Tampilkan postingan dengan label seru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seru. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Maret 2015

First Time Teaching


Galau ? Hahaha. Udah gak zaman. Masalah yang kemarin biarlah berlalu. Mungkin sakitnya akan tetap terasa hingga beberapa waktu ke depan. Tapi Insya Allah aku bisa mengabaikan rasa sakit itu dan melakukan sesuatu yang lebih berguna di banding menangis seharian di kamar dan membuang waktu berharga yang ku miliki hanya untuk meratapi seorang pengkhianat.

Kalau kata Mr. Charming sih sekolah aja dulu yang benar. Jangan mikir yang gitu-gituan dulu.

Aku kadang heran dengan diriku sendiri. Aku lebih mendengarkan apa yang orang lain katakan dibanding apa yang orangtuaku sendiri katakan. Dasar. Remaja Labil.

Huft !!

Banyak yang berkecamuk di hati ini. Banyak yang ingin ku tuliskan. Segala kesal, amarah, sedih, dan kecewa. Ingin ku tumpahkan semua itu agar aku dapat merasa sedikit tenang. Tapi itu semua hanya akan membuatku tampak seperti gadis lemah yang melankolis. Sedikit-sedikit nangis. Sedikit-sedikit galau. Hmm. Apaan coba ? Aku gak mau kelihatan seperti itu.

Lagi pula ini semua belum berakhir. Jadi aku gak mau bersikap berlebihan terhadap situasi ini. Kalau aku bertindak berlebihan, terus pada kenyataannya semuanya baik-baik saja, kan aku jadi malu sendiri. Sudah galau dan menangis duluan tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Jadi, daripada bergalau ria, aku akan bercerita tentang apa yang terjadi hari ini.

Merupakan moment bersejarah juga sih. Jadi hal ini pantas untuk di ceritakan.

Aku memang telah beberapa kali tampil di depan kelas untuk menjelaskan sesuatu kepada teman-temanku. Entah itu dalam suasana diskusi, menjawab pertanyaan guru, atau presentasi tugas. Aku selalu suka saat-saat seperti itu. Karena aku akan merasa sebagai yang paling pintar dan menguasai materi itu. Semua mata akan tertuju padaku dan mendengarkan penjelasanku.

Aku juga suka saat ada yang bertanya dan aku bisa menjawab pertanyaannya. Aku merasa bangga jika bisa menjawab pertanyaan itu dengan penjelasan yang sempurna karena aku merasa bisa mengalahkan yang bertanya.

Ya, sosok seperti itulah aku. Aku suka saat menjadi pusat perhatian dan bisa menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Berasa jadi orang pintar gitu. Hehehe.

Tapi saat melakukan “pertunjukan”, aku sudah menyiapkan semua materi yang akan ku sampaikan. Jadi saat tampil nanti, aku bisa tampil sempurna karena aku menguasai materi itu.

Tadi, Mr. Charming menyuruh kami untuk menjadi guru. Mengajarkan kembali apa yang telah kami pelajari tentang tenses.

Mengajar ? Ya Ampun. Sebelumnya aku belum pernah mengajar. Aku memang sering tampil di depan kelas, tapi itu bukan untuk mengajar, tapi untuk menjelaskan sesuatu kepada teman-temanku. Itu sama saja bodoh.

Pada saat itu aku sudah siap dan menguasai materi yang akan ku sampaikan. Bukan dadakan seperti ini tanpa ada persiapan sebelumnya. Mau ngomong apa di depan nanti ? Belum lagi Mr. Charming tidak memberikan kesempatan untuk menyiapkan materi yang akan ku jelaskan.

Bisa mati kutu nih aku kalau gini modelnya.

Parahnya lagi, aku di tunjuk sebagai orang pertama. Resiko deh jadi President. Apa apa pasti yang di suruh pertama itu President. Aku juga manusia biasa kakak. President itu hanya jabatan saja. Bukan berarti aku bisa melakukan segala sesuatunya lebih baik dari yang lain ‘kan ? Tapi ya, ku terima tanggung jawab itu. Sebagai President aku memang harus memberikan contoh yang baik kepada anggotaku bukan ? Jadi aku menerima semua itu.

