Tampilkan postingan dengan label Share. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Share. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Mei 2019

Dear Diary #4



Selayar, 10 Februari 2018

Libur semester udah jalan 10 hari. Dan aku sudah 5 hari di kampung. Itu seharusnya sudah cukup lama. Dulu, waktu SMA libur dua minggu itu sudah lama sekali. Tapi sekarang, kuliah, libur satu bulan rasanya masih belum cukup. Masih kurang lama.

Fakultas lain liburnya satu setengah bulan, jurusanku Cuma satu bulan, itu pun dipotong.

Belum juga hilang stress yang kemarin akibat laporan dan lambat pulang, hari ini harus dapat kabar kalau kuliah dimulai lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.

Akademik kampus mengumumkan kuliah Perdana dimulai pada tanggal 1 Maret. Tapi entah mengapa, jurusanku malah memajukan jadwal kuliah Perdana menjadi 26 Februari. Memang sih hanya dimajukan 3 hari, tapi dalam waktu 3 hari itu masih banyak hal yang bisa ku lakukan di kampung.

Gak tau kenapa, tapi semester kemarin rasanya lebih berat daripada dua semester sebelumnya. Awalnya semuanya baik-baik saja. Berjalan lancar dan biasa-biasa saja. Bagaikan bom waktu, menjelang akhir semester semuanya berubah menjadi berat, berantakan, dan benar-benar membuatku tertekan.

Aku tidak tau apa yang membuat akhir semester kemarin terasa lebih horror dari biasanya. Mungkin karena laporan yang semuanya bertumpuk di akhir dan dipaksa untuk segera menyelesaikannya, mungkin karena keinginan untuk pulang karena belum pernah pulang selama semester kemarin, mungkin karena jadwal kuliah yang berantakan yang memaksa untuk mengejar pertemuan. Entahlah. Aku tidak tau yang mana. Tapi hal itu berhasil membuatku drop dan akhirnya sakit.

Nafsu makan berantakan. Tidak seperti biasanya. Perut tidak bersahabat. Apapun yang masuk ditolak. Mual sepanjang waktu. Pokoknya gak enak banget.

Sekarang, di kampung, di rumah, aku berusaha mengembalikan nafsu makanku yang dulu. Tapi rupanya sakit akibat stress kemarin masih ada pengaruhnya sampai sekarang. Aku menjadi gampang lapar, dan laparnya itu langsung lapar banget, gak bisa sabar nunggu. Kalau kelamaan tahan lapar, aku pasti mual. Dan juga tidak bisa makan banyak, tidak bisa kenyang sekali, karena kalau kenyang sekali aku juga pasti mual. Efek stress kemarin masih ada tersisa sedikit.

Belum hilang betul efek stress, sekarang harus dapat kabar kalau jadwal kuliah dimajukan dari yang seharusnya.

Ya Allah, aku tau Engkau tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Mu. Jika menurut-Mu aku bisa melewati semua ini, pastilah Kau mengira aku sangat hebat.

Hanya dengan memikirkan betapa susahnya aku melewati akhir semester kemarin sudah cukup untuk membuatku kembali merasa stress dan mual.

Hanya dengan memikirkannya saja membuatku tidak sanggup untuk kembali ke samata semester ini. Tapi, bagaimana pun aku harus tetap kembali bukan? Ini sudah menjadi pilihanku, jadi aku harus tetap menjalaninya apapun yang terjadi.

Ya Allah, berilah aku kekuatan untuk melewati semua ini.

Kamis, 01 Maret 2018

Aku Rindu Saat Semuanya Baik-Baik Saja


Selayar, 1 Maret 2018

Hari ini ulang tahunku. Ulang tahun yang ke 19. Sudah bukan usia anak-anak lagi.

Harusnya hari ini aku bahagia, karena hari ini ulang tahunku. Tapi nyatanya tidak begitu. Aku cukup bahagia karena masih diberi nikmat usia sampai umur segini, masih bisa berkumpul bersama keluarga, masih bisa liat senyum mama dan bapak, masih bisa merasakan hangatnya rumah. Aku bahagia untuk semua itu. Aku mensyukurinya.

Tapi ada beberapa hal yang membuatku tidak bahagia. Karena ada sesuatu yang tidak baik-baik saja. Dan aku rindu saat semuanya baik-baik saja.




Senin, 26 Februari 2018

TULUS - Gajah (Official Music Video)



Setidaknya punya tujuh puluh tahun
Tak bisa melompat kumahir berenang
Bahagia melihat kawanan betina
Berkumpul bersama sampai ajal
Besar dan berani berperang sendiri
Yang aku hindari hanya semut kecil
Otak ini cerdas kurakit perangkat
Wajahmu tak akan pernah kulupa

Waktu kecil dulu
Mereka menertawakan
Mereka panggilku gajah
(Ku marah) ku marah
Kini baru ku tahu
Puji didalam olokan
Mereka ingatku marah
Jabat tanganku panggil aku gajah

Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku

Kecil kita tak tahu apa-apa
Wajar bila terlalu cepat marah
Kecil kita tak tahu apa-apa
Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik
Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik

Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku
Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku

***

Waktu pertama liat lagu ini di youtube, aku gak mau buka, gak mau dengar, mungkin masih trauma dengan bullyan masa kecil dulu sering dipanggil gajah, takut nanti isinya gak jauh-jauh dari bullyan macam begitu.

Tapi pernah sekali waktu gak sengaja dengar lagu ini diputar. Tanpa harus dengar lagu ini sebelumnya aku sudah tau kalau lagu yang diputar itu lagunya Tulus, soalnya suara dia itu khas banget. Dan ternyata aku salah duga. Lagu ini bagus.

Malam ini untuk pertama kalinya aku dengerin full lagunya Tulus yang ini. Lagunya bagus. Liriknya penuh makna. Dan sesuai dengan apa yang pernah aku rasakan waktu kecil dulu.

Dan akhirnya aku jatuh cinta pada lagu ini.

Good Job, Tulus.


