Páginas

Sabtu, 28 Februari 2015

Welcome SixTeenth :)


Alhamdulillah tidak terasa sudah memasuki usia 16 tahun. Terimakasih ya Allah, Engkau telah member hamba nikmat yang sangat luar biasa ini. masih bisa menghirup udara dan berkumpul dengan orang-orang yang ku sayang sampai usia 16 tahun.

Pagi ini merupakan pagi pertamaku di usia 16 tahun dan ini merupakan tulisan pertamaku di usia 16 tahun. Belum ada yang special sih di pagi ini. walaupun dari jauh-jauh hari aku berharap akan terjadi sesuatu yang luar biasa di hari ulang tahun ku yang ke-16, tapi aku tidak terlalu optimis hal itu akan terjadi. Sekali pun tidak terjadi apa-apa, bisa mencapai 16 tahun saja sudah membuatku cukup senang.

Terimakasih atas segala sesuatunya ya Allah.

Rahasiaku Dengan Tuhan


Terkadang ada beberapa hal yang tidak perlu di ceritakan kepada dunia. Cukup kita dan Tuhan saja yang tahu.

Karena mungkin jika diceritakan kepada orang lain, maka kisah itu tidak akan menjadi hal yang special lagi. Bukan lagi menjadi milik kita. Tapi sudah menjadi milik orang banyak. Hal itu sudah menjadi konsumsi public.

Ada banyak kisah dalam hidupku yang telah ku jalani di usiaku yang hampir memasuki 16 tahun beberapa jam lagi.

Ada saatnya aku akan merasa jenuh untuk menulis. Aku merasa bosan untuk berbagi. Bukan karena tidak mau di bagi. Ingin ku bagikan semua kisah itu. Tapi aku tidak menemukan cara yang tepat untuk mengungkapkannya. Aku tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan betapa indahnya kisahnya itu. Kisah itu terlalu indah. Sehingga kisah itu hanya menjadi kenangan dalam memoriku tanpa ada seorang pun yang tau.

Mungkin itu yang di sebut dengan rahasia.

Rahasiaku dengan Tuhan.

Jumat, 27 Februari 2015

Karena Hanya Dirimu, Bodoh

Berbagai cara dan berbagai hal telah ku lakukan untuk mengalihkan pikiran ini darimu. Untuk sekedar melupakan perasaan rindu yang sangat menyesakkan hati ini.

Mulai dari melakukan berbagai kegiatan, mencari kesibukan, melakukan hal yang wajar seperti mengikuti ekskul sampai kepada hal yang tidak wajar seperti mengalihkan perasaanku ke orang lain hanya untuk menyenangkan sejenak hati ini.

Aku bersikap seakan-akan aku menyukai orang lain. Awalnya itu hanya pengalihan saja. Agar aku tidak terlalu stress memikirkan dirimu yang jauh disana.

Tapi lama kelamaan aku malah terjebak perasaanku sendiri dan aku tampaknya suka dengan orang lain.

Aku takut. Aku takut jika keadaannya begini terus aku takut tidak bisa menjaga hatiku untukku.

Tapi, tampaknya itu tidak akan terjadi.

Karena, walaupun aku menyukai orang lain, menemukan orang lain yang dapat ku kagumi, ku pandangi, dan dapat mengalihkan perasaan rinduku, tapi itu semua tidak bertahan lama. Itu hanya terjadi saat aku bersama dengan orang itu. Selebihnya, saat aku sendirian, aku tetap memikirkan kamu.

Memikirkan dirimu yang jauh di sana. Tanpa kabar sedikit pun. Memikirkanmu yang selalu meminta pendapatku tentang suatu hal tapi pada akhirnya kamu hanya mengikuti keinginanmu saja. Lalu untuk apa kamu bertanya pendapatku kalau tidak di dengarkan ? Hanya ingin mendengar pendapatku saja ?

Ah ! Dasar bodoh! Dan lebih bodohnya lagi, aku malah mencintai orang bodoh sepertimu yang jauh di sana. Sedangkan di sini, di dekatku ada orang yang lebih darimu. Lebih pintar, lebih baik, lebih perhatian, dan lebih yang lainnya. Aku menyukainya. Tapi aku tidak tau bagaimana perasaannya terhadapku. Jadi perasaanku terhadapnya berhenti pada level menyukai saja, tidak naik ke level berikutnya.

Beda denganmu Bodoh !! Aku mencintaimu. Aku mencintai kebodohanmu. Aku mencintai kenakalanmu. Aku mencintai apa adanya dirimu. Karena apa adanya dirimu lah yang membuatku ingin mencoba menjalin hubungan denganmu padahal awalnya aku sama sekali tidak mengenalmu.

Waktu terasa berjalan lambat, Kasih.

Tangis tak dapat lagi menenangkan hati ini. Andaikan tangis dapat mengurangi atau mengobati rinduku padamu, maka saat ini aku akan menangis sekencang-kencangnya. Sayangnya itu tidak terjadi. Itu hanya menambah sesak di dada ini.

IBSEC Again

IBSEC again !!

Setelah kemarin pulang dari kegiatan IBSEC dengan hati yang super duper tidak tenang dengan ucapannya Mr. Charming, hari ini aku pulang dengan hati yang cukup bahagia.

Mr. Charming is back and IBSEC not boring anymore !!

Kharismanya kembali dan IBSEC tidak lagi membosankan.

Yang kemarin hanyalah menjadi angin lalu saja. Berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas.

Menit-menit terakhir sebelum pulang menjadi moment yang ku tunggu-tunggu. Karena di waktu itulah aku bisa menjadi ngobrol dengan Mr. Charming dan membahas topic yang tidak di bahas pada waktu pertemuan IBSEC berlangsung.

Tadi juga Mr. Charming mengumumkan siapa yang menjadi President IBSEC.

Dan yang terpilih adalah …….. jreng jreng jreng jreng !!

NURUL ILMA ISLAMIYAH .. !!

Yeayy !! Itu aku !! Itu namaku !!

Ahahahahaha. Bahagia banget. Bahagia bahagia bahagia.

Setelah gagal menjadi ketua OSIS, tidak direstui menjadi ketua PIK-R, dan batal menjadi Kirani, akhirnya aku terpilih menjadi President Of Ibnu Sina English Club.

Hahahaha.

Sensitive Day

Entah kenapa kegiatan IBSEC sore ini membosankan. Gurauan dan ceritan lucu yang dilontarkan oleh Mr. Charming terdengar hambar. Hanya beberapa dari cerita yang tadi dia lontarkan dapat membuatku tertawa. Selebihnya aku hanya tersenyum simpul ikut berpartisipasi. Mendukung cerita lucunya Mr. Charming.

Ada satu kalimat dari Mr. Charming yang mengganggu pikiranku.

“Besok-besok kalau Spending Night tidak ada yang boleh begadang. Saya merasa tersiksa.”

Kalimat itu dikatakan dengan nada yang cukup serius berdasarkan pendengaranku. Dan itu sangat sangat sangat menyinggungku. Karena tentu saja, siapa yang dia maksud dalam kalimat itu kalau bukan aku dan Sukma.

Saat mendengar Mr. Charming mengatakan kalimat itu, entah mengapa aku merasa dia jengkel dan secara tidak langsung mengatakan kalau aku yang menyebabkan dia begadang juga malam itu.

Tapi kan bukan aku yang minta Mr. Charming untuk begadang bersamaku. Dia saja yang langsung datang dan ikut nimbrung dengan kami saat kami sedang asyik-asyiknya bercerita.
Kalimat itu tiba-tiba menghilangkan semangat belajarku sore hari ini.

Kalimat itu menghilangkan rasa kagum dan suka ku kepada Mr. Charming.

Kalimat itu bukan kalimat hinaan, tapi kalimat itu di ucapkan dengan nada yang cukup serius. Aku tidak apa-apa dihina. Bahkan guru olahragaku juga kadang menghinaku. Tapi itu semua tidak masalah selama nada yang digunakan ketika melontarkan hinaan itu berada di antara mi dan sol, eh maksudnya nadanya hanya nada candaan dan tidak diucapkan dengan serius.

Hm, kalimat itu sangat mengganggu pikiranku. Membuatku berpikir kalau Mr. Charming tidak menyukai sifatku dan tidak ingin berteman denganku lagi.

Tapi adik kelasku menanggapinya dengan santai bahkan menanggapinya dengan candaan. Sukma yang malam itu menjadi partner begadangku bareng Mr. Charming pun menanggapinya dengan santai dan tidak menjadikannya beban pikiran sama sekali.

Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja.

Hari ini aku memang sedang sensitive. Nilai ulangan harian yang rendah pun menjadi masalah buatku hari ini, padahal biasanya aku tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal seperti itu. Tahfidz yang ditarik ulur kepastiannya pun menjadi topic pembahasan marah-marahku hari ini.

Ya, mungkin hari ini aku lagi sensitive. 

Fakta Mengejutkan Jum'at Sore

Lagi kuker, bosan, gak tau mau ngapain, aku pun buka FB dan berselancar di dunia maya. Walaupun secara teknis itu bukan facebookku, itu faceboknya bestfriendku yang telah berbaik hati dan bersedia mengizinkanku menggunakan facebooknya.

