Tampilkan postingan dengan label Love Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love Story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Mei 2019

Hey Masa Lalu! Apa Kabar? Aku Rindu!


Mawang, 27 Mei 2019

Pernah dengar kuote yang berbunyi kurang lebih “Akan ada saat ketika kamu melihat dirinya, rasanya akan biasa saja” ?

Aku yakin kalian pasti tidak asing dengan kata Mutiara tersebut. Kalimat itu sering muncul dan berseliweran di semua media sosial, baik itu facebook, whatsapp, maupun Instagram.

Awalnya aku mengaminkan kata Mutiara tersebut. Tentu saja aku akan merasa biasa saja jika bertemu mantan. Karena itu memang harus. Aku HARUS merasa biasa saja. WAJIB. Kenapa? Karena aku adalah wanita yang sudah berstatus istri orang. Sama sekali tidak etis jika aku masih memiliki perasaan terhadap orang lain, bukan?

Tapi nyatanya aku hanyalah manusia biasa. Aku hanyalah seorang remaja yang kebetulan jodohnya datang lebih cepat dari seharusnya sehingga harus menikah disaat teman-temanku yang lain masih galau-galauan tentang cinta, jodoh, dan cowok yang ditaksirnya.

Ku pikir aku sudah menyelesaikan perasaanku dengannya sejak kami memutuskan untuk berpisah. Aku bahkan tidak ingat alasan kami berpisah. Aku pikir semuanya sudah selesai. Kisahku dengannya hanyalah salah satu kisah cinta masa SMAku yang pastinya akan menjadi bahan obrolan saat reuni nanti.

Sayangnya, itu semua hanya pikiranku. Hatiku tidak mengatakan demikian. Hatiku tidak baik-baik saja setiap membahas tentangnya. Apapun yang berhubungan dengannya, aku tidak pernah baik-baik saja dengan itu semua. Chatnya di grup alumni, statusnya di Instagram, tulisanku di blog tentangnya, aku tidak pernah biasa saja saat melihat itu semua. Ada sedikit sesak di dada.

Berdamai dengan diri sendiri? Berdamai dengan masa lalu? Berdamai dengan hati? Jujur dengan diri sendiri? Bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu semua jika dadaku masih saja sesak tiap kali hal tentangmu melintas di pikiran?

Mungkin ini tidak etis, tidak wajar, tidak boleh, tidak seharusnya ku lakukan, tapi izinkan aku mengungkapkan tentang perasaanku melalui tulisan ini, toh sangat kecil kemungkinan dia akan membaca tulisan ini. Juga sangat kecil kemungkinan orang yang mengenalku di dunia nyata membaca tulisan ini, jadi izinkanlah aku meluapkan perasaanku.

Hey Masa Lalu!
Apa Kabar?
Aku rindu
Ku harap kamu baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah
Tidak bisakah kita berteman akrab layaknya teman yang lain?
Layaknya seperti aku dan jalil, laits, hafidz, dan teman-temanmu yang lain?
Atau seperti kamu dan dilla, nuni, ika, fitri dan teman-temanku yang lain?
Tidak bisakah kita seperti itu?
Demi Tuhan, Aku rindu.


Senin, 12 Februari 2018

Assalamu'alaikum, Kak


Samata, 7 Desember 2017

Assalamu’alaikum, Kak

Kakakku, Kakak Kesayanganku, Kakak Alimku.

Semoga kakak sehat selalu dan tetap dalam lindungan Allah.
Besok kakak udah balik ke Malang, kan? Hati-hati ya, kak. Aku pikir kakak masih akan lebih lama lagi di sini, ternyata besok kakak sudah pulang, padahal kita masih dalam proses adaptasi untuk saling mengerti.

Awalnya aku punya niat ingin memberi kakak benda atau sesuatu sebelum kakak pulang, supaya kakak bisa ingat terus sama aku. Tapi sampai sekarang, sampai malam terakhir kakak di sini aku masih tidak tau ingin memberikan apa ke kakak. Dan aku juga sibuk. Baru kali ini aku merasakan kesibukan yang membuatku harus mengorbankan hal lain. Maaf ya kak gak bisa lama main hari ini.