Minggu, 25 Februari 2018

Dear Diary #2



Samata, 6 Januari 2018

Hampa

Pernahkah kamu merasa begitu? Kosong. Hampa. Tidak ada apa-apa. Benar-benar kosong. Saat kalian tidak punya perasaan terhadap apapun atau siapapun. Tidak menyukai, mengagumi, menyayangi, ataupun mencintai seseorang. Pernah? Jika pernah berarti kamu mengerti apa yang sedang ku rasakan saat ini.

Tidak benar-benar kosong sih sebenarnya. Karena aku masih punya teman-teman dan sahabat-sahabatku di sampingku. Dengan adanya mereka semua aku masih tetap dapat tertawa, tersenyum, bercanda, bahagia. Aku sebenarnya tetap bahagia apapun yang terjadi. Berusaha bahagia lebih tepatnya. Bagaimana mungkin kamu bisa membahagiakan orang lain jika kamu tidak bisa membahagiakan dirimu sendiri, bukan?

Walaupun begitu entah kenapa aku merasa kurang. Rasanya ada yang tidak lengkap. Aku merasa seperti… entahlah. Aku tidak tau istilah yang tepat untuk mengekspresikannya, untuk menggambarkannya, untuk mendeskripsikan apa yang sedang ku rasakan saat ini.

Hampa. Kosong.
Mungkin itu istilah yang hampir benar walaupun mungkin kurang tepat. Tapi aku tidak menemukan kata lain selain dua kata tersebut.

Aku sekarang sedang tidak merasakan perasaan apapun terhadap orang lain. Khusunya lawan jenis. Karena tentu saja, aku sayang kepada sahabat-sahabatku, sekelompok orang gila yang pura-pura waras di hadapan orang lain. Namun bukan itu yang ku maksud. Yang pernah merasakan perasaan seperti ini pastilah paham apa yang ku maksud. Yang belum pernah merasakan hal seperti ini maka kamu beruntung, karena perasaan ini hampir sama dengan rindu, menyiksa.

Setelah putus dari Sukri, putus yang benar-benar putus – karena sebelumnya aku sudah sering kali putus nyambung dengannya dan aku masih punya perasaan terhadapnya, putus kali ini aku juga masih punya perasaan terhadapnya, sedikit, tapi aku bersikap seakan aku benar-benar tidak menyayanginya lagi, berpura-pura aku tidak mencintainya lagi, membohongi hati dan pikiranku.

Dan tampaknya itu terlalu berhasil. Sekarang aku tidak punya perasaan apa-apa lagi terhadapnya. Aku memang masih sering kontak-kontakan dengannya, tapi itu tidak lebih dari sebatas teman.

Namun dia masih memberikan perhatian yang sama seperti waktu kami masih pacaran dulu. Jika situasinya berbeda, tentu saja aku akan bahagia diberi perhatian seperti itu. Tapi sekarang semua perhatian itu rasanya biasa saja, bosan.

Aku juga pernah berpikir, pernah mengira kalau aku suka sama sepupuku, kak Alim. Aku bahkan membuat beberapa tulisan tentangnya. Tapi itu ternyata hanya sementara.

Setelah kak Alim balik ke Malang dan dia sering marah-marah gak jelas, aku mulai capek dan bosan. Bosan hadapi marah-marah gak jelasnya kakak, bosan chat duluan, bosan selalu jadi pihak yang harus mengerti. Aku salut sama pacarnya bisa bertahan lama sama dia.

Ya kurang lebih seperti Sukri sih. Sering marah-marah gak jelas. Cuman Sukri begitu baru-baru ini, dulu tidak. Makanya dulu aku sayang sama dia dan sekarang tidak.

Belum ada ikatan resmi tapi kerjanya marah-marah terus. Mati mko!

Setelah bosan dengan kak Alim, aku ketemu sama kak Dodi. Dia seniorku di HMI. Orangnya manis dan cerdas. Itu kesan pertamaku terhadapnya. Makanya aku suka.

Orangnya juga enak diajak chat. Untuk sementara dialah moodbosterku. Hanya dengan mengingatnya sudah bisa membuatku senyum-senyum tidak jelas. Bahkan kemarin, waktu kuliah Riset Operasi, saking mengantuknya aku iseng mikirin kak Dodi, supaya gak ngantuk. Alhasil, aku mendapati diriku senyum-senyum sendiri sambil menghadap ke arah dosen. Dan itu awkward.

Tapi kadang aku juga bosan dengan kak Dodi. Apalagi aku terus yang chat dia duluan. Kalau kak Dodi yang chat aku duluan itu mungkin bisa masuk Guiness Book of Record, rekor dunia.

Aku cukup bahagia hanya dengan memikirkannya, mengingatnya, dia membalas chatku, melihat fotonya di akun sosial medianya, dan hal-hal kecil semacam itu. Tapi kadang aku bosan kalau kak Dodi tidak membalas chatku.

Dan kalau aku bosan dengan kak Dodi, aku kembali merasa kosong. Hampa.


Kosong

Bosan

Hampa

Ohh Tuhan. Semua ini membuatku ingin pulang.

Jika aku tidak bisa pulang ke Selayar, maka bisakah Engkau membawa Selayar padaku?


Senin, 12 Februari 2018

Pinggir Pantai Milik Siapa?


Selayar, 13 Februari 2018

Hari Ahad kemarin, aku dan keluarga berencana mau liburan ke pantai. Anak rantau pulang ke kampung dari kota dan belum pernah ketemu pantai selama enam bulan. Jadilah Ahad kemarin kami pergi mencari pantai mana yang kira-kira cocok untuk didatangi kali ini.

Dulu, waktu masih anak-anak, hampir setiap pekan kami pergi liburan ke pantai. Entah itu untuk rekreasi atau hanya sekedar berenang. Bahkan saat kelas tiga Aliyah, sesudah Ujian Nasional, sambil menunggu pengumuman, kami pun pergi ke pantai hanya untuk sekedar makan-makan dan berenang.