Di tengah penjelajahan di dunia maya, tiba-tiba di beranda muncul sebuah link yang membuatku tertarik. Aku pun mengklik link itu dan itu langsung membawaku keblog adek kelasku yang isinya lebih bagus daripada punyaku tapi juga lebih lebay. Hahahaha.

Aku pun membaca semua tulisannya yang saat ini masih berjumlah tiga. Blog itu masih tergolong baru. Dia termotivasi bikin blog dari kata-katanya Mr. Charming. Mr. Charming pernah bilang kalau kalian ingin berbagi cerita, daripada curhat gak jelas di media social, mending bikin blog, di situ kalian bisa tulis cerita kalian dan juga bisa di baca oleh orang lain.

Berhubung blog ini sudah lama, jadi itu bukan hal baru lagi buatku.
Setelah membaca tulisannya yang berjumlah 3 biji, aku menemukan hal yang wow, yang amazing, yang apalah-apalah, gak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.

Blognya bisa lahir karena termotivasi oleh Mr. Charming, tentu saja dia akan memberitahukan Mr. Charming kalau dia punya blog. Otomatis Mr. Charming langsung buka blog dia untuk melihat gimana-gimananya gitu. Sebenarnya hal itu gak bakal ada dalam fikiranku kalau aku gak liat komentnya Mr. Charming di blog adek kelasku itu.

Oh MyGOD ! Curhat masalah pribadi di blog dan itu diketahui oleh orang di sekitar kita merupakan hal yang memalukan bagiku. Apalagi kalau orang yang kita curhatkan itu juga membaca tulisan kita tentangnya. Oh NO ! Aku akan sangat malu kalau hal itu sampe terjadi.

Untung saja Mr. Charming tidak tau alamat blogku ini. Hahaha. Blog ini memang sengaja dibuat untuk kepentingan pribadi sih, bukan untuk di bagikan ke banyak orang. Tapi kalau misalnya ada yang nyasar ke blog ini, ya gak apa-apa, Alhamdulillah juga sih. Sejauh ini, guru yang mengetahui aku punya blog adalah Bunda Husnawati, Pak Iskandar, Pak Sukri, Pak Arli, Pak Ibrahim, Ibu Ani, dan mamaku sendiri. Tapi mereka itu orang-orang yang super duper sibuk dan tidak punya waktu untuk buka-buka blog.

Bahkan Bunda pernah bilang, kalau ngurusin blog terus, kerjaan kita yang lain gak bakal selesai, ini mah Cuma buat orang yang gak punya kerjaan.
Jadi aku santai saja berbagi cerita di blogku yang terisolasi dari peradaban ini, wong mereka gak peduli juga.

Tapi, kalau Mr. Charming sampai nyasar ke blog ini, walaupun bukan nama asliku yang terpampang di sini, tapi ada beberapa tulisan, bukan beberapa, hampir semua tulisanku jika di baca seksama, maka bisa mengungkapkan siapa aku sebenarnya. Dan jika Mr. Charming membaca semuanya, maka dia akan tau kalau blog ini punyaku. Sedangkan di blog ini ada empat tulisan atau bahkan lebih yang membahas tentang dia. _-

Selain itu, aku menemukan fakta yang baru ku tau saat ini juga. Ternyata, sang pemilik blog tersebut, adek kelasku itu, suka sama adeknya Mr. Charming. Hm. Sial ! Bertambah deh saingan. Bukan Cuma itu, selain dia, ternyata sahabatnya juga suka sama adeknya Mr. Charming.

Oh, Tuhan. Cobaan macam ini. Sejak kelas satu, ngefans sama kakak yang satu itu, berusaha SKSD, dan akhirnya bisa akrab sama dia gara-gara dua kali pergi olimpiade bareng, akhirnya harus sakit hati karena ternyata dia lebih suka temanku daripada aku. Tapi gak apa-apa. Saat itu perasaanku padanya belum terlalu dalam.

Sekarang aku kembali menyukainya, setiap moment bersamanya selalu bisa membuatku tersenyum. Selalu bisa membuatku melupakan sejenak perasaanku ke orang yang jauh disana.

Aku akui, aku menyukainya, tapi menjadikannya “kakak” sudah cukup membuatku bahagia. Bisa akrab dengannya saja sudah merupakan hal yang membahagiakan.

Tapi sekarang, di saat aku mengetahui adek kelasku juga menyukainya, aku tidak sakit hati sedikitpun, aku hanya kaget. Kenapa masih ada orang yang menyukainya. Cukup aku yang menyukainya. Cukup aku yang mengaguminya. Tidak boleh orang lain. Egois sih memang. Tapi dia itu kakakku.

Entah dia menyukaiku atau tidak, tapi kadang aku mendapatinya sedang menatapku. Dan saat aku menatapnya balik, dia tidak membuang pandangan sama sekali, dia malah tersenyum dan aku pun mengejeknya.

Mr. Charming, Tanya ke adeknya dong, dia suka sama siapa ??

Dua kakak beradik ini mempunya daya tarik yang sama-sama kuat. Dan aku selalu sakit hati setiap melihat orang lain berhasil berfoto dengan dua orang ini sedangkan aku tidak pernah. Tapi aku punya kenangan tersendiri bareng adeknya Mr. Charming yang hanya kami berdua yang punya di sekolah. 

Tidak dimiliki oleh orang lain. Hm, kenangan yang berharga.

Kesimpulannya

Jalani saja apa adanya. Ikuti arus. Kita lihat dimana kisah ini akan bermuara.

Kamis, 26 Februari 2015

Story Of English Spending Night (Closing Season 2)

Well, berhubung udah bikin opening season satu dan dua, dan juga udah bikin closing season satu, maka ceritanya nanggung banget kalau gak diselesaikan. Kan kasian pembacanya kalau cerita yang di baca ternyata tidak memiliki akhir yang jelas. Ya walaupun sebenarnya siapa juga sih yang mau baca pengalaman anak SMA alay yang masih belajar menghadapi kerasnya dunia luar dan masih mencari jati diri.

Pasti bentuk tulisannya gak jauh-jauh dari kepribadian yang si penulis. Misalnya aku, tulisannya rada-rada aneh, lebay, dan lari kesana kemari alias tidak focus.

Oke, kita lanjutkan ceritanya.

Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari dan kami berdua masih asyik mendengarkan Mr. Charming bercerita. Sebenarnya aku sudah was-was, duh jam segini koq aku belum tidur ya, aku harus tidur walaupun Cuma sebentar, tapi gimana cara ngomongnya ke Mr. Charming ya kalau aku sudah ngantuk. Aku gengsi ngomong ke Mr. Charming kalau aku sudah ngantuk, kalau ngantuk kenapa gak tidur dari tadi coba ? Nah kan, kalau gitu ceritanya aku berada di sisi yang salah. 

Akhirnya rasa gengsi ku malam itu mengalahkan rasa ngantukku yang sudah sangat luar biasa beratnya.

Jarum jam terus berputar tapi aku masih belum tidur. Sukma pun belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk dan Mr. Charming masih bersemangat menceritakan pengalaman masa kuliahnya sambil memperlihatkan ke kami foto-foto alay miliknya ketika dia masih belum mengenal peradaban yang sesungguhnya.

Aku menyilangkan tanganku di atas meja lalu kemudian menyandarkan kepalaku di atasnya. Ah, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi.

“Kamu mau tidur di situ ?”

Duh, mau jawab nih ?

“Ah ? Gak koq, Kak. Cuma baring-baring aja. Hehehe.”

Jawabku sekenanya sambil nyengir. Udah ngantuk masih sempat-sempatnya nyengir. Lebih baik begitu daripada harga diriku jatuh dan mendapat ceramah gratis dari Mr. Charming yang pastinya akan mengandung kalimat, “Siapa suruh gak naik daritadi ? Aku kan sudah suruh kalian naik ? Masa kalian mau tidur di situ ?”. Untunglah kalimat itu tidak keluar dari mulut pemilik charisma luar biasa itu.

Aku sudah berada di perbatasan antara sadar dan tidak sadar saat jam menunjukkan pukul 04.00 dini hari. Samar-samar ku dengar suara petikan gitar akustik Uniting Love-nya IBSEC, setelah itu terdengar suara seseorang berjalan menuju pintu dan menutup pintu.

Kemudian semuanya hening. Aku pun tertidur di meja guru.

Benar-benar Hari yang panjang, melelahkan, tapi menyenangkan.

Selasa, 24 Februari 2015

Story Of English Spending Night (Closing Season 1)

Setelah membuat dua tulisan Opening Season 1 dan 2 tentang English Spending Night, sekarang bagian Closing Seasonnya.

Setelah semua agenda hari itu ditutup dengan performance dari myMr. Charming, semua peserta pun pergi ke “kamar” mereka masing-masing. Yang putra bertempat di mushalla sekolah sedangkan yang putri di bagi menjadi dua kelompok. Ada yang tidur di kamar tahfidz dan yang cukup sial harus tidur di UKS. Dan yang lebih sial tidak kebagian tempat sama sekali dan harus mencari tempat yang nyaman sendiri untuk tidur.

Sebagai President IBSEC sekaligus sebagai senior, myMr. Charming menyuruhku untuk mengatur adik-adikku yang manis, lucu, unyu, tapi juga bandel, ngeyel, dan susah di atur.