Maaf kalau aku sering gangguin kakak main game, sering kepo sama privasi kakak, sering ribut, sering bikin kecewa, dan hal-hal tidak mengenakkan lain. Baru satu bulan ketemu tapi tampaknya aku sudah buat banyak masalah kakak. Maaf kak, aku hanya ingin berusaha dekat dengan kakak. Maaf jika caraku salah. Semoga kakak tidak merasa menyesal punya adik seperti diriku. Hehe.

Perihal perasaan, aku memang tidak pernah pandai mengucapkannya secara lisan. Itulah mengapa 
aku tidak pernah bisa berbicara langsung di depan kakak mengenai apa yang ku rasakan. Aku lebih bisa mengungkapkannya dalam bentuk tulisan. Maka jadilah tulisan ini.

Terima kasih untuk pengalaman kakak-adiknya selama satu bulan ini kak. Dari dulu aku selalu bermimpi punya kakak cowok, yang bisa jadi orang kedua yang bisa diandalkan setelah bapak, orang yang akan menjagaku setelah bapak, yang bisa diajak curhat tentang pacar tanpa harus menghakimi dengan tidak boleh pacaran, orang yang bersedia menghajar siapa saja yang menggangguku. Intinya orang yang bisa ku ajak bermain, bercanda, curhat, dan hal-hal semacam itu.

Aku sering main sama bapak, tapi bapak terlalu tua untuk diajak bermain. Aku juga tidak mungkin curhat tentang pacar ke bapak Karena bapak tidak akan suka jika anak gadisnya diganggu oleh cowok tidak jelas.

Dan dengan datangnya kakak ke Makassar, kakak mewujudkan mimpi itu. Sekali lagi terima kasih kak.

Nanti sering-sering kabarin ya kak. Aku tau aku tidak terlalu penting dalam hidup kakak, aku bukanlah orang yang harus kakak kabarin tiap saat, tapi tetap saja kak, bolehkah aku tetap dekat dengan kakak walaupun raga kita terpisah?

Baik-baik di sana ya kak. Sehat selalu. Rawat dan jaga bude baik baik. Rajin berdo’a demi kesembuhan bude. Do’a anak shaleh itu cepat terkabul kak. Kakak tentu saja lebih paham masalah itu dibanding aku.

Titip salam sama kak widya – setelah menonton video ucapan ulangtahun itu aku merasa harus panggil kakak ke widya Karena jelas sekali umurnya jauh di atasku – kalau ketemu.

Jujur, aku iri sama dia kak. Dia bisa memenangkan hati kakak. Suatu hal yang belum tentu bisa ku lakukan.

Haha.. ngomong apa sih?


C.I.N.T.A



Samata, 16 November 2017

Cinta

Pembahasan tentang cinta memang tidak akan pernah habis. Dan saat ini aku sedang menyaksikan banyak kisah cinta yang terjadi di sekitarku. Tidak perlu tv ataupun film. Cinta dalam kehidupan nyata lebih seru, dan yang pasti ini nyata. Tanpa rekayasa. Tanpa acting. Walaupun tetap banyak dramanya.

Telah banyak kisah cinta yang ku saksikan. Utamanya kisah cinta sahabat-sahabatku.

Ada yang baru satu kali bertemu, hubungannya bisa awet sampai sekarang. Kalau aku tidak salah ingat, sudah 2 tahun lebih mereka menjalin hubungan.

Ada yang hubungannya harus berakhir Karena tidak diberi restu orangtua. Padahal mereka sudah 4 tahun pacaran.

Ada yang walaupun sering putus nyambung, tapi tetap Bersama sampai sekarang. Lebih 3 tahun jika perhitunganku tidak salah.

Ada juga yang tetap Bersama walaupun tidak direstui oleh orangtua, mereka backstreet.

Ada yang sementara mencintai dalam diam. Menyimpan rapat-rapat perasaannya. Takut jika yang bersangkutan mengetahui perasaannya maka semuanya tidak akan sama lagi.

Dan ada banyak lagi yang tidak bisa ku sebutkan satu persatu.
Kisahku? Aku baru saja putus dengan pacarku setelah 2 tahun memaksakan keinginan untuk tetap Bersama. Restu orangtua memang tidak dapat dianggap remeh.

Hubunganmu tidak akan lancar jika tidak mendapat restu orangtua.