Salah satu hal yang hebat dari tinggal di pulau adalah kamu bisa main di pantai kapan saja tanpa harus bayar biaya masuk, kecuali memang untuk beberapa tempat wisata yang ada pengelolanya. Toh uang yang kita pakai untuk bayar juga digunakan untuk kemajuan tempat wisata tersebut.

Tapi itu dulu.

Sekarang, bahkan rasanya belum genap satu tahun aku menjadi mahasiswa, saat pulang liburan semester kemarin aku sebenarnya sudah melihat papan tanda ini, tapi itu belum terlalu menggangguku, mungkin karena aku masih belum terlalu memikirkannya.

Tapi kemarin, saat aku dan keluargaku berniat untuk liburan di pantai, aku kembali melihat papan tanda tersebut. Papan tanda kepemilikan. Papan tanda kepemilikan tanah. Awalnya papan tanda ini tidak ada. Entah sejak kapan papan tanda ini muncul. Tidak hanya sekedar papan tanda kepemilikan, pantai tersebut juga dipasangkan pagar kawat besi agar tidak ada lagi yang bisa bebas keluar masuk ke pantai tersebut.

Bukan hanya pada satu lokasi itu saja, sepanjang garis pantai juga ada papan tanda kepemilikan yang lain dan juga pagar kawat besi yang lain.

Kita tidak lagi bebas bermain di pantai seperti saat dulu aku masih anak-anak.

Sekarang setiap orang mengklaim pinggir pantai sebagai milik mereka masing-masing.

Entah apa yang menyebabkan hal ini.

Awalnya hanya satu orang yang melakukan hal tersebut. Dia mengklaim pinggir pantai sebagai miliknya, membangun resort, dan memberlakukan biaya masuk untuk setiap wisatawan yang ingin bermain di pantai tersebut.

Tidak lama, ada orang lain yang juga membuat resort di tempat yang sama. Maka jadilah dua resort berdekatan pada satu garis pantai.

Mungkin karena hal itu maka orang lain pun ingin mengklaim pinggir pantai milik mereka juga.

Hal ini kemudian membuatku bertanya-tanya. Pinggir pantai sebenarnya milik siapa? Bukankah itu seharusnya tanah milik pemerintah? Jika itu milik pemerintah, lalu kenapa bisa ada orang yang mengklaim tanah tersebut sebagai miliknya?

Minggu, 14 Januari 2018

Story of MyBeloved Cousin

6 November 2017

Namanya Syahirul Alim. Lengkapnya Syahirul Alim, S.Pd.I.

Ya, dia telah sarjana. Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, lulus dengan predikat cumlaude. Congratulation, Bro. I’m proud of you.

Dia sepupuku. Sepupu satu kali. Lumayan dekat. Terakhir bertemu dengannya ketika aku berusia 4 tahun, tidak banyak hal yang bisa ku ingat ketika aku masih berusia 4 tahun. Aku bahkan lupa bagaimana wajahnya saat kami pertama kali bertemu. Dan baru bertemu lagi sekarang, 14 tahun kemudian.

Satu-satunya hal yang ku ingat saat bertemu dengannya adalah aku pernah berkata jika besar nanti aku ingin menikah dengannya. Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu sampai aku bisa berkata seperti itu.

Dia memiliki seorang kakak, Mursyid namanya. Kenapa aku mau menikah dengannya, bukan dengan kakaknya? Pikirku saat itu Karena jika menikah dengan kakaknya perbedaan usia kami terpaut jauh.
Rupanya dia juga masih mengingat hal itu sampai sekarang.

Jika memang boleh, aku sebenarnya tidak keberatan menikah dengannya. Apalagi sekarang dia sudah \sarjana. Sudah punya bekal buat cari kerja. Dia juga kadang menyebutku sebagai pacarnya, pacar kecil, atau apalah sejenisnya. Bagiku tidak apa-apa, aku memang menyukainya, sebagai kakak tentunya, bukan sebagai pria.

Tapi, semua itu berubah ketika negara api menyerang. Eh salah, ketika dia datang ke makassar menemani ibunya berobat, aku mulai menyukainya sebagai seorang pria.
14 tahun bukanlah waktu yang singkat. 14 tahun tidak pernah bertemu, kontakan hanya sekali-sekali, besar dan tumbuh di lingkungan yang benar-benar berbeda dengan jenis pergaulan yang tentunya berbeda. Aku tidak tau apa apa tentangnya. Bahkan sifat dasarnya aku tidak tau. Apa yang dia suka, dia tidak suka, bagaimana caranya bersikap, aku tidak tau apa apa tentangnya.

Pertemuan pertama dengannya setelah 14 tahun benar-benar terasa canggung. Aku tidak tau harus bersikap bagaimana. Akhirnya aku bertemu sosok yang 14 tahun terakhir ini hanya mendengar cerita tentangnya, berbicara dengannya melalui telpon, dan melihat fotonya di media sosial.

Kesan pertamaku saat bertemu dengannya : dia tidak seperti yang aku bayangkan.

Ya, dia tidak seperti yang aku bayangkan. Dan aku menyukainya.

Aku belum bisa menyimpulkan ini cinta atau bukan Karena terlalu cepat untuk menyimpulkan hal itu. Tapi yang pasti aku menyukainya 😊

Lama tidak berjumpa, ku pikir kami akan canggung satu sama lain. Saking lamanya tidak bertemu sampai-sampai otakku mengidentifikasinya sebagai orang asing.

Orang asing = orang baru dalam hidup = tidak pernah bertemu sebelumnya.

Otakku mengelompokkannya seperti itu, padahal kami jelas-jelas pernah bertemu sebelumnya. Bertahun-tahun yang lalu. Walaupun lama, tetap saja kami sudah pernah bertemu. Jadi jelas dia bukan orang asing, apalagi orang baru dalam hidupku. Entahlah. Mungkin ada salah satu syaraf otakku yang bergeser sampai bisa salah mengidentifikasi orang.