Aku pun naik ke lantai dua untuk mengecek bagaimana kondisi mereka di atas. Sempitkah atau masih bisa menampung orang lagi, atau jangan-jangan mereka di atas telah melakukan kegiatan memuja hp. 

Dimana setiap orang akan sibuk dengan hpnya masing-masing sambil senyum-senyum melihat layar hp mereka dan membuat mereka tidak memperdulikan kondisi orang lain yang berada di sekitar mereka.

Untunglah waktu aku sampai di atas, keadaan terkendali dan baik-baik saja. Walaupun sudah ada beberapa yang melakukan kegiatan memuja hp.

Aku pun menyuruh mereka untuk mengatur posisi tidur agar tempatnya yang memang sudah sempit dapat digunakan se-efisien mungkin agar dapat menampung orang dalam skala yang cukup banyak.

Dan hasilnya, mereka tampak seperti ikan kering yang di jemur. Berjejer rapi ke samping dan tidak ada ruang gerak sama sekali. Benar-benar rapat. Setelah di atur baik-baik, ternyata ruangan itu masih bisa menampung sekitar satu sampai dua orang.

Aku kembali ke bawah dan memberitaukan myMr. Charming kalau di atas masih bisa muat dua orang. Dia pun menyuruh dua orang untuk naik ke atas. Sayangnya tidak ada yang mau. Aku juga sebenarnya agak munafik sih malam itu. Menyuruh orang lain untuk naik ke atas sementara jika aku yang di suruh tentu saja aku tidak mau karena di atas sudah penuh sesak dan kondisinya tentu saja tidak nyaman.

Karena tidak ada yang mau di suruh naik sedangkan UKS hanya bisa menampung 6 orang dan masih ada 8 orang yang harus di tampung, maka mau tidak mau 2 orang sisanya itu harus mau naik atau kalau tidak harus mencari tempat sendiri untuk tidur.

Aku yang dari awal memang tidak mau naik ke atas malah di suruh oleh myMr. Charming untuk naik ke atas. Aku tidak tau bagaimana cara yang halus untuk menolaknya tapi aku juga tidak ingin mematuhinya.

Aku pun mencari cara agar aku tidak harus naik ke atas. Sukma yang waktu itu ingin menyelesaikan hapalan tiket makan malamnya pun ku jadikan alasan yang tepat untuk mengulur waktu agar tidak harus sesegera mungkin naik ke atas.

“Kalau sudah menghafal langsung naik ke atas ya.”, kataku ke Sukma. Padahal aku tau kalau Sukma juga sebenarya tidak ingin naik.

Setelah dia menghapal, kami pun bercerita ngalor-ngidul. Lebih tepatnya curhat sih sebenarnya. Aku memberitahukan Sukma isi hatiku yang sudah lama membuatku stress dan frustasi sedangkan tidak ada tempat yang cocok untuk berbagi beban hati ini.

Sukma yang memang sudah akrab denganku dan juga orangnya baik, dengan senang hati mendengarkan curhatanku. Aku tidak terlalu berharap dia memberikan saran terhadap apa yang ku hadapi. Aku hanya butuh orang untuk mendengarkan keluh kesahku. Karena dengan begitu aku akan merasa sedikit lebih lega.

Itu juga sebenarnya merupakan sebuah alasan untuk mengulur waktu sekaligus berpikir akan tidur dimana jika tidak kebagian tempat di UKS dan juga tidak mau naik ke kamar tahfidz.

Di saat ceritaku dan Sukma sudah hampir berakhir, myMr. Charming masuk ke kantor dengan gitar di tangannya dan raut wajah yang Nampak galau.

Heran. Sudah beristri koq masih galau. Entahlah. Mungkin dia mengantuk tapi ekspresinya lebih mengarah ke galau.

myMr. Charming duduk di singgasana Wakamad Kurikulum dan menyandarkan kepalanya ke lemari yang berada tepat di samping singgasana itu sambil memetik gitar yang di bawanya. Entah lagu apa yang dimainkannya.

Aku dan Sukma yang melihat pemandangan itu cekikikan sendiri melihat tingkah Pembina IBSEC kami yang biasanya tampak keren sekarang malah tampak seperti remaja alay yang sedang galau memikirkan pacarnya.

“Lagi galau ya Kak? Sudah punya istri koq masih galau ?”, tanyaku berusaha mengajaknya bercanda sekaligus ingin meledeknya. Sayangnya tidak ada tanggapan dari kalimat itu.

“Istri Kakak gak kangen nih sama Kakak?”, ku lontarkan pertanyaan kedua.

Kali ini myMr. Charming merespon. Dia menggeleng. Masih dengan raut wajah khas anak alay baru putus cinta.

Melihat respon yang diberikan, aku dan Sukma pun tertawa.

“Hahaha. Gak di akuin ya Kak sama istrinya ?”

myMr. Charming kembali seperti patung penjaga pantai. Diam dan tidak merespon.

Sejurus kemudian, dia sudah ada di depan kami dan ikut nimbrung dengan kami.

“Lagi ngomongin apa ? Ikutan donk !”, ucapnya sambil mengambil kursi dan duduk didepan kami berdua.

“Masalah anak muda, Kak. Kakak udah tua, jadi gak cocok ikutan ngomong beginian.”

“Eits, jangan salah. Aku masih muda koq. Umurku baru duapuluhlimatahun. Itu hanya status.”

Walaupun dia ngomong gitu, tentu saja aku dan Sukma tidak ingin memberitahukan apa yang baru saja kami bicarakan. Yang kami bicarakan memang masalah remaja alay yang sedang galau masalah cinta. Tapi ini bukan masalah biasa. Soalnya, salah satu tokoh yang menjadi topic pembicaraan kami tadi adalah Little Brother-nya myMr. Charming. Malu banget kalau sampai myMr. Charming tau hal ini. Diam ya. Jangan ngomong-ngomong ke Mr. Charming.

Suasana hening. Tidak ada suara sedikit pun. Tidak dari ku, tidak dari Sukma, bahkan juga tidak dari myMr. Charming. Jam dinding memang sudah menunjukkan waktu larut. Dimana semua orang tengah asyik dengan mimpi mereka masing-masing. Hanya kami bertigalah yang masih terjaga malam itu.

Suara dentingan gitar Mr. Charming terdengar. Dia berusaha memecah keheningan.

Tiba-tiba myMr. Charming angkat bicara.

“Aku punya sulap.”, katanya tiba-tiba. Sebagai maniak sulap dan tidak pernah menyaksikan sulap secara langsung, mendengar ketiga kata tersebut tentu saja langsung membuat kami semangat.

“Gimana ? Gimana ?”, aku dan Sukma bersemangat ingin menyaksikan pertunjukan sulap langsung dan gratis di tengah malam yang panas itu.

“Rapatkan jari tengah dan jari telunjuk kalian.”

Kami pun melakukan apa yang diperintahkan oleh myMr. Charming

“Lalu dekatkan kedua tangan kalian. Rapatkan seperti ini.”

myMr. Charming memberi contoh apa yang harus kami lakukan.

“Saya akan membuat gelas ini melayang di atas tangan kalian.”

Kemudian myMr. Charming mengambil dua gelas yang masing-masing berisi setengah kemudian meletakkannya di atas tangan kami berdua.

“Angkat tangan kalian pelan-pelan.”

Perintah myMr. Charming. Kami pun mengangkat tangan kami pelan-pelan.

“Oke Sip. Berhenti. Sekarang gelas itu melayang di atas tangan kalian.”

Aku dan Sukma pun saling bertatapan, heran.

“Udah ? Segini aja ? Udah selesai ?”

“Iya.”, jawab myMr. Charming dengan santai dan tanpa ekspresi berdosa sama sekali. Kemudian dia kembali memetik gitarnya.

Cuma segitu doank ? Udah selesai ? Terus sulapnya dimana ? Magicnya dimana ? Spektakulernya dimana ?

Mau liat sulap gratis sekaligus langsung malah kena tipu. Andaikan waktu itu bukan tengah malam, mungkin myMr. Charming sudah kena serangan sandal terbang. Melihat wajah kami yang kebingungan, myMr. Charming malah tertawa. Huft !! Sialan.

Puas menertawai kami, dia pun menceritakan dimana dia mempelajari “sulap” laknat itu dan bagaimana saat dia mempraktekan “sulap” itu ke teman-teman kuliahnya. Kisahnya berakhir mengenaskan. myMr. Charming dimusuhi oleh “korban”nya selama satu minggu, mereka jengkel karena di permalukan oleh myMr. Charming direstoran.

Malam itu merupakan flashback buat myMr. Charming. Kami ngobrol ngalor ngidul, walaupun lebih banyak myMr. Charming yang cerita, aku dan Sukma hanya menjadi pendengar, sesekali merespon dan ikut tertawa jika yang diceritakannya merupakan hal yang lucu.

Satu lagi bestmoment dalam hidupku.

Menghabiskan malam with Sukma and Mr. Charming ditemani teh hangat dan dentingan gitar akustiknya myMr. Charming.