Maka majulah aku ke depan setelah melalui perdebatan singkat dengan Mr. Charming yang di tutup oleh kalimat Mr. Charming yang berbunyi “Yang saya tunjuk naik saja. Saya tidak ingin mendengar alasan dari kalian.”

Saat seorang guru sudah berkata seperti, itu merupakan sebuah peringatan bahwa hal itu harus segera dilaksanakan, karena jika tidak maka hal yang terjadi selanjutnya merupakan sesuatu yang tidak dapat di jangkau oleh akal dan pikiran. Apaan sih.

Aku pun mengambil spidol hitam yang di sodorkan Mr. Charming kepadaku, lalu sambil memikirkan apa yang akan ku katakan nanti, aku pun maju ke depan kelas.

Duh ! Mau ngomong apa nih ?!

Sumpah. Tadi tuh aku benar-benar kosong banget. Gak tau mau ngomong apa dan mau memulainya dengan kalimat apa. Blank !!

Yang ku lakukan hanya berdiri di depan papan tulis sambil memperhatikan wajah teman-temanku yang seakan-akan menungguku melakukan hal yang menakjubkan. Di tambah lagi dengan tatapan tidak mengenakkan dari Mr. Charming karena dia memperhatikanku dan juga menungguku melakukan sesuatu. Dia berlagak seperti siswa. Dia benar-benar menempatkanku dalam posisi yang sulit kali ini.

Hal pertama yang ku lakukan adalah menghapus papan tulis. Kebetulan tadi papan tulisnya kotor. Setelah itu aku membagi dua papan tulis tersebut. Aku belajar hal itu dari Kakak Chia.

Hal selanjutnya yang ku lakukan ?

Mundur selangkah demi selangkah menuju ke kursi guru sambil tetap memikirkan apa yang akan ku katakan untuk membuka “pelajaran” sore ini.

Lalu Mr. Charming menoleh dan mendapatiku tengah menjauhi papan tulis. Dia mengeluarkan tatapan herannya. Aku hanya bisa nyengir menanggapi tatapan itu.

“Aku harus ngomong apa ?”, Tanya ku setengah putus asa.

“Pada sore hari ini saya akan mengajarkan tentang Tenses. Begitu saja.”, kata Mr. Charming memberi contoh.

Okelah kalau begitu. It’s show time.

Maka mulailah aku menulis “FUTURE TENSE” di papan tulis. Itulah materi yang dipercayakan Mr. Charming kepadaku untuk ku jelaskan kembali.

And … Tadaaaa !!

Walaupun agak terbata-bata karena aku tidak mempunyai persiapan yang cukup dan harus menghadapi hal yang dadakan seperti ini, but over all, i’m doing great.

Setelah diawal-awal aku mengalami tekanan batin menghadapi semua ini, tapi Alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya dengan bagus dan tuntas.

Yup !

Itulah pengalaman pertamaku mengajar. Spesifiknya mengajar bahasa Inggris kepada 4 orang “siswa” di tambah satu orang “pengawas”.

Senin, 30 Desember 2013

Rabu Sial


Ku mulai hari ini dengan senyuman cerah berharap hari ku dapat berjalan dengan lancar dan baik-baik saja. Sesampai di sekolah, semuanya baik-baik saja sampai pelajaran pertama berakhir. Memasuki pelajaran kedua, mood yang sudah ku ciptakan sedemikian mungkin agar tetap baik akhirnya hancur hanya karena sifat egois ku muncul secara tiba-tiba.

Di mulai dari saat itu, semuanya berantakan. Ulangan susulan yang harusnya merupaka hal biasa dan merupakan konsekuensi karena ketidakhadiranku minggu lalu menjadi awal mula jengkel dan kesal itu muncul.

Sehabis istirahat, pelajarn Fisika di mulai, tapi aku tidak masuk karena di panggil oleh Wakamad Kesiswaan untuk persiapan LCC minggu depan. Tetapi hal tersebut tidak memakan waktu satu jam pelajaran, paling hanya beberapa menit dan kami di izinkan kembali ke kelas untuk mengikuti proses pembelajaran.