Dan sekarang aku sedang menyukai sepupuku sendiri tapi aku bertengkar dengannya hanya Karena sikapnya yang tidak jelas dan dia mengatakan itu semua adalah salahku.

Tak apalah. Aku yang salah. Aku malas memperpanjang masalah. Aku hanya ingin hubunganku dengannya baik-baik saja. Tak apa jika hanya sekedar adik-kakak, itu sudah cukup. Lebih dari itu, aku tidak berani berharap.

Dari beberapa kisah itu ada yang menjadi favoriteku dan berharap kisahku bisa seperti itu.

Doakan saja semoga aku bisa menulis kisahku sendiri, yang lebih indah dari semua itu, yang bisa membuat orang lain iri.

Semoga aku bisa menemukan orang yang padanya dapat ku percayakan hati, hidup, dan masa depanku. Dia yang datang dan tidak akan pernah pergi lagi. Dia yang telah direncanakan Allah untukku.

Jumat, 09 Februari 2018

Boys Always Will be Boys



Borong, 15 November 2017

Aku tau ini salah. Tidak sepenuhnya salah sebenarnya. Tapi tetap saja tidak dapat dapat dibenarkan jika menyukai seseorang yang sudah punya pacar. Pacar ya. Pacar. Bukan istri. Belum. Jadi aku tidak sepenuhnya salah Karena dia masih milik orangtuanya, bukan milik pacarnya. Belum.

Ku akui, aku mulai menyukainya. Bahkan kadang menganggap bahwa kami benar-benar sedang menjalin sebuah hubungan. Tapi itu hanya perasaanku saja. Hanya pemikiranku. Perasaannya terhadapku, pemikirannya terhadapku, itu tidak penting.

Jika pun dia tidak benar-benar mencintaiku, itu tak apa.

Aku sudah cukup jauh memainkan permainan ini. Sudah terlanjur basah. Jadi sekalian saja mandi.
Jika dia pada akhirnya mengaku tidak mencintaiku, itu tak apa. Karena aku akhirnya bisa berhenti memainkan permainan ini. Berpura-pura percaya bahwa dia benar-benar mencintaiku.

Aku memang tampak polos. Tapi aku tidak sepolos itu. Setidaknya aku tidak akan mudah percaya begitu saja dengan kata-kata cinta.

Nampak kok mana yang asli mana yang palsu. Mana yang beneran sayang mana yang Cuma mau main-main.

Perhatian, sikap, kata-kata, semuanya yang dia lakukan terhadapku, ku akui itu semua manis. Sangat manis. Tapi tetap saja, yang tulus dan hanya main-main pasti berbeda. Yang dia lakukan itu manis, tapi tidak pake rasa.

Aku memang sering Nampak tersipu malu dan salah tingkah saat dia bertingkah manis, tapi dia tidak membuat jantungku berdebar tidak karuan. Itu sudah cukup membuktikan bahwa dia tidak benar-benar menyayangiku.

Aku berani bertaruh, pulang dari sini dia tidak akan mengingatku lagi. Jangankan bertingkah manis, chat pun aku yakin tidak akan pernah.

Lagi pula tampaknya kami tidak cocok. Aku tidak bisa memahaminya. Belum. Aku masih belajar. Tapi bagaimana mungkin aku bisa paham sifatnya yang sebenarnya jika yang dia tunjukkan dihadapanku lebih banyak kepura-puraan. Dia menyuruhku untuk terbuka, ngambek jika ada yang tidak ku beritahukan. Sementara dia, jangankan cerita, pinjam hp saja tidak boleh. Itu tidak adil. Tapi aku tidak marah. Aku tidak ngambek. Karena aku tau, aku paham, aku mengerti, aku tidak sepenting itu dihidupnya.

Empat tahun Bersama Sukri dan masih banyak hal tentang Sukri  yang tidak ku pahami. Lantas bagaimana mungkin aku bisa memahaminya yang bahkan baru bertemu (lagi) satu bulan yang lalu?
Dia terlalu sensitif. Aku selalu salah di matanya. Aku Lelah menjadi pihak yang selalu mengerti, pihak yang selalu mengalah.

Boy always will be boy. Cowok akan tetap jadi cowok.