Jumat, 20 Februari 2015

Story Of English Spending Night (Opening Season 2)

Acaranya sih sebenarnya Cuma satu malam. Tapi karena ini English Spending Night perdanaku, maka kegiatan ini menjadi sangat berkesan dan setiap kisah yang ada di dalamnya menjadi hal yang sangat patut untuk di ceritakan agar suatu saat nanti bisa diceritakan kembali.

Mungkin kisah ini akan terlihat membosankan. Ya tentu saja. Aku masih belum bisa menulis kisah yang menarik dan tidak membosankan ketika di baca. Masih dalam proses pembelajaran. Jadi, kalau kalian bosan membaca kisah ini, silahkan skip saja atau berhenti membaca.

Yup. Demikian lah prolog untuk tulisan kita yang satu ini. Terkesan gimanaaa gitu. Wkwkwkwk.

Oke. Kita lanjut cerita kita sebelumnya.

Seperti yang telah ku katakan sebelumnya, materi selanjutnya dalam agenda kita malam itu adalah Warming Up a.k.a Pemberian Motivasi, Grammar, dan Tenses.

myBeloved HeadMaster pun masuk ke ruangan dan memberikan petuah-petuah yang setelah satu tahun belakangan ini ku perhatikan tampaknya dia memang berbakat dalam hal memberikan motivasi. Hm, kalau begini terus dia bisa menjadi Mario Teguh versi MAN Bontoharu nih kayaknya.

Tapi bedanya, kalau usdtadzku ini, setiap kali memberi motivasi selalu membawanya ke masalah agama dan selalu mengaitkannya dengan dalil dalil tertentu. Sedangkan kalau Mario Teguh memberi motivasi berdasarkan pengetahuan umum. Ya begitulah kurang lebih.

Warming Up hanya berlangsung kurang lebih 15-30 menit. Hanya sebentar. Itu termasuk cepat kalau kategori HeadMaster-ku, karena biasanya dia menghabiskan waktu yang lama hanya untuk memberi petuah dan motivasi. Kalau dia yang jadi Pembina upacara, maka upacara menjadi moment yang sangat menyiksa dan menjengkelkan. Pegal seluruh badan. Syukur kalau petuahnya ada yang masuk, nah kalo gak, kan rugi sendiri.

Setelah itu Tenses. Yang di bawakan oleh jreng jreng jreng jreng jreng jreng, Mr. Awal Ma’ruf. Yeay!!

Dia memulai performnya pada malam itu dengan kalimat yang dapat membuat siapa saja langsung semangat dan ingin tau bagaimana caranya.

“Saya akan mengajari dan memberitahu kalian cara menghapal Tenses hanya dalam waktu 10 menit.”
Bagi saya, Tenses adalah salah satu cabang pelajaran Bahasa Inggris yang susah untuk di pahami karena dalam penggunaannya ada beberapa rumus yang harus digunakan dan aku sama sekali tidak mengerti dengan rumus-rumus itu.

Mendengar ucapan Mr. Charming, aku tentu saja langsung bersemangat untuk belajar Tenses. Kapan lagi bisa belajar menghapal Tenses dalam watktu 10 menit kalau bukan sekarang.

Aku pun serius memperhatikan setiap kata yang di ucapkan oleh Mr. Charming. Aku berusaha untuk mengingat dan mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Mr. Charming. Dan hasilnya ?

Gagal Total Pemirsa !! Aku tetap tidak bisa menghapal Tenses dalam waktu 10 menit. Bukannya dapat metode baru dalam belajar Tenses aku malah tambah bingung dan pusing dengan materi yang satu ini. Walaupun pada akhirnya, melalui proses berpikir yang lumayan rumit dan ku hubungkan dengan rumus matematika, aku mengerti dasar penggunaan rumus dalam Tenses.

Setelah belajar Tenses, di lanjutkan dengan materi Grammar. Dari dulu ke dulu, aku tidak pernah tau Grammar itu yang bagaimana. Aku kira malam itu akan menjadi pertama kalinya aku belajar Grammar. Ternyata aku salah. Sebelumnya aku sudah pernah belajar Grammar, walaupun hanya dalam skala kecilnya saja, yaitu Frase.

Dan yang mengajarkanku tentang Frase itu adalah Mr. Idhar juga. Ya elah. Kirain Grammar itu yang kayak gimana. Ternyata yang gitu-gitu to. Hm, gak jadi berkesan belajar Grammarnya. Malah hanya mengulang kembali pelajaran yang sebelumnya sudah pernah ku pelajari.

Akhirnya semua rangkaian acara malam itu telah selesai. Mr. Idhar dan myMr. Charming sudah selesai membawakan materi mereka masing-masing. Aku sebenarnya masih kurang paham dengan apa yang dijelaskan Mr. Charming, tapi aku yakin, seiring dengan berjalannya waktu, aku akan menemukan caraku sendiri untuk dapat memahami 16 Tenses.

Dan akhirnya sampailah kita pada acara terkhir. Entertainment. Hiburan. Nyanyi-Nyanyi. Wkwkwkwk. Favorite semua orang nih kayaknya. Termasuk sayaaa!!

Sejak kenal dengan Mr. Charming, salah satu moment favorite itu adalah liat Mr. Charming nyanyi sambil main alat music dilengkapi dengan penghayatan yang dalam. Apalagi kalau alat musik yang dipakai itu gitar. Beuh !! Kerennya udah gak bisa dilukiskan dengan kata-kata lagi.

Kalau Mr. Charming nyanyi tuh, di sekitarnya kayak ada cahaya yang bikin dia kelihatan makin keren, makin kalem, dan makin menarik. Untung dia udah nikah, kalau nggak kan bisa jadi korban cinta bertepuk sebelah tangan lagi kita. _- Walaupun gak mungkin sih aku berharap banget bisa pacaran sama dia, dia kan guru. Rasanya itu kayak gimana gitu kalau pacaran sama guru.

OkNext.

Maka jadilah malam itu di tutup dengan menyanyikan beberapa lagu secara random bahkan hanya dua tiga lagu yang dinyanyikan sampai selesai. Selebihnya tidak pernah selesai secara maksimal. Hanya dinyayikan setengah-setengah, atau kalau tidak Cuma bagian reffnya saja yang dinyanyikan. Ya namanya juga nyanyinya Random. Maka begitulah jadinya. Hahaha.

Tapi di antara semua lagu yang malam itu dinyanyikan oleh Mr. Charming ada beberapa lagu yang entah kenapa lagu itu menjadi berkesan sejak malam itu, padahal sebelumnya lagu itu biasa-biasa saja.

Yang pertama Endless Love yang sebelum malam itu aku tidak pernah tau kalau ada lagu yang seperti itu. Yang membuat lagu itu menjadi berkesan karena Mr. Charming menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan, bahkan setelah acara selesai, saat kami sedang duduk-duduk bersama ber-Spending Night, menghabiskan malam a.k.a begadang, dia juga sempat memainkan lagu Endless Love itu versi accousticnya. Tampaknya Mr. Charming sangat menyukai lagu itu. Hal itu membuatku ingin menghafalkan lagu itu supaya besok-besok aku bisa duet bareng Mr. Charming untuk menyanyikan lagu itu. Duet bareng Mr. Charming itu best moment buatku. Jadi aku mau banget duet dengan Mr. Charming menyanyikan lagu Endless Love.

Yang kedua Lagu Rindu-nya Kerispatih. Sebelumnya lagu itu biasa saja. Tidak punya kesan apa pun. Lagu itu memang bagus dan aku menyukainya. Tapi hanya sekedar itu saja. Malam itu, lagu itu menjadi berkesan. Kenapa ? Entah. Aku juga tidak tau.

Mr. Charming memainkan chord gitar lagu itu dan aku secara tidak sadar sambil memainkan hp adeknya Mr. Charming yang juga merupakan kakak kelasku ikut menyanyikan lagu itu. Dia pun melihat ke arahku yang waktu itu tepat berada di sampingnya. Aku memang suka berada di sampingnya, tidak tau alasannya apa, suka aja, suka dekat-dekat sama Mr. Charming, semuanya seakan menyenangkan kalau berada di dekatnya, seakan tidak ada masalah. Makanya aku suka dekat-dekat dengan dia. Karena dia selalu bisa bikin orang ketawa dan punya banyak cerita yang lucu dan menyenangkan.

“Tau lagu ini ?”, tanyanya. “Iya”, jawabku.

“Oke, kalau gitu kita nyanyi lagu ini.”

Tanpa menunggu persetujuan dariku, dia langsung memetik gitar dan memainkan chord gitar lagu itu. Dia pun menyanyi. Suaranya itu loh, keren abiiizzz !! Aku pun ikut menyanyi, tapi hanya asal-asalan karena aku masih sibuk memainkan hp milik adeknya Mr. Charming.

Tanpa ku sadari dia berhenti menyanyi dan membiarkanku menyanyikan sendiri bagian terakhir bait entah bait yang keberapa.

Kita kembali ke pertanyaan awal. Kenapa lagu ini bisa menjadi berkesan ? Karena sebelumnya Mr. Charming pernah bilang kalau suara itu cempreng, dia tidak pernah bilang secara langsung kalau suaraku tidak bagus, tapi aku cukup tau diri, suaraku memang tidak bagus. Makanya aku tidak pernah PeDe kalau di suruh menyanyi. Kecuali kalau aku sendiri yang mau menyanyi, itu tidak masalah. Bahkan aku sangat PeDe.

