidak harus menderita sendiri. Masih ada saudara-saudaraku yang bisa menemaniku berbagi sakit.

Dan akhirnya tes pun dimulai. Entah kenapa, tes yang kedua ini perasaanku lebih takut daripada yang pertama (baca di sini) . Seharusnya aku tenang saja karena aku sudah pernah melakukan ini sebelumnya. Tapi rasa sakit waktu pertama kali melakukan tes itu belum hilang dari pikiranku. Dan tampaknya itu membuatku kali ini lebih takut dari sebelumnya.

*pussssssssssssssssssss* ..... dan untuk kedua kalinya jariku kembali ditusuk. Tapi ada hal yang aneh lagi. Rasa sakit kali ini tidak seperti waktu pertama. Rasanya tidak terlalu sakit seperti waktu pertama.

Rugi deh buang-buang tenaga buat teriak-teriak. Tapi tak apa. Kan itu bisa jadi pengalih rasa sakit.

Hasilnya ?

Eng ing eng. Eeeeeennggg ... !!

Dan ternyataa ....

Tralalalalalalala .....

BUUUUMMMM ... !!

Aku bergolongan darah B pemirsa !! Tidak sia-sia aku melakukan tes yang kedua ini. Karena hasilnya berbeda. Seandainya hasilnya tetap sama, maka rugilah aku harus dua kali ditusuk jarum padahalnya hasilnya tetap sama.

Untunglah. Aku anaknya bapak dan mamaku. 

Kamis, 20 November 2014

Tes Golongan Darah - Part 1

Mungkin hari ini akan menjadi salah satu hari yang bersejarah bagiku. Kenapa ? Karena hari ini untuk pertama kalinya aku melakukan tes golongan darah.

Sebenarnya aku tidak perlu melakukan tes itu. Golongan darahku sudah jelas B. Mustahil golongan darahku bukan B, karena kedua orang tua ku golongan darahnya adalah B. Jika golongan darahku bukan B, dapat darimana golongan darah yang lain ?

Tapi karena ini dihitung sebagai tugas praktek, semua siswa harus melakukan tes golongan darah, karena jika tidak maka tidak akan mendapatkan nilai praktek.

Maka hari ini diawali dengan ketegangan yang memenuhi ruangan kelas. 80% dari teman-temanku merasa tegang dan takut karena harus berhadapan dengan jarum. Dan aku salah satunya. Entah apa alasannya, tapi aku mempunyai ketakutan jika harus berhadapan dengan jarum.

Tapi tidak sembarang jarum. Hanya jarum-jarum tertentu saja. Misalnya seperti jarum-jarum yang harus ditusukkan ke tubuh, dan jarum yang digunakan hari ini termasuk salah satunya.

Tes golongan darah pun dimulai. Henry sebagai ketua kelas maju duluan untuk melakukan tes tersebut. Aku sudah uring-uringan di tempat dudukku berharap aku tidak harus melakukan tes tersebut. Rasa sakit ditusuk jarum sudah merasuki pikiranku. Bayangan rasa sakit itu terus mengangguku.

Tanpa ada ekspresi sakit sedikit pun, Henry menusukkan jarum tersebut ke tangannya. Kurang dari dua menit, Henry pun kembali ke tempat duduknya dengan wajah tersenyum. “Relawan” selanjutnya adalah Kiky. Aduh, Kiky yang badannya lebih kecil dari saya saja berani masa saya takut. Masa saya kalah sama Kiky. Itulah yang ada dalam pikiran saya saat melihat Kiky maju ke depan.

Hampir sama dengan Henry, tapi bedanya Kiky agak meringis kesakitan sedikit. Tapi itu hanya sedikit. Teman satu bangku ku, Inna, membisiku, sesudah Kiky aku yang naik. Badan Inna hampir sama besar dengan Kiky. Masa aku kalah dengan yang kecil-kecil ?

Aku pun mengumpulkan keberanianku, walaupun sebenarnya tidak ada sedikitpun yang terkumpul. Tapi dengan mantap aku ucapkan ke Inna, aku maju sesudah kamu.

Dengan menarik napas yang dalam dan menghilangkan sedikit ketegangan, aku pun maju. Sesakit apa sih di tusuk jarum itu ? Palingan gak terlalu sakit. Buktinya tadi Henry, Kiky, dan Inna tidak terlihat kesakitan. Ayolah. Aku pasti bisa. Jarum kecil segitu.

Dengan percaya diri aku pun maju ke depan meja guru. Sesampai di meja guruku, nyaliku kembali ciut. Belum juga ditusuk jarum, baru mau dikasih alcohol aja tanganku udah gemetaran dan takut setengah mati.

Setelah berjuang dan bertarung dengan diri sendiri, akhirnya aku berhasil mencelupkan tanganku ke larutan alcohol 70%. Setelah itu tangan kiri ku di ambil untuk di tusuk dengan jarum.

Oh Tuhan. Saat itu ketakutan mulai muncul lagi. Bayangan akan rasa sakit kembali muncul. Membuatku teriak-teriak histeris, padahal jarumnya belum di tusukkan. Aku tidak sanggup melihat tanganku sendiri di tusuk.

Dan dalam waktu sepersekian detik .... *puuussss* ...... dan tanganku pun ditusuk dengan jarum yang sangat tajam dan kecil. Rasa sakitnya itu, beuh, tidak bisa dibayangkan.

Itu pertama dan aku harap terakhir kalinya aku melakukan tes golongan darah. Sudah cukup satu kali. Aku tidak mau lagi. Terlalu sakit untuk di ulang. Jika saja sakit hati langsung terasa seperti itu, maka hingga detik ini aku tidak akan mau untuk memulai membuka hati lagi dan memulai kisah cinta yang baru.

Bagaimana tidak. Rasa sakit yang langsung seperti itu dapat menimbulkan trauma yang menciptakan memory yang tidak menyenangkan. Sebenarnya sakit hati juga begitu. Tapi entah kenapa sakit hati tidak menimbulkan trauma bagiku.

Back to topic.

Saatnya melihat hasilnya. Aku tidak ingin tanganku tertusuk sia-sia tanpa ada hasil yang dapat dilihat.

Dan hasilnya adalahhh .........

Eng ing eng .........

Mengejutkan ...... !!!

Entah darimana, tapi ajaibnya .......

AKU BERGOLONGAN DARAH AB.

Loh ? Koq bisa ? Apa ini artinya aku bukan anak orang tuaku ?

Ini tidak mungkin ! Tesnya pasti salah ! Ya, pasti ada kesalahan dalam tes ini !

Jika aku bukan anak orangtuaku terus aku anak siapa ? Mungkinkan aku “Puteri Yang Tertukar”?

OH TIDAAAAAKKK .. !!

Oke cukup. Itu lebay. Tapi itulah yang terjadi saat aku mengetahui golongan darahku. Penyakit alayku yang sudah lama tidak kambuh, akibat tes golongan darah ini, penyakit alayku kembali kambuh.

Tapi bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi ? Guruku bilang, ini bisa saja terjadi jika terjadi persilangan.

Tapi persilangan dari mana ? Bapakku B, Mamaku B, dan aku AB ? Persilangan dari mana ? B silang B ? Bukankah hasilnya seharusnya tetap sama yaitu B ?

Ah, sudahlah ! Tak apa. Bisa saja kan aku jadi kasus yang langka di dunia dan menjadi terkenal karena fenomena ini. Hehehehe.


Templates grátis free