Awalnya dia tampak berbeda. Apalagi bagian bersikap dewasa. Ya dia sangat dewasa menurutku. Tapi itu tidak mengherankan. Sudah sewajarnya dia seperti itu, dia 5 tahun lebih tua dariku. Keterlaluan namanya jika tingkat kedewasaan kami sama sementara usia kami berbeda jauh. Walaupun kedewasaan bukan tentang usia, itu tentang sikap, tapi tetap saja, memalukan jika umurmu sudah banyak tapi tidak sesuai dengan tingkat kedewasaanmu.

Apalagi setelah ku bandingkan dengan mr. Charming, itu wajar jika dia bersikap dewasa. Karena memang sudah seharusnya dia begitu.

Yang membuatnya tampak berbeda pada awalnya Karena tidak ada cowok dalam lingkungan pergaulanku yang sedewasa dia, bahkan ketua angkatanku di Matematika yang seumuran dengan dia tidak sedewasa itu.

Tapi bagaimana pun dia tetaplah seorang anak. Sedewasa apa pun sikapnya, dia tetaplah seorang anak. Dan cowok. Suka main game, nonton bola, nonton anime, dan pastinya suka cewek. Utamanya cewek cantik.


Minggu, 14 Januari 2018

Story of MyBeloved Cousin

6 November 2017

Namanya Syahirul Alim. Lengkapnya Syahirul Alim, S.Pd.I.

Ya, dia telah sarjana. Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, lulus dengan predikat cumlaude. Congratulation, Bro. I’m proud of you.

Dia sepupuku. Sepupu satu kali. Lumayan dekat. Terakhir bertemu dengannya ketika aku berusia 4 tahun, tidak banyak hal yang bisa ku ingat ketika aku masih berusia 4 tahun. Aku bahkan lupa bagaimana wajahnya saat kami pertama kali bertemu. Dan baru bertemu lagi sekarang, 14 tahun kemudian.

Satu-satunya hal yang ku ingat saat bertemu dengannya adalah aku pernah berkata jika besar nanti aku ingin menikah dengannya. Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu sampai aku bisa berkata seperti itu.

Dia memiliki seorang kakak, Mursyid namanya. Kenapa aku mau menikah dengannya, bukan dengan kakaknya? Pikirku saat itu Karena jika menikah dengan kakaknya perbedaan usia kami terpaut jauh.
Rupanya dia juga masih mengingat hal itu sampai sekarang.

Jika memang boleh, aku sebenarnya tidak keberatan menikah dengannya. Apalagi sekarang dia sudah \sarjana. Sudah punya bekal buat cari kerja. Dia juga kadang menyebutku sebagai pacarnya, pacar kecil, atau apalah sejenisnya. Bagiku tidak apa-apa, aku memang menyukainya, sebagai kakak tentunya, bukan sebagai pria.

Tapi, semua itu berubah ketika negara api menyerang. Eh salah, ketika dia datang ke makassar menemani ibunya berobat, aku mulai menyukainya sebagai seorang pria.
14 tahun bukanlah waktu yang singkat. 14 tahun tidak pernah bertemu, kontakan hanya sekali-sekali, besar dan tumbuh di lingkungan yang benar-benar berbeda dengan jenis pergaulan yang tentunya berbeda. Aku tidak tau apa apa tentangnya. Bahkan sifat dasarnya aku tidak tau. Apa yang dia suka, dia tidak suka, bagaimana caranya bersikap, aku tidak tau apa apa tentangnya.

Pertemuan pertama dengannya setelah 14 tahun benar-benar terasa canggung. Aku tidak tau harus bersikap bagaimana. Akhirnya aku bertemu sosok yang 14 tahun terakhir ini hanya mendengar cerita tentangnya, berbicara dengannya melalui telpon, dan melihat fotonya di media sosial.

Kesan pertamaku saat bertemu dengannya : dia tidak seperti yang aku bayangkan.

Ya, dia tidak seperti yang aku bayangkan. Dan aku menyukainya.

Aku belum bisa menyimpulkan ini cinta atau bukan Karena terlalu cepat untuk menyimpulkan hal itu. Tapi yang pasti aku menyukainya 😊

Lama tidak berjumpa, ku pikir kami akan canggung satu sama lain. Saking lamanya tidak bertemu sampai-sampai otakku mengidentifikasinya sebagai orang asing.

Orang asing = orang baru dalam hidup = tidak pernah bertemu sebelumnya.