Dan malam itu Mr. Charming malah menyuruhku menyanyi dan membiarkanku menyelesaikan sendiri bagian bait yang itu. Entah mengapa dia melakukan itu. Padahal dia sendiri yang bilang kalau aku menyanyi suaraku menjadi cempreng. Mungkin dia lagi labil.

Tapi tak apalah. Aku cukup bangga karena Mr. Charming mengajakku duet bareng dengannya dan membiarkanku menyelesaikan beberapa bait lagu sendirian. Itulah mengapa lagu itu menjadi berkesan.

Sejak malam itu aku bertekad untuk mempelajari kembali lagu itu agar besok-besok aku bisa duet lagi bareng myMr. Charming.

Selain itu, ketika menyanyikan lagu itu, aku tiba-tiba teringat dengan seseorang yang jauh di sana yang saat ini tidak diketahui kabarnya. Dan lagu itu sangat sangat sangat cocok menggambarkan suasana hatiku yang memang lagi rindu berat dengan dia. Ya iyalah, judulnya aja Lagu Rindu, pasti cocoklah untuk orang yang lagi Rindu sama seseorang.

Pertemuan malam itu di tutup dengan lagu terakhir persembahan sekaligus ciptaan Mr. Charming waktu dia masih sekolah di MAN Bontoharu yang menjadi lagu ketiga yang berkesan pada malam English Spending Night. Sayangnya aku tidak tau judul lagunya apa.

Oke, segini dulu cerita kita. Sebenarnya masih ada sambungannya, tapi karena aku udah capek dan udah ngantuk jadi sambungan ceritanya besok aja yaa.

Bye.


Story Of English Spending Night (Opening Season 1)

English spending night is a good event, a good chance to study and to know English more.
Kurang lebih seperti itulah salah satu kalimat yang ku ucapkan saat membawakan Welcome Speech dalam acara pembukaan “English Spending Night”. Pembukaan acara sekaligus Welcome Speech pertama dan Spending Night pertamaku. Satu lagi moment bersejarah dalam hidupku.

Kemarin sore adalah acara pembukaan English Spending Night, Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Dengan senyuman dan hasil latihan selama lima menit bareng Pembina Ibnu Sina English Club (IBSEC) yang sama sekali tidak ganteng, tapi keren maksimal dan mempunyai charisma yang kuat, dan punya daya tarik luar biasa yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, kakak Awal Ma’ruf. Atau yang ku panggil kakak Awal.

Aku sebenarnya punya julukan buat kakak Awal. The Charming Men. Kenapa Men ? Kenapa bukan boy ? Karena dia bukan lagi anak laki-laki. Dia sudah berkeluarga dengan dua bidadari kecil yang melengkapi keluarga kecilnya. Jadi dia merupakan pria dewasa. Makanya pake Men.

Alhamdulillah acara pembukaannya berjalan dengan lancar. Tidak ada sedikit pun hambatan. Walaupun yang jadi MC Bhs. Inggris sempat salah sedikit, tapi itu tidak menjadi masalah.
Ini adalah kegiatan English Spending Night pertama yang ku ikuti.

Awalnya aku merasa kegiatan ini akan berjalan membosankan karena tidak ada satu pun dari teman dekatku yang mengikuti acara ini. Aku sudah menyiapkan rencana, jika nanti aku merasa bosan dan tidak punya teman untuk ngobrol aku akan pergi ke kak Awal dan ngobrol sama dia. Pasti kak Awal akan bersedia menemaniku walaupun itu terpaksa.

Materi pertama Englih Spending Night adalah Vocabulary. Di materi Vocabulary ini kami di ajarkan bagaimana cara untuk dapat menghafal banyak vocabulary atau kosa kata dalam Bahasa Inggris dengan cepat.

Aku pun bergabung dengan kelompok anak kelas satu yang memang sudah lumayan akrab denganku karena kami sama-sama anak tahfidz. Daripada aku terisolir dan tampak seperti orang bodoh karena tidak punya teman, mau tidak mau aku harus bergabung dengan mereka. Walaupun kehadiranku nampaknya tidak terlalu di perdulikan. Aku hanya di jadikan sebagai tempat bertanya. Selebihnya, tidak ada. Dan juga tidak ada satu pun dari bahan obrolan mereka yang aku pahami, jadi aku tidak bisa ikut nimbrung. Jadilah aku sebagai senior di antara adik-adikku.

Kalau ceritanya kayak gini, rasanya mau kembali jadi kelas satu. Dimana aku bukanlah seorang senior yang punya tanggung jawab mengawasi adik-adikku, melainkan seorang junior yang harus di awasi dan tidak punya tanggung jawab apa-apa.

Sehabis shalat Maghrib kami di suruh menghafalkan 40 kosa kata sebagai tiket untuk makan malam. Kalau tidak, maka kami tidak akan mendapat jatah makan malam. Aku yang baru 4 kali datang di kegiatan IBSEC tentu saja tidak punya persiapan seperti apa yang telah di siapkan oleh para juniorku.
Aku pun mengambil jalan pintas. Aku menulis 40 kosa kata berdasarkan apa yang telah ku ketahui sebelumnya. Jadi aku tidak perlu lagi mulai dari nol untuk menghafal 40 kosa kata. Dengan begitu aku tidak butuh waktu lama untuk menghafal 40 kosa kataku.

Tidak butuh waktu lama untuk mencari 40 kosa kata. Setelah selesai, aku pun langsung menghadapkan hafalanku ke Mr. Charming. Untungnya dia tidak menyuruhku untuk mengulang kembali apa yang telah aku tulis, karena tentu saja aku tidak akan bisa mengingat dengan baik apa-apa saja yang telah aku tulis di situ. Dia hanya bertanya dalam Bahasa Inggris dan aku menjawab Bahasa Indonesianya. Tapi itu berdasarkan apa yang aku tulis.

Dan jadilah aku yang pertama menyelesaikan hapalan 40 kosa kata untuk tiket makan malam. Hahahah #evillaugh.

“So, what must I do now ?”, tanyaku ke Mr. Charming setelah aku menyelesaikan hapalanku, aku tidak tau apakah kalimatku itu sudah benar atau tidak, yang penting aku tidak menggunakan Bahasa Indonesia, karena ada aturannya, selama kegiatan English Spending Night berlangsung para peserta tidak boleh menggunakan bahasa lain selain Bahasa Inggris.

“Sit here and take conversation with me.”, jawabnya. Haha. Rasanya senang banget. Di suruh duduk di sampingnya Mr. Charming !! Rasanya kayak pengen terbang. Gimana gak coba ? Dia nyuruh aku duduk di sampingnya dan menyuruhku bercakap-cakap dengannya. Bangganya tuh maksimal dewa banget. Aku ngerasa jadi orang kepercayaannya Mr. Charming. Karena tidak setiap siswa bisa mendapat kehormatan dipanggil oleh Mr. Charming untuk bercakap-cakap dengannya. Hehehe #evilsmile.

Lebih dari itu, aku juga di beri kepercayaan untuk membantunya mengecek hapalan para peserta English Spending Night. Setiap yang sudah menghapal, bukunya harus di beri tanda ACC untuk menandakan kalau dia sudah menghafal. Kalau guru yang lain ibaratnya Cuma ngasih kita kepercayaan untuk memeriksa hasil pekerjaan siswa, tapi tidak untuk member nilai. Kalau Mr. Charming lain. Dia mengizikanku untuk memberi tanda ACC di buku peserta yang menghadapkan hapalannya ke aku. Tambah berasa jadi orang kepercayaannya Mr. Charming. #banggamaksimalmodeon.

Kemudian kegiatan di lanjutkan dengan Evening Prayer Together atau Shalat Isya Berjamaah.
Sehabis shalat Isya, kegiatan di lanjutkan di ruang kelas. Materi selanjutnya adalah Warming Up, Grammar, dan Tenses. Ini dia yang aku tunggu-tunggu. Bukan Warming Up-nya yang aku tunggu, karena aku tidak tau sama sekali apa itu Warming Up. Yang aku tunggu itu Grammar dan Tenses.

Kenapa ? Karena pembawa materi kedua materi itu adalah orang teraneh, tergokil, tapi juga terbaik, terkeren, dan terperhatian yang pernah ku kenal dan ku temui. Mereka adalah guru Speaking ku yaitu Mr. Idhar dan myMr. Charming, Mr. Awal. Kalau dua orang itu yang membawakan materi, sampai jam berapa pun aku sanggup. Karena kita tidak akan mengantuk kalau di ajar oleh dua orang hebat itu. Mereka selalu punya joke-joke super lucu dan cara yang tidak disangka-sangka untuk membuat kami tertawa.

Malam itu aku baru tau kalau ternyata Warming Up itu seperti pemberian motivasi. Atau dengan kata lainnya pemanasan otak. Jadi otak kita di panaskan agar semangat untuk belajar. Pembawa materinya adalah myBeloved HeadMaster, Mr. Sofanul Hidayatullah, S.Pd.I, M.Ag. (maaf pak kalau gelarnya salah).