Hal itu mempengaruhi bagaimana caraku bersikap terhadapnya. System mekanisme tubuhku akan 
otomatis bertindak lain terhadap orang asing. Jika pada orang yang telah ku kenal aku akan bersikap apa adanya, bahkan terkadang gila, pada orang asing yang terjadi malah sebaliknya. Selama orang itu masih ku anggap sebagai orang asing, aku tidak akan pernah bisa bersikap apa adanya di depannya. Aku akan menjaga sikap, bahkan terkesan malu-malu, pendiam, dan hal-hal semacam itu. Atau kadang sikapku tergantung dari bagaimana orang itu bersikap terhadapku.

Di luar dugaan, kak Alim justru bersikap bersahabat. Gampang akrab. Jadi walaupun awalnya agak terasa canggung, lama kelamaan aku sudah bisa mulai bersikap apa adanya di depannya.

Dia bersikap manis terhadapku. Sangat manis malah. Kalau jalan berdua, dia pasti merangkulku, menggenggam tanganku. Di rumah dia memperhatikan semua hal yang ku lakukan. Menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, menyemangati ku tiap aku mengerjakan tugas, khawatir jika ada cowok yang dekat denganku, khawatir jika terjadi apa-apa denganku, khawatir jika aku tidak memberinya kabar, bersedia menghajar siapa saja yang menyakitiku. Itu semua sebenarnya hal yang wajar yang dilakukan seorang kakak. Awalnya aku hanya menganggapnya perhatian seorang kakak kepada adiknya. Tapi makin ke sini dia makin bersikap seakan-akan dia menyukaiku.

Bagian ini yang membuatku bingung. Dia bersikap seolah dia menyukaiku, padahal dia sudah punya pacar. Hubungannya dengan pacarnya juga baik-baik saja. Tapi dia selalu saja bilang cinta, panggil sayang, dan hal-hal semacam itu.

Aku menanggapinya sebagai bentuk perhatian seorang kakak. Aku tidak terlalu serius menanggapi pernyataan cintanya, Karena jelas-jelas dia Sudah punya pacar yang kualitasnya jauh di atasku. Aku siapa? Aku tidak ada apa-apanya dibanding pacarnya.

Alumni pesantren. Guru TK. Jilbab besar.

Sedangkan aku? Aku mahasiswa Matematika semester 3 yang bahkan belum tau apa itu cinta. Hanya gadis polos biasa yang masih bisa dibodohi oleh cinta.

Aku Cuma cewek biasa yang bisa luluh hanya dengan perhatian kecil yang diberikan secara konstan.
Wanita normal mana yang tidak akan luluh jika diberi perhatian terus menerus. Wanita normal mana yang tidak akan goyah jika dibuat merasa seolah-olah dia one and only. Aku Cuma wanita biasa yang lebih sering menggunakan perasaan, bukan logika. Padahal kadang perasaan bisa sangat menipu.

Aku akhirnya menanyakan padanya tentang sikapnya, aku hanya ingin meminta kejelasan. Apakah dia benar-benar mencintaiku atau hanya ingin bercanda. Ketika aku menanyakan hal itu, dia tidak memberikan sikap yang tegas, tidak memberikan jawaban yang jelas, tidak mengatakan dengan jelas kalau dia mencintaiku. Dan itu membuatku semakin bingung.

Aku pun menganggapnya bercanda. Bukan tanpa alasan aku melakukan hal itu. Aku hanya tidak ingin terluka. Aku hanya ingin melindungi hatiku. Terkesan egois memang. Tapi aku tidak ingin lagi sakit hati untuk yang kesekian kalinya. Aku tidak ingin lagi menempatkan hatiku pada orang yang salah yang akan membuatku kecewa kemudian.

Aku kira sikapku itu sudah cukup baik untuk menanggapi hal ini. Tapi itu malah membuat semuanya semakin runyam.

Ketika aku bilang ke dia kalau aku hanya menganggap ini bercanda, dia kecewa. Dia bilang aku PHP.
Di sini aku yang korban. Tapi kenapa seketika statusku berubah jadi tersangka?

Ah.. entahlah. Masalah perasaan memang tidak pernah mudah. Dan ini membuat hubunganku dengannya menjadi canggung.

Kak, aku memang menyukaimu. Menyayangimu. Tapi terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa ini cinta.
Jika kamu mencintaiku, maka katakan dengan jelas. Semua sikap manismu membuatku bingung. Kamu punya pacar, tapi kenapa kamu bersikap seakan-akan kamu mencintaiku?

Minggu, 07 Januari 2018

Aku Sayang Dia


Aku sayang dia. Aku hanya ingin berada di dekatnya dan selalu berada di dekatnya. Karena bersamanya aku bisa menjadi diriku. Aku bisa menangis, tertawa, marah-marah tidak jelas, tidak mandi, bahkan kentut sembarangan. Aku bisa melakukan apa aja, semuanya, hal menjijikkan apapun itu dapat ku lakukan di dekatnya tanpa harus takut dia merasa ilfeel dan kemudian pergi meninggalkanku.

Ah! Ingin ku beritahukan padanya tentang hal ini. Tapi aku sudah tidak berada pada kapasitas untuk mengatakan sayang padanya. 

Aku sayang dia dan aku suka berada di dekatnya. Di dekatnya aku merasa nyaman, sebanyak apapun masalahku, selama dia masih ada di bumi aku akan tetap merasa tenang. Hanya dengan mengingatnya saja, mengetahui bahwa dia baik-baik saja itu sudah cukup menjadi penyemangat buatku. Suaranya adalah music terindah buatku, hanya dengan mendengar suaranya semua resah hilang dan semua Lelah menguap. Bahkan saat dia marah sekali pun, aku tetap tidak ingin beranjak disampingnya. Karena aku tahu, semarah apapun dia padaku, sejengkel apapun dia, rasa sayangnya padaku tidak akan pernah hilang. 

Begitu pula denganku. Semarah apapun aku padanya, hanya dengan melihat senyumnya, semua marah dan jengkelku menguap entah kemana. Aku selalu luluh dengan senyuman itu. Aku lemah terhadap senyumannya. Aku tidak bisa menahan pesona senyumannya. Setiap dia tersenyum aku kembali jatuh hati padanya dan berpikir kenapa aku bisa sampai sesayang ini pada makhluk Allah yang satu ini. Hanya dengan satu senyuman sederhana darinya, pertahananku goyah dan aku tidak bisa menentukan sikap.