Otakku mengelompokkannya seperti itu, padahal kami jelas-jelas pernah bertemu sebelumnya. Bertahun-tahun yang lalu. Walaupun lama, tetap saja kami sudah pernah bertemu. Jadi jelas dia bukan orang asing, apalagi orang baru dalam hidupku. Entahlah. Mungkin ada salah satu syaraf otakku yang bergeser sampai bisa salah mengidentifikasi orang.

Hal itu mempengaruhi bagaimana caraku bersikap terhadapnya. System mekanisme tubuhku akan 
otomatis bertindak lain terhadap orang asing. Jika pada orang yang telah ku kenal aku akan bersikap apa adanya, bahkan terkadang gila, pada orang asing yang terjadi malah sebaliknya. Selama orang itu masih ku anggap sebagai orang asing, aku tidak akan pernah bisa bersikap apa adanya di depannya. Aku akan menjaga sikap, bahkan terkesan malu-malu, pendiam, dan hal-hal semacam itu. Atau kadang sikapku tergantung dari bagaimana orang itu bersikap terhadapku.

Di luar dugaan, kak Alim justru bersikap bersahabat. Gampang akrab. Jadi walaupun awalnya agak terasa canggung, lama kelamaan aku sudah bisa mulai bersikap apa adanya di depannya.

Dia bersikap manis terhadapku. Sangat manis malah. Kalau jalan berdua, dia pasti merangkulku, menggenggam tanganku. Di rumah dia memperhatikan semua hal yang ku lakukan. Menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, menyemangati ku tiap aku mengerjakan tugas, khawatir jika ada cowok yang dekat denganku, khawatir jika terjadi apa-apa denganku, khawatir jika aku tidak memberinya kabar, bersedia menghajar siapa saja yang menyakitiku. Itu semua sebenarnya hal yang wajar yang dilakukan seorang kakak. Awalnya aku hanya menganggapnya perhatian seorang kakak kepada adiknya. Tapi makin ke sini dia makin bersikap seakan-akan dia menyukaiku.

Bagian ini yang membuatku bingung. Dia bersikap seolah dia menyukaiku, padahal dia sudah punya pacar. Hubungannya dengan pacarnya juga baik-baik saja. Tapi dia selalu saja bilang cinta, panggil sayang, dan hal-hal semacam itu.

Aku menanggapinya sebagai bentuk perhatian seorang kakak. Aku tidak terlalu serius menanggapi pernyataan cintanya, Karena jelas-jelas dia Sudah punya pacar yang kualitasnya jauh di atasku. Aku siapa? Aku tidak ada apa-apanya dibanding pacarnya.

Alumni pesantren. Guru TK. Jilbab besar.

Sedangkan aku? Aku mahasiswa Matematika semester 3 yang bahkan belum tau apa itu cinta. Hanya gadis polos biasa yang masih bisa dibodohi oleh cinta.

Aku Cuma cewek biasa yang bisa luluh hanya dengan perhatian kecil yang diberikan secara konstan.
Wanita normal mana yang tidak akan luluh jika diberi perhatian terus menerus. Wanita normal mana yang tidak akan goyah jika dibuat merasa seolah-olah dia one and only. Aku Cuma wanita biasa yang lebih sering menggunakan perasaan, bukan logika. Padahal kadang perasaan bisa sangat menipu.

Aku akhirnya menanyakan padanya tentang sikapnya, aku hanya ingin meminta kejelasan. Apakah dia benar-benar mencintaiku atau hanya ingin bercanda. Ketika aku menanyakan hal itu, dia tidak memberikan sikap yang tegas, tidak memberikan jawaban yang jelas, tidak mengatakan dengan jelas kalau dia mencintaiku. Dan itu membuatku semakin bingung.

Aku pun menganggapnya bercanda. Bukan tanpa alasan aku melakukan hal itu. Aku hanya tidak ingin terluka. Aku hanya ingin melindungi hatiku. Terkesan egois memang. Tapi aku tidak ingin lagi sakit hati untuk yang kesekian kalinya. Aku tidak ingin lagi menempatkan hatiku pada orang yang salah yang akan membuatku kecewa kemudian.

Aku kira sikapku itu sudah cukup baik untuk menanggapi hal ini. Tapi itu malah membuat semuanya semakin runyam.