Untungnya Warming Up-nya Cuma sebentar. Walaupun sebenarnya aku suka mendengarkan petuah-petuah dan motivasi-motivasi yang diberikan oleh myBeloved HeadMaster, but for toningt, tapi untuk malam ini aku minta maaf karena aku tidak terlalu bersemangat untuk mendengarkan petuah Anda karena aku ingin segera memulai belajar Bahasa Inggris yang materi dan cara belajarnya jarang kita dapatkan dalam proses pembelajaran formal di sekolah.

Senin, 16 Februari 2015

Sejarah Pelajaran Sejarah

Seperti yang sebelumnya aku pernah bilang, sejak kelas satu sampai kelas dua semester satu aku tidak pernah sekali pun ulangan harian sejarah. Tapi karena kedatangan guru baru yang tampil bak ustadz muda dan datang tanpa kulonuwun sedikit pun, aku dan teman sekelasku mau tidak mau harus ulangan sejarah untuk pertama kalinya selama kami belajar pelajaran sejarah.

Dan ini menjadi sejarah dalam hidupku. ULANGAN HARIAN SEJARAH UNTUK PERTAMA KALINYA.

Malamnya, aku membuka catatan sejarahku yang sebanyak lima lembar hasil merangkum satu bab. Aku lebih memilih membaca buku catatanku daripada membaca buku paket yang tebalnya dua kali tebalnya catatanku. Akhirnya dengan malas-malasan aku pun membaca hasil rangkumanku tersebut.

Tapi, aku membaca catatan sejarah bukan untuk belajar. Tapi untuk mencari bahan yang tepat untuk di dongenkan besok. Sejarah itu kan tentang masa lalu. Berarti kita bercerita dong. Bahasa lainnya bercerita kan berdongeng. Maka jadilah aku dan teman-temanku malamnya membuat kesepakatan kalau besok, ulangan harian sejarah, kami akan mendongeng. Mengarang bebas. Nah, di saat-saat seperti inilah keahlian dalam hal tulis menulis dan karang mengarang di butuhkan.

Sayangnya, dongenganku tidak berjalan lancar. Bahan yang ku baca semalam tidak ada sedikitpun yang tinggal sehingga bahan dongenganku pun tidak ada. Belum lagi posisi duduk yang di atur sedemikian rupa hingga aku tidak punya tempat dan teman untuk meminta jawaban.

Bukan hanya itu, orang yang duduk di depanku adalah sukri, murid paling menyebalkan, paling menjengkelkan, paling jahil, sering mengganggu dan merupakan partner bertengkarku. Sebenarnya tidak masalah siapa pun yang duduk di depanku. Aku malah bersyukur kalau bisa dekatan duduk dengan sukri, Karena dia termasuk pintar dan setiap ulangan selalu punya jawaban dan cara yang benar untuk menyontek. Jadi kalau dekat dengan dia tuh, nilai ulangan kita dijamin tuntas. Kecuali kalau dia memang lagi blank dan tidak punya persiapan apapun.

Sudah satu bulan aku tidak pernah ngomong dengan sukri karena ada suatu insiden yang terjadi waktu mauled di sekolahku.

Gengsi sih harus minta jawaban ke dia. Tapi mau minta kemana lagi sedangkan yang terdekat dan yang paling bisa member jawaban itu sukri. Maka dengan mengesampingkan gengsi, aku pun menggoyangkan kursi yang diduduki oleh sukri agar dia menoleh ke belakang. Awalnya dia tidak mau menoleh. Ah, sudah kepalang basah, pikirku. Lebih baik ku lanjutkan. Ku goyangkan lagi kursi tersebut sampai beberapa kali. Dia pun menoleh. Lebih tetapnya menatap sinis. Ish, ini anak koq gak peka banget sih. Aku tuh lagi cari jawaban. Bukan cari masalah.

Maka dengan suasana yang sangat mencekan dan menegangkan seperti saat itu, di tambah dengan pengawas yang bisa ada dimana saja tanpa diketahui pergerakannya dan bisa melihat apa saja yang kita lakukan dimana pun kita berada, aku terpaksa harus mengesampingkan semua hal yang selama ini sanggup menahan diriku untuk tidak sekali pun menjalin komunikasi dengan sukri. Aku kesampingkan semua ego, gengsi, bahkan malu pun ku singkirkan. Ya, aku malu untuk minta jawaban padanya padahal selama ini aku memusuhinya dan belum pernah sekalipun aku minta maaf selama satu bulan kami bermusuhan.

Sukri masih belum mau memberiku jawaban. Aku pun menatapnya dengan berbagai ekspresi. Mulai dari senyum pertemanan, wajah cemberut, wajah memelas, bahkan wajah marah pun sempat ku keluarkan. Ada yang bilang kalau sukri kemungkinan suka kepadaku karena dia sering menggangguku. Walaupun kemungkinannya kecil, aku berharap kemungkinan itu ada. Bukan karena aku juga menyukainya. Tapi aku harap, jika dia menyukaiku, maka pasti ada salah satu dari ekspresi-ekspresi yang ku keluarkan tadi dapat meluluhkan hatinya dan mau memberiku jawaban.

Entah memang dia benar menyukaiku, entah apa ada salah satu ekspresiku yang meluluhkan hatinya, entah dia terganggu, atau ada factor lain, aku tidak tau. Tapi setelah beberapa saat aku mengganggunya, dia pun mengeluarkan kata-kata sakti yang membuatku sangat bahagia hingga bisa terbang ke langit seandainya tidak guru pada saat itu.

“Nomor berapa ?”, kata sukri sambil menoleh ke arahku.

Oh Tuhan ! Terimakasih. Terimakasih Engkau telah meluluhkan hatinya sukri agar mau berbagi jawaban denganku. Aha ! Senang banget. Kayak dapat durian runtuh. Tapi aku penasaran, kenapa ya sukri mau memberiku jawaban ?

Pelajarah Sejarah hari itu telah terjadi dua peristiwa Sejarah. Pertama, aku ulangan sejarah untuk pertama kalinya. Kedua, untuk pertama kalinya aku mengajak bicara sukri setelah satu bulan kami bermusuhan.

Hahahah. Sejarah Pelajaran Sejarah.

Sejarah Guru Sejarahku

Ulangan harian sejarah pertama selama aku belajar sejarah. Sejak kelas satu sampai kelas dua semester dua baru kali ini aku ulangan harian sejarah. Secara, guru yang dulu gak pernah sekali pun menjelaskan. Walaupun dia menjelaskan, itu tidak masuk hitungan. Kalau dia masuk, palingan Cuma ngasih tugas terus udah, gitu aja.

Emang sih gak enak. Karena kita gak tau apa-apa. Serasa kayak belajar sendiri. Mending kalau tugasnya di periksa. Ini mah gak ! Palingan kalau akhir semester disuruh kumpulin. Itu pun juga gak di periksa. Mana gurunya jarang masuk lagi.

Sudah berkali-kali aku dan teman sekelasku menyampaikan ketidaknyamanan dalam hal belajar sejarah ini ke beberapa guru. Mulai dari guru mata pelajaran, wali kelas, sampai ke wamakad kurikulum yang sekarang menjabat sebagai kepala madrasah sementara.

Sudah berkali-kali. Dan itu tidak pernah sekalipun mendapat tanggapan.

Hingga, pada suatu hari, ketika Negara api mulai menyerang, pelajaran sejarah yang awalnya memang kurang menarik minat dan perhatianku, malah makin menjadi semakin tidak menarik bahkan menjengkelkan.

Guru baru masuk tanpa kulonuwun sama sekali. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya dia masuk ke kelas kami begitu saja dengan santainya tanpa merasa berdosa sama sekali. Wajahnya terlihat santai. 

Padahal wajah murid-murid yang ada dalam ruangan itu sudah menunjukkan keheranan yang maksimal di wajahnya mengapa guru sejarah kami bisa bertansformasi dari seseorang yang berwajah menarik dan berpostur tinggi bak pemain basket menjadi seorang ustadz muda yang berpenampilan kurang menarik walaupun wajahnya sebenarnya menarik, di tambah lagi dengan postur tubuhnya yang mungkin lebih tinggi aku daripada dia.

Aku sebenarnya sudah mengenalnya dan sudah pernah bertemu dengannya karena dia merupakan pembinaku di tahfidz dan merupakan salah satu pembina yang baik walaupun kadang menjengkelkan kalau sudah mulai bicara masalah hafalan. Cerewetnya tuh gak ketulungan. Atau kalau orang Selayar bilang, “ngenge”nya tuh minta ampun.

Gak boleh gini lah. Gak boleh gitu lah. Tajwidnya harus benar. Gak boleh main-main sebelum nyetor hafalan. Gak boleh main hp kalau lagi ada materi. Gak boleh lanjut hafal ke surah lain kalau hafalan di surah sebelumnya belum lancar. Gak boleh mengganggu sesama santri tahfidz. Yang putri gak boleh ke tempat putra dan yang putra gak boleh ke tempat putri. Ya ampun, tad. Aturannya banyak banget.