Aku yang selalu berpikir ingin pergi darinya, aku yang selalu ingin mengakhiri semua ini, aku yang selalu ingin menjauh darinya, ketika melihat senyumnya, semua keinginan dan rencana itu hanyalah sekedar rencana Karena aku kembali jatuh hati padanya.

Belum pernah aku merasa senyaman ini terhadap orang lain. 

Kalian boleh menganggapku lebay, bodoh, atau apalah. Tapi ku beritahu satu hal, saat kau benar-benar jatuh hati pada seseorang dan merasa nyaman dengannya, maka kau akan melakukan hal-hal seperti yang ku lakukan, kau bahkan tidak sadar telah melakukan hal bodoh.

Jika kau menganggapku gila, maka bantu aku keluar dari kegilaan ini.

Jika kau menganggapku bodoh, maka ajari aku agar bisa lebih pintar dalam bersikap.

Senin, 18 Desember 2017

All Of Me



What would I do without your smart mouth?
Drawing me in, and you kicking me out
You've got my head spinning, no kidding, I can't pin you down
What's going on in that beautiful mind
I'm on your magical mystery ride
And I'm so dizzy, don't know what hit me, but I'll be alright

My head's under water
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind

'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh oh

How many times do I have to tell you
Even when you're crying you're beautiful too
The world is beating you down, I'm around through every mood
You're my downfall, you're my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can't stop singing, it's ringing, in my head for you

My head's under water
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind

'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh oh

Give me all of you
Cards on the table, we're both showing hearts
Risking it all, though it's hard

'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you

I give you all of me
And you give me all of you, oh oh

Kamis, 14 Desember 2017

Kamu Abu-Abu


Kamis, 18 September 2017

Kuliah Matematika Diskrit jam 13.30.

Panas. Mengantuk. Lapar. Semua campur jadi satu. Dosen datang terlambat. Kuliah yang dijadwalkan mulai jam 13.00 ngaret setengah jam sampai 13:30. Itu pun ketika dosen datang, tidak langsung membahas materi. Tetapi memberikan semacam kultum yang sebenarnya pada prakteknya penyampaiannya lebih dari 7 menit. Hal itu mungkin merupakan kebijakan jurusan yang mewajibkan setiap dosen memberikan motivasi atau semacam pencerahan kepada kami, mahasiswa-mahasiswa labil yang belum mengetahui tujuan hidup yang sebenarnya.

Tapi yang ingin ku bahas kali ini bukan mengenai kultum, dosen yang terlambat, atau pun mengenai kebijaksanaan jurusan. Aku tidak dalam kapasitas untuk mengomentari masalah itu. Kecuali masalah dosen yang terlambat, Karena itu bisa mengacaukan seluruh jadwal perkuliahan, terutama jadwal istirahat yang artinya mengganggu jadwal makan dan tidur siangku. Tapi sekali lagi yang ingin ku bahas bukan masalah itu.

Ini tentang Dia. Ya, lagi-lagi tentang Dia. Mengapa harus tentang Dia? Entah. Mungkin Karena aku tidak bisa berhenti memikirkannya bahkan saat dihadapkan pada soal Matematika Diskrit atau buku paket Pemrograman C++ berbahasa Inggris yang dalam sekejap bisa mengalihkan duniamu. Entah. Aku pun tak tau.

Siang ini, Ibu Try – Dosen Matematika Diskrit, memberitahukan rahasia kecil kepada kami. Sebenarnya ini tidak bisa lagi disebut rahasia Karena telah banyak orang yang mengetahuinya. Tapi demi menghormati dosenku yang terkenal pintar itu, marilah kita sebut ini rahasia.
Yaitu tentang BAGAIMANA CARA MEMILIH SUAMI KETIKA BANYAK YANG DATANG MELAMAR. Sengaja pakai capslock supaya tulisannya jelas dan kalian tidak salah baca. Dan ya, kalian tidak salah baca. Kuliah Matematika Diskrit siang ini seketika berubah menjadi forum majlis ta’lim.

Kami – mahasiswa-mahasiswa labil yang bahkan masih belum terlalu mengerti apa itu cinta, diajak berdiskusi masalah pernikahan bahkan sampai ke masalah suami dan lamaran. Aku rasa, gaya pacaran yang abi-umi, papa-mama, ayah-bunda, atau pacaran islami yang berdalihkan ta’aruf tetapi ta’arufannya melewati batas waktu ta’aruf seharusnya, atau yang mengaku tidak pacaran tapi saling suka saling sayang dan pada akhirnya tetap Nampak seperti orang pacaran, belum lah pantas untuk diajak bicara mengenai hal serius seperti ini.

Tapi, ya, topik ini bukan lagi hal yang tabu atau tidak pantas dibicarakan dikalangan kami, Karena usia kami memang sudah memasuki usia yang diperbolehkan menikah baik oleh hukum agama maupun hukum negara. Lagipula, setelah lulus kuliah dan wisuda, hal apalagi yang akan dilakukan selain cari pekerjaan dan menikah, kan?

Apa hubungannya Dia dengan topik kultum ibu Try?

Tentu saja berhubungan. Dia cowok. Otomatis dia akan jadi suami. Sebelum jadi suami dia harus menikah dulu. Dan sebelum menikah dia harus melamar dulu.

Begitu pun denganku. Aku ini cewek. Otomatis akan jadi istri. Tetapi sebelum itu aku harus menikah dulu. Sebelum menikah aku harus dilamar. Dan jika banyak yang datang melamar, tentu saja aku harus memilih yang pantas dan cocok untuk menjadi imamku.

Sekarang sudah liat hubungannya? Iya

Sudah paham? Iya

Oke, kalau begitu aku tidak perlu menulis lagi.