Ketika aku bilang ke dia kalau aku hanya menganggap ini bercanda, dia kecewa. Dia bilang aku PHP.
Di sini aku yang korban. Tapi kenapa seketika statusku berubah jadi tersangka?

Ah.. entahlah. Masalah perasaan memang tidak pernah mudah. Dan ini membuat hubunganku dengannya menjadi canggung.

Kak, aku memang menyukaimu. Menyayangimu. Tapi terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa ini cinta.
Jika kamu mencintaiku, maka katakan dengan jelas. Semua sikap manismu membuatku bingung. Kamu punya pacar, tapi kenapa kamu bersikap seakan-akan kamu mencintaiku?

Minggu, 07 Januari 2018

Aku Sayang Dia


Aku sayang dia. Aku hanya ingin berada di dekatnya dan selalu berada di dekatnya. Karena bersamanya aku bisa menjadi diriku. Aku bisa menangis, tertawa, marah-marah tidak jelas, tidak mandi, bahkan kentut sembarangan. Aku bisa melakukan apa aja, semuanya, hal menjijikkan apapun itu dapat ku lakukan di dekatnya tanpa harus takut dia merasa ilfeel dan kemudian pergi meninggalkanku.

Ah! Ingin ku beritahukan padanya tentang hal ini. Tapi aku sudah tidak berada pada kapasitas untuk mengatakan sayang padanya. 

Aku sayang dia dan aku suka berada di dekatnya. Di dekatnya aku merasa nyaman, sebanyak apapun masalahku, selama dia masih ada di bumi aku akan tetap merasa tenang. Hanya dengan mengingatnya saja, mengetahui bahwa dia baik-baik saja itu sudah cukup menjadi penyemangat buatku. Suaranya adalah music terindah buatku, hanya dengan mendengar suaranya semua resah hilang dan semua Lelah menguap. Bahkan saat dia marah sekali pun, aku tetap tidak ingin beranjak disampingnya. Karena aku tahu, semarah apapun dia padaku, sejengkel apapun dia, rasa sayangnya padaku tidak akan pernah hilang. 

Begitu pula denganku. Semarah apapun aku padanya, hanya dengan melihat senyumnya, semua marah dan jengkelku menguap entah kemana. Aku selalu luluh dengan senyuman itu. Aku lemah terhadap senyumannya. Aku tidak bisa menahan pesona senyumannya. Setiap dia tersenyum aku kembali jatuh hati padanya dan berpikir kenapa aku bisa sampai sesayang ini pada makhluk Allah yang satu ini. Hanya dengan satu senyuman sederhana darinya, pertahananku goyah dan aku tidak bisa menentukan sikap.

Aku yang selalu berpikir ingin pergi darinya, aku yang selalu ingin mengakhiri semua ini, aku yang selalu ingin menjauh darinya, ketika melihat senyumnya, semua keinginan dan rencana itu hanyalah sekedar rencana Karena aku kembali jatuh hati padanya.

Belum pernah aku merasa senyaman ini terhadap orang lain. 

Kalian boleh menganggapku lebay, bodoh, atau apalah. Tapi ku beritahu satu hal, saat kau benar-benar jatuh hati pada seseorang dan merasa nyaman dengannya, maka kau akan melakukan hal-hal seperti yang ku lakukan, kau bahkan tidak sadar telah melakukan hal bodoh.

Jika kau menganggapku gila, maka bantu aku keluar dari kegilaan ini.

Jika kau menganggapku bodoh, maka ajari aku agar bisa lebih pintar dalam bersikap.

Senin, 18 Desember 2017

All Of Me



What would I do without your smart mouth?
Drawing me in, and you kicking me out
You've got my head spinning, no kidding, I can't pin you down
What's going on in that beautiful mind
I'm on your magical mystery ride
And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright

My head's under water
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind

'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh oh

How many times do I have to tell you
Even when you're crying you're beautiful too
The world is beating you down, I'm around through every mood
You're my downfall, you're my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can't stop singing, it's ringing, in my head for you

My head's under water
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind

'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh oh

Give me all of you
Cards on the table, we're both showing hearts
Risking it all, though it's hard

'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you

I give you all of me
And you give me all of you, oh oh
 
ReKerNoPis Blogger Template by Ipietoon Blogger Template