Tapi itu hanya di tahfidz. Walaupun aturannya banyak, dia bukan orang yang galak, bukan orang yang gampang marah, dan juga bukan orang yang gampang berbicara kasar, dia Cuma “menjengkelkan”. Jadi kami tetap bisa main dan bercanda bareng dia. Kalau orang Selayar bilang “masih bisa ji di pacai’ pacai’“. Dia juga kadang bisa baik. Entah pakai uang pribadi atau memang itu dana dari sekolah untuk tahfidz, sebelum tidur dia selalu membelikan kami gorengan. Hahaha. Makan gorengan waktu tahfidz itu merupakan sebuah kemewahan. Gorengan itukan anugrah. AnuGrahtis.

Tapi aku tidak pernah membayangkan dia akan menjadi guru sejarahku. Saat menjadi guru, dia seperti punya kekuatan super yang bisa meningkatkan kadar “menjengkelkan”nya menjadi menjengkelkan kudrat. Iya, dia malah semakin menjengkelkan.

Iya sih dulu kami pernah mengeluh karena guru sejarah kami tidak pernah menjelaskan dan kami meminta supaya guru tersebut bisa di ganti. Eh, sekalinya dapat guru yang menjelaskan malah dapat guru yang kayak gini. Saking semangatnya menjelaskan, walaupun bel pergantian jam pelajaran sudah bunyi, dia masih tetap menjelaskan dengan semangatnya dan tanpa merasa bersalah sedikit pun. Pelajaran sejarah yang hanya 45 menit, seketika berubah menjadi 60 menit. Guru yang mengajar pelajaran selanjutnya pun terpaksa harus menunggu dan terlambat masuk karena “korupsi waktu” yang di lakukan oleh ustadz muda ini.

Minggu, 15 Februari 2015

(Cerpen) Pria Masa Lalu

Aku duduk di sudut kelas sambil menulis di buku diary berwarna hijau ku yang sudah satu tahun ku miliki tapi sampai saat ini belum habis ku tulisi. Empat kipas angin yang bertengger rapi di setiap sudut kelas menderu halus mendinginkan suasana kelas yang siang itu terasa seperti di sauna.

Keriuhan akibat jam kosong mengganggu konsentrasi menulisku. Makhluk aneh, unik bin ajaib penghuni laboratorium bahasa yang di sulap menjadi ruang kelas XI IPA melakukan sederet parade aneh yang dapat menarik perhatian ataupun mengusik kenyamanan siapa saja yang berada di ruangan itu.

Aku menghentikan kegiatan menulisku. Memperhatikan tingakah laku konyol teman sekelasku. Hal aneh apa lagi yang akan dilakukan oleh pelawak sekaligus penyanyi dadakan kelas XI IPA kali ini. Bahtiar dan hasbir yang hoby menyukai seni menampilkan kesukaan mereka dengan berduet bersama menyanyikan lagu yang entah judulnya apa.

Lagu yang awalnya bagus menjadi hancur dinyanyikan oleh mereka berdua. Bahtiar bernyanyi dengan penghayatan setengah-setengah di tambah dengan logat sok kebule-bulean yang beberapa minggu terakhir ini menjangkiti dirinya. Belum lagi suara bahtiar yang pecah khas suara remaja yang baru mengalami pubertas, membuat telinga sakit saat dia menyanyikan nada tinggi. Lagu itu menjadi lagu dangdut berlogat bule teraneh yang pernah ku dengar. Di tambah lagi hasbir yang tidak mau kalah dengan bahtiar mengeluarkan suara emasnya yang dapat mencapai nada tinggi walaupun kadang nadanya ketinggian.

Mereka berduet dan menimbulkan kehebohan di kelas. Beberapa kawan yang merasa terganggu dengan lengkingan dua makhluk tersebut kadang menegur. Tapi telinga mereka berdua bagaikan telingan gajah yang tebal dan keras sehingga mereka seakan tidak mendengar rintihah teman sekelas yang sudah ingin melompat dari jendela kelas berlantai dua tersebut saking frustasinya mendengarkan mereka berdua menyanyi yang seperti anjing laut kelaparan.

Di sisi lain kelas ada anak laki-laki berpipi cekung dengan sorot mata tajam sedang sibuk menjahili siswa yang lain. Di saat semua siswa memiliki kesibukan mereka masing-masing saat jam pelajaran kosong seperti ini, kesibukan dia malah mengganggu siswa yang punya kesibukan sendiri. Dia adalah murid paling jahil di kelasku. Hidupnya bagaikan tidak tenang jika dia tidak menjahili siswa yang lain. Dan aku adalah yang paling sering menjadi korbannya.

Tapi, belakangan ini, akibat insiden waktu itu, dia tidak pernah lagi menggangguku.

Kebiasaanku duduk di sudut paling belakang kelas bukanlah tanpa alasan. Dari situ, aku bisa dengan leluasa bisa memperhatikan tingkah laku teman-temanku tanpa gangguan sedikit pun. Termasuk bisa memperhatikan pria itu tanpa harus takut ketahuan karena dia lebih sibuk mengganggu orang lain di banding memperhatikanku.

Dia menggoda seorang siswi yang sedang sibuk menyanyi meratapi kegalaunnya. Siswi tersebut marah dan mengejar pria itu ingin membalas. Mereka kejar-kejaran keliling kelas. Menambah kegaduhan yang awalnya diciptakan oleh bahtiar dan hasbir.

Aku tersenyum tipis melihat adegan itu. Dulu aku adalah pemeran adegan itu. Dulu kami berdua selalu bertengkar setiap ada jam kosong. Awalnya hanya masalah kecil, tapi kemudian menjadi besar karena dibesar-besarkan.

Siswi tersebut berhasil mendapatkan pria itu, kemudian dia memukul pria itu. Pria itu tampak diam saja sambil melindungi kepalanya dari pukulan. Setelah itu dia pun berlalu dan pergi ke tempat bahtiar.

Itu merupakan pemandangan yang ganjil. Dulu dia tidak pernah mengalah kalau bertengkar denganku. Dia tidak pernah rela di pukul atau di cubit olehku. Akhir-akhirnya tetap aku yang menderita walaupun dia yang membuat masalah. Aku tidak pernah bisa langsung membalasnya. 

Harus menunggu dia sibuk baru aku bisa membalasnya. Itu pun tetap dengan konsekuensi aku harus menyiapkan jurus seribu langkah.

Sambil berjalan ke bahtiar, dia tiba-tiba menoleh ke arahku. Aku pun langsung reflex membuka buku diaryku agar tidak ketahuan bahwa aku daritadi memperhatikannya.

Lonceng istirahat berbunyi. Seketika semua murid berhenti melakukan aktivitasnya masing-masing dan tanpa di aba-aba langsung serentak menuju pintu. Pria itu sebelum keluar sempat berhenti sebentar dan kembali menoleh ke arahku. Dia melihatku dengan tatapan yang aku tidak tau apa artinya. Sorot matanya tajam. Tapi tidak tersirat kebencian di mata itu. Betapa menjengkelkannya aku di matanya, tapi tidak pernah sekali pun aku melihat dia menatapku dengan tatapan kebencian, walaupun kadang-kadang dia menatapku dengan tatapan marahnya.

“Eh, ke kantin yuk !”, ucap Inna sambil menarik tanganku agar beranjak dari kursi.

“Apa ? Ke kantin ? Ayo. Ayo.”

“Kamu kenapa ? Lagi mikirin apa sih ?”

“Ah ? Gak kenapa-kenapa koq. Cuma lagi mikirin ….”

****

“Pulang, yuk !”, ucap Inna membuyarkan lamunanku.

“Apa ?”

“Pulang !”

“Pulang ?”

“Iya pulang. Ini udah malam. Kantor juga udah mau tutup.”, Inna sudah mulai kesal.

“Oh, iya. Ayo pulang.”, sambil beranjak dari kursiku.

“Kamu kenapa sih ? Lagi ngelamunin apa tadi ? Kamu kayak lagi gak dibumi. Senyum-senyum sendiri kayak orang gila !”

“Hahaha. Masa sih ? Aku tadi tiba-tiba ingat dia. Kamu ingat dia kan ?”

“Dia siapa ?”

“Itu loh teman SMA kita.”

“si Pria Masa Lalu ?”


“Iya benar. Pria Masa Lalu.”

Kamis, 12 Februari 2015

Random !!

Kenapa judulnya random ?? Karena isi tulisan ini juga random, campur aduk dari semua peristiwa menjadi satu kisah kayak gado-gado yang gak bisa di gambarkan hanya dengan satu judul saja. 

Karena ada banyak kisah yang kemudian menjadi satu kesatuan.

Entah harus mulai darimana. Ada banyak hal ku pikirkan saat ini.

Oke, kita mulai dari dari yang paling awal. Ini menjadi hal yang paling mengganggu akhir tahunku kali ini.

Begini …

Tahun lalu, akhir tahunku tidak se-meresahkan akhir tahun sekarang. Walaupun tahun lalu aku aku harus sakit hati dan melalui malam pergantian Tahun seorang diri karena pacarku yang saat ini telah berubah status menjadi mantanku, tega memutuskanku beberapa hari sebelum pergantian Tahun. 

Maka jadilah Tahun lalu aku melewati malam pergantian Tahun seorang diri. Tapi hal itu tidak meresahkanku sama sekali.