Tunggu dulu, terus masalahnya di mana? Bahas panjang lebar hanya untuk itu? Itu sih buang-buang waktu.

Kalau masih belum paham dengan apa yang ku maksud, baiklah akan ku jelaskan.
Dia adalah pria ku cintai selama dua tahun belakangan ini. Ah, memikirkannya malah membuatku tambah jatuh hati padanya. Dia baik, lucu, jahil, dan yang terpenting dia bertanggung jawab. Sejak pertama jatuh hati padanya, sejak saat itu juga ku niatkan aku hanya ingin menikah dengannya. Bukan dengan yang lain. Walaupun banyak yang lebih baik darinya, tapi bagiku hanya dia yang ku inginkan.

Dia yang ku kenal dulu pintar, cukup paham agama, mengajinya juga bagus, rajin shalat, walaupun agak nakal.

Dia memenuhi semua kriteria yang diucapkan Ibu Try dalam kultumnya. Beliau berpesan, jika nanti
ingin memilih calon suami, pilihlah yang baik akhlaknya, bagus shalatnya, bagus bacaan qur’annya, Karena suami lah yang nantinya akan membimbing kita ke depannya.

Dia juga sopan. Tau bagaimana bersikap dan menempatkan diri. Pokoknya dia memenuhi semua kriteria itu. Jadi, tidak salah dong kalau dulu aku menginginkan dia untuk menjadi imamku.
Tapi, entah kenapa, akhir-akhir ini sikapnya berubah. Dia tidak lagi seperti dulu. Dia tidak seperti dirinya yang ku kenal dulu. Dia berubah. Dia mulai bertindak seenaknya, sesuka hatinya. Bahkan perlahan dia mulai meninggalkan hal-hal baik yang sering dilakukannya dulu.

Hmm…

Jujur, aku rindu kamu yang dulu. Aku sekarang kehilangan dirimu. Walaupun begitu, aku tetap mencintaimu. Karena aku mengenalmu. Ini bukanlah dirimu. Ada hal yang salah makanya kamu bersikap seperti ini. Aku tau itu. Ada yang tidak baik-baik saja. Hatimu, mungkin. Karena jika semuanya baik-baik saja kamu tidak akan seperti ini, kamu tidak akan bersikap begini.
Kau tau, aku sedih setiap kali mengingat hal ini.

Aku menginginkanmu untuk menjadi imamku. Aku ingin menikah denganmu. Hidup denganmu. Bersama denganmu selamanya.

Aku menginginkamu.

Tapi sikapmu yang sekarang membuatku ragu. Membuatku ragu akan pilihanku sendiri. Membuatku ragu akan keyakinan yang dulu ku percayai dengan sepenuh hati. Membuatku ragu terhadap dirimu.
Kamu sekarang abu-abu buatku.

Hal ini sebenarnya cukup membingungkan. Aku tidak tau harus cerita pada siapa. Jadi daripada memendam perasaan lebih baik ku tuangkan dalam bentuk tulisan dengan sedikit harapan kamu membacanya dan dapat mengambil sikap terhadap apa yang ku maksud.

Untukmu, manusia yang ku maksud dalam tulisan ini, ketahuilah bahwa aku tidak pernah menceritakan, memberitahukan kepada siapa pun tentang apa yang ada dalam tulisan ini, jadi ku harap kamu tidak marah dengan beranggapan duluan bahwa hal ini lebih dulu ku ceritakan kepada orang lain dibanding dirimu. Tenanglah, aku tidak akan memberitahukannya kepada orang lain. Lagipula, jika ada waktu dan kesempatan, aku akan memberitahukan langsung hal ini kepadamu.

Jikapun ada yang membacanya sebelum kamu, kemungkinan besar dia tidak akan tau siapa yang ku maksud. Kecuali mungkin beberapa makhluk aneh yang ku sebut sahabat, hehe. 

Kamis, 09 Maret 2017

Mulai Menulis (Lagi)


Samata, 10 Maret 2017

Saat ini usia 18 tahun, mahasiswi semester 2 Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dan alhamdulillah sehat tanpa kurang satu apapun. Sudah lebih satu tahun aku tidak pernah menulis lagi dan hanya menyimpan semua opini dan kenanganku dalam pikiranku sendiri. Entah kenapa tapi itulah faktanya. Aku mulai malas menuangkan semuanya dalam bentuk tulisan, padahal ada banyak sekali hal yang terjadi dalam satu tahun terakhir ini dan sangat disayangkan sekali jika akhirnya cerita itu akan ku lupakan hanya Karena kemalasanku untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Kuliah hari ini mulai jam setengah dua dan tampaknya aku bangun terlalu pagi, tapi bukankah kita memang seharusnya bangun pagi untuk menyambut rezeki? Tidak ada yang membenarkan tentang tidur pagi, baik itu dalam pandangan agama maupun dari segi kesehatan. Pagi hari khususnya sesudah shalat subuh malaikat turun ke bumi untuk mencatat siapa saja hamba Allah yang sudah bangun melaksanakan shalat subuh dan memulai aktivitasnya lalu membagikan rezeki kepada orang-orang tersebut, rezeki memang telah diatur oleh Allah tapi kan tidak ada salahnya juga mencari bonus rezeki dengan cara tersebut. Bangun subuh juga memiliki banyak manfaat bagi tubuh dan kesehatan. Setelah mengetahui semua keutamaan bangun subuh, entah kenapa aku tetap saja susah bangun subuh dan lebih memilih untuk tidur.

Sebelum tugas mulai menumpuk dan kesibukan kuliah menyita waktuku, maka aku akan membuat kebiasaan baru, tepatnya mengembalikan lagi kebiasaanku yang dulu dan sempat ku tinggalkan hampir satu tahun belakangan ini. Aku akan mulai menulis lagi. Menulis di blog, curhat, atau hanya sekedar membuat tulisan tidak bermanfaat untuk mengisi waktu seperti yang ku lakukan saat ini.

Setengah dua masih lama dan aku tidak tau harus melakukan apa untuk membunuh waktu. Tidur, bosan. Main hp, bosan. Belajar, oke tampaknya kegiatan yang satu ini bermanfaat tapi sayangnya moodku untuk belajar sedang dalam proses pembangunan. Mencuci, itu bisa ku lakukan besok, lagipula besok weekend dan tentunya aku akan bertambah bosan jika tidak punya kegiatan yang harus dilakukan. Kerja tugas, hmm ya tugasku sudah mulai banyak tapi jika masih bisa dikerjakan besok kenapa harus dikerjakan sekarang haha ~ Gak ding, aku hanya tidak punya bahan untuk mengerjakan tugas, rencananya nanti aku akan ke kampus setengah jam lebih cepat dari jadwal kuliah untuk kemudian pergi numpang wifi di rektorat untuk mencari bahan tugas.

Ya, aku sudah mempersiapkan dan merencanakan semuanya tapi aku tidak punya rencana apa yang akan ku lakukan pagi ini. Nanti malam weekend dan setelah dapat bahan untuk kerja tugas nampaknya weekendku hanya akan ku isi dengan mengerjakan tugas. Aku sebenarnya lebih suka seperti itu daripada diam tidak melakukan apa-apa. Terlalu banyak waktu yang terbuang percuma padahal sebenarnya ada banyak hal yang bisa dilakukan.

Aku juga sebenarnya rindu menulis. Selain public speaking, berpidato, ceramah, diskusi, berbicara di depan umum, dan hal-hal semacam itu, hal lain yang tampaknya cukup ku kuasai adalah menulis. Sebenarnya belum bisa dikatakan menguasai, tapi setidaknya aku dapat melakukan hal-hal tersebut dengan cukup baik. Bagiku menulis tidak terlalu berbeda dengan berbicara. Kamu hanya perlu menuliskan apa yang ada dalam kepalamu seperti saat kamu berbicara. Bagiku menulis segampang itu.

Saat kamu punya opini tapi tak bisa memberitahukannya kepada orang lain atau tidak mendapatkan tempat untuk mengutarakan opini tersebut, maka jadikanlah opini itu sebagai sebuah tulisan.
Aku memang belum mempunyai karya dalam bentuk tulisan sehingga aku tidaklah terlalu pantas untuk mengajari orang teknik menulis, selain itu tulisanku pun masih acak-acakan, berantakan, dan tidak tersusun dengan rapi. Tapi setidaknya melalui tulisanku aku dapat mengisi waktu dan menghilangkan kebosananku.


Minggu, 21 Februari 2016

Pidato Narkoba



Melihat statistik di blog ini, postingan yang paling banyak di baca adalah postingan yang berhubungan dengan pelajaran seperti Makalah Kewarganegaraan : Organisasi - Organisasi Internasional dan postingan yang berhubungan dengan saying-sayangan seperti Katanya Sayang, Tapi ....

Nah, maka dari itu tampaknya tidak ada salahnya jika saya kembali memposting hal yang berhubungan dengan pelajaran. Selain itu menaikkan statistic blog, juga untuk berbagi kepada teman-teman yang ada di luar sana agar memudahkan untuk menemukan tugas yang dicari.

Kali ini saya akan memposting sebuah naskah pidato yang berhubungan dengan narkoba. Sebenarnya naskah ini saya buat dengan meng-copypaste beberapa artikel yang ada di internet. Hasil yang saya dapat menurut saya kurang memuaskan dan tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Maka berdasarkan materi yang telah ada, saya merangkainya kembali menjadi sebuah naskah pidato yang sesuai dengan yang saya inginkan.

Hasilnya memang cukup panjang disbanding naskah pidato lain yang bertebaran di internet, tapi sebagai seseorang yang sudah pernah menjuarai lomba pidato tingkat kabupaten, jika kalian membawakannya dengan cara yang tepat, pidato berikut akan memakan durasi tepat 10 menit. Sesuai dengan waktu yang ditetapkan untuk membawakan sebuah pidato yaitu selama 7-10 menit.

Selain itu, pidato di bawah ini juga sudah sesuai dengan kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang benar. Jadi kalian tidak usah takut jika nanti guru Bahasa Indonesai kalian mengoreksi pengetikan ataupun penulisan dari naskah pidato tersebut.

Saya kira tak usah berpanjang lebar karena saya yakin kalian tidak akan membacanya.

Here We Go !! Pidato Narkoba sebanyak 2 lembar. Semoga Bermanfaat !!

…

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Yang terhormat Ibunda Andi Husnawati
Dan hadirin yang berbahagia

Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat berkumpul di sini dalam keadaan sehat wal afiat. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabiullah Muhammad SAW dan semoga kita mampu meneladaninya.

Sebagai pembuka dari apa yang akan saya sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatan yang telah diberikan untuk menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan narkoba yang merupakan tema dari pidato kali ini.

Menurut WHO, Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif atau yang biasa kita kenal dengan NAPZA adalah bahan atau zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan atau psikologi seseorang serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi.

Hingga kini penyebaran dan penyalahgunaan narkoba sudah hampir tidak bisa dicegah. Mengingat hampir seluruh penduduk Indonesia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Hadirin yang saya hormati,
Seperti yang kita ketahui, narkoba dapat menyebar dengan cepat layaknya wabah. Berdasarkan Laporan Akhir Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba tahun anggaran 2014, jumlah penyalahguna narkoba diperkirakan ada sebanyak 3,8 juta sampai 4,1 juta orang yang pernah memakai narkoba dalam setahun terakhir pada kelompok usia 10-59 tahun pada tahun 2014 di Indonesia. Jadi, ada sekitar 1 dari 44 sampai 48 orang berusia 10-59 tahun masih atau pernah pakai narkoba pada tahun 2014. Angka tersebut terus meningkat dengan merujuk hasil penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional dengan Puslitkes UI dan diperkirakan jumlah pengguna narkoba mencapai 5,8 juta jiwa pada tahun 2015.

Berdasarkan data tersebut, bukan hanya orang tua dan dewasa saja yang menjadi korban, tapi juga remaja, terutama para pelajar yang masih duduk di bangku sekolah. Sebagai generasi penerus bangsa sudah seharusnya bagi para pelajar untuk dapat menjauhkan diri dari jeratan narkoba, karena hal ini dapat mengganggu konsentrasi dan fokus belajar serta mematikan kreatifitas.

Selain itu, penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lainnya itu tentu membawa dampak yang luas dan kompleks. Antara lain ialah perubahan perilaku, gangguan kesehatan, menurunnya produktivitas kerja secara drastis, kriminalitas dan tindak kekerasan lainnya. Hal ini tentu saja bisa membuat orang tua, organisasi masyarakat, dan pemerintah khawatir. Upaya pemberantasan narkoba pun sudah sering dilakukan. Namun masih sedikit kemungkinan untuk menghindarkan narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa.

Hadirin yang saya hormati,
Melalui media cetak dan elektronik kita dapat menyaksikan bagaimana para pengedar narkoba membangun jaringan dalam rangka menjual dan mengedarkan barang tersebut. Dari jaringan internasional sampai pada gerbong-gerbong narkoba melalui kurir dan dikemas secara rapi kemudian diedarkan hingga sampai pada daerah-daerah pelosok. Bahkan sampai pada lembaga pemasyarakatan yang notabene merupakan tempat untuk membuat efek jera bagi siapa saja yang melanggar hukum. Termasuk para pengedar dan pengonsumsi narkoba.

Sebenarnya ketentuan hukum yang mengatur tentang ancaman hukuman bagi pengedar dan pengguna narkoba ini telah di atur dalam undang-undang, dengan ancaman dan denda yang berat. Namun masih banyak orang yang tidak memperdulikan hal tersebut.

Jika lembaga pemasyarakatan yang setiap waktunya ada pemeriksaan dan pos penjagaan mampu mereka lewati untuk mengedarkan nakoba, lantas bagaimana dengan lembaga pendidikan ? Pelajar yang secara usia dan psikologis umumnya memiliki tingkat emosional yang labil dan pola pikir yang belum matang sangat rentan untuk terpengaruh dan tertarik dengan hal-hal yang menurut mereka baru. Dan ini menjadi ruang bagi para pengedar narkoba untuk mempengaruhi dan menghasut para pelajar untuk menggunakan narkoba dengan dalih sebagai gaya hidup dan trend remaja masa kini.

Hadirin yang saya hormati,
Untuk menghindari dan mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di lingkungan sekolah, upaya yang dapat dilakukan adalah menanamkan kesadaran dan pengetahuan tentang bahaya narkoba pada setiap anak didik, menciptakan suasana lingkungan sekolah yang sehat dengan membina huibungan yang harmonis antara pendidik dan anak didik, serta meningkatkan pengawasan anak sejak masuk sampai pulang sekolah.

Sebagai kesimpulan, narkoba adalah musuh bersama. Marilah kita bersama-sama memerangi narkoba dan menyelamatkan generasi emas penerus bangsa ini dari jeratan narkoba. Demikianlah pidato yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas segala perhatian dan kesempatan. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Minggu, 07 Februari 2016

Catatan Akhir Sekolah : Story Of The Real Kesurupan Part 2


Cerita tentang Amoy belum berakhir.

Setelah sampai di rumahnya, dia sadar kembali. Teman satu kostnya memapahnya masuk ke rumah. Anehnya, Amoy tidak mau diantar sampai di kamarnya. Dia hanya ingin berbaring di ruang tamu. Beberapa saat kemudian tantenya datang, dan dia pingsan lagi.

Bapakku mengusapkan air yang telah dibacakan ayat-ayat Allah kemukanya, dan dia mengelapnya. Hebat ! Dia mengelap air yang dibasuhkan ke mukanya. Padahal kan itu Cuma air biasa. Dia juga dipaksa untuk meminum air tersebut dan dia menolak. Ngeyel juga nih setan. Itu pertama kalinya aku menyaksikan orang kesurupan yang melawan seperti itu. The Real of Kesurupan.

Benar-benar menyusahkan setan satu ini. Kadang pingsan, kadang sadar. Kalau aku yang jadi pengusir setannya, sudah daritadi aku lemparkan dia kursi. Karena sudah berkali-kali ayat kursi dibacakan tapi dia tidak bereaksi apapun.

Dibacakan Surah Yasin dia juga tetap tidak merespon. Dia hanya ngomong, “Udah, gak usah ngaji. Gak bakalan mempan !”. Wah, kurang ajar nih setan. Tapi itu adalah pertama kalinya aku liat langsung orang kesurupan yang ngomong. Selama ini Cuma liat orang kesurupan yang teriak-teriak gak jelas maunya apa.

Surah Yasin tetap dibacakan. Memasuki pertengahan Surah Yasin barulah dia ngomong, “Berhenti mengaji. Badanku Sakit !”. Lah, tadi katanya gak mempan. Rasain, kesakitan juga kan sekarang.

Dia kembali mengamuk karena merasa kesakitan. Amoy berusaha meraih-raih orang yang membacakannya Surah Yasin. Melempar apa saja yang ada didekatnya. Aku terkena lemparan bantalannya. Oke, itu agak mengagetkan. Tidak lama kemudian, karena tidak juga berhasil mendapat orang yang membaca Surah Yasin dan semua barang sudah habis dilemparnya tanpa disangka-sangka dia bangun dan berdiri. Oh Tuhan, keadaan ini terlalu mencekam di siang hari yang panas ini. Wajahnya merah, matanya pun demikian. Menyiratkan amarah dan emosi yang meluap-luap.

Untung saja Bapakku bisa mengendalikannya. Jika tidak maka akan terjadi adegan berbahaya yang hanya dilakukan oleh professional *apaan.

Karena setannya ngeyel maka proses pengusirannya pun memakan waktu yang cukup lama. Mulai dari jam 14.00 sampai jam 15.30, gara-gara itu aku terlambat pergi les Matematika.

Terima kasih untuk pengalamannya, Amoy.

 
ReKerNoPis Blogger Template by Ipietoon Blogger Template