Entah kenapa aku bisa melewati semuanya dengan santai. Padahal waktu di putuskan, aku sampai nangis Bombay dan ngerasa down banget. Gimana nggak ? Waktu itu aku lagi sayang-sayangnya sama dia dan merasa kalau hubungan kami akan berlangsung lama. Gak taunya malah Cuma bertahan 3 bulan. Dunia seakan-akan hancur. Tapi anehnya itu hanya sementara.

Ya walaupun sakit hatinya masih kerasa beberapa bulan setelah itu. Sempat nangis lagi beberapa kali. Marah. Kesal. Jengkel. Kecewa. Semua bercampur jadi satu. Tapi sekali lagi, itu tidak meresahkanku sama sekali.

Nah, tahun ini, di Tahun 2014 ini, akhir Tahun ini sih statusnya masih sama dengan Tahun lalu. Tetap nge-jomblo. Tapi jomblonya kali ini lain. Tahun lalu aku benar-benar jomblo. Gak lagi menjalin hubungan dengan siapa pun. Tahun ini aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Aku pernah menuliskan namanya di beberapa postinganku.

Tapi bukan pacaran ya. Mungkin lebih sekedar Hubungan Tanpa Status. Aku ingin menyebutnya sahabat, tapi dia tidak bersikap sebagai sahabat. Aku ingin menganggapnya kakak, tapi pada kenyataannya kami setingkat. Jadi ini merupakan hubungan pertemanan biasa yang dibumbui oleh cinta dan kasih sayang.

Terus masalahnya apa ? Punya seseorang buat nemenin Tahun Baruan koq malah resah ?

Duh, masalahnya sebenarnya little complicated. Sedikit rumit.

Keresahan itu bermulai sejak dia mengirimkan surat yang berisi kata-kata yang manis dan mengandung narkoba sehingga dengan membacanya saja dapat membuatmu melayang dan tersipu malu di saat yang bersamaan.

Bukan karena dia mengirim surat yang membuatku resah. Tapi isi dari surat itu yang membuatku resah.

Di dalam surat itu dia mengatakan bahwa dia memiliki harapan yang tinggi untuk bisa bersamaku. 

Hal itu membuatku senang sekaligus merasa bersalah. Aku senang jika dia mengharapkan untuk terus bersamaku, itu artinya dia memang benar-benar menyayangiku. Tapi di saat yang bersamaan aku juga merasa bersalah. Karena aku yang telah membuatnya memiliki harapan setinggi itu. Aku yang memberinya harapan itu. Aku takut jika suatu saat nanti waktunya benar-benar tiba aku tidak bisa mewujudkan harapannya itu. Jika hal itu sampai terjadi, aku akan merasa sangat bersalah telah membuat seseorang terbang di atas awan tapi lalu harus menghempaskannya ke tanah.

Sebelumnya, beberapa kali dia sempat ngomong kalau dia akan melamarku tepat pada malam pergantian Tahun. Tapi kan kita masih sekolah. Ide gila macam apa ini ?! Saat dia mengatakan hal itu, aku hanya meng-iya-kan perkataannya. Aku tidak ingin mengecewakannya. Aku mengatakan bahwa aku akan menerima lamarannya jika sendainya dia benar-benar melamarku. Aku pikir mana mungkin dia akan berani melakukan hal segila itu.

Tapi, semakin mendekati akhir Tahun, perkataannya itu semakin mengganggu pikiranku. Aku tidak sabar segera ingin bertemu dengannya. Belum lagi di tambah liburan yang membosankan yang hanya duduk seharian di depan laptop dan tv. Hal itu membuatku sedikit depresi karena ingin segera bertemu dengannya. Di tambah lagi rasa rindu yang telah ku tahan selama berbulan-bulan dan berharap di liburan semester kali ini aku dapat bertemu dengannya.

Sejak Ujian Akhir Semester berakhir dan AKSIOMA (Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah) mulai di laksanakan, aku bersiap dan menunggu kepulangannya dari pesantren. Belum lagi setelah aku mendengar bahwa dia telah menerima raport dan sudah di izinkan pulang.

Euphoria kesenanganku akan kepulangannya pun semakin bertambah. Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya dan bertemu dengannya. Bahkan saking tidak sabarnya, aku sempat beberapa kali menyuruhnya pulang, karena aku tau sudah ada beberapa teman-temannya yang pulang, santri putri pun sudah lama pulang.

Aku gemas. Orang lain udah pulang koq dia masih betah di pesantren. Aku ingin bertemu dengannya sebelum sekolahku resmi libur. Karena kalau sekolah sudah resmi libur, peluang untuk dapat bertemu dengannya itu sangat sangat sangat sangat kecil.

Aku berencana menyuruhnya datang ke sekolah. Jadi sekalian aku aku bisa mengenalkannya ke teman-temanku. Sayangnya sampai hari terakhir sekolah dia belum pulang dari pesantren. Maka aku harus bersabar dan menunggu saat yang tepat untuk dapat bertemu dengannya di waktu liburan nanti. 
Katanya hari Rabu nanti baru dia pulang.

DAMN !! Kenapa harus hari Rabu sih ?? Kenapa gak hari Selasa aja ??

Hari Rabu itu tepat hari pertama sekolahku di liburkan secara resmi. Maka gagal dan hancurlah semua rencana yang telah di rancang dan di siapkan.

Hingga pada suatu malam ada seorang pria yang datang bertamu ke rumahku, dia mengaku sebagai temanku dari pesantren dan ingin menemuiku. *Deg*. Siapa dia ? Siapa teman pesantrenku yang datang mencariku malam-malam ?

Tapi yang menerima tamu malam itu adalah bapakku, jadi aku tidak bertemu dengannya. Bapakku bilang dia ingin menanyakan dimana rumahnya Rizkha, sungguh alasan yang bodoh, tentu saja bapakku tau dimana rumahnya Rizkha, wong Rizkhanya sering datang ke rumah aku.
Liburan berlangsung membosankan seperti biasanya. Tidak ada yang special. Nonton. Tidur. Makan. Online. Nonton. Tidur. Makan. Online. Begitu terus berulang-ulang. Kadang juga membersihkan rumah. Tapi tetap saja kegiatan itu tidak menghibur.

Seingatku hanya dua hal yang ku lakukan di luar rumah selama liburan berlangsung.

Pertama, pergi menjenguk tetanggaku sekaligus teman masa kecilku di rumah sakit. Sebenarnya aku malas pergi menjenguk harus meninggalkan rumahku yang nyaman dan laptopku yang setia menemaniku hampir setiap saat, tapi hitung-hitung dia adalah temanku, aku tidak pernah keluar rumah, dan bosan dengan suasan rumah, maka pergilah aku menjenguknya.

Kedua, kegiatan jalan santai yang diadakan oleh Kementrian Agama Kab. Kep. Selayar sebagai rangkaian perayaan Hari Amal Bakti (HAB) Kementrian Agama. Sejenis hari jadi gitu sih, tapi karena alasan yang tidak ku ketahui namanya di ganti menjadi Hari Amal Bakti.

Aku juga sebenarnya malas mengikuti acara ini. Harus bangun pagi dan meninggalkan kasurku lebih cepat dari biasanya. Tapi kegiatan ini juga di ikuti oleh beberapa temanku, tanpa diajak pun aku pasti akan mengajukan diri untuk ikut. Bertemu teman-temanku di waktu libur seperti ini merupakan kesempatan yang langka, jadi saat kesempatan itu datang, maka tanpa pikir panjang aku pasti akan mengambilnya.

Awalnya semunya berjalan biasa saja. Lancar tanpa terkendali. Jalan santai bareng Kiky, Idha, Henry, Bahtiar, dan dua orang adek kelasku (walaupun beberapa saat kemudian Bahtiar dan dua orang adek kelasku menghilang diantara kerumunan), ngomong ngalur-ngidul, bercanda, ketawa-ketiwi, semuanya berjalan biasa saja.

Tapi pada saat sampai di kantor Depag, pemandangan yang tidak enak pun terjadi. Mantanku (yang aku ceritakan di awal postingan ini) ternyata datang. Sebenarnya sih tidak apa-apa dia datang. Tapi yang membuat pemandangan pagi hari itu tercemar adalah dia datang bersama pacarnya yang sekarang. Sial ! Apa maksudnya dia bawa-bawa pacar segala ? Mau nunjukin ke aku kalau dia udah dapat penggantiku ? Mau bikin aku cemburu karena (menurutnya) dia telah menemukan yang lebih baik dari aku ?

Ih ! Gak banget ! Tidak ada sedikit pun alasan aku harus cemburu dengan pacarnya yang sekarang. 

Walaupun sebenarnya dalam hati ku, aku masih mengharapkan dapat kembali bersamanya, tapi perasaan itu hanya berupa titik. Aku tidak akan cemburu dengan pacarnya yang sekarang. Bukannya menyombongkan diri, tapi aku tau pasti kalau aku jelas-jelas lebih baik daripada pacarnya yang sekarang. Bahkan bisa di bilang aku masih lebih cantik daripada cewek yang pagi itu datang bersamanya. Tapi jika bicara sifat, aku mengaku mungkin sifat dia lebih disukai oleh mantanku itu daripada sifatku. Mungkin itu alasannya dia bisa bertahan hampir satu tahun dengan pacarnya yang dibanding denganku yang hanya bertahan 3 bulan.

Templates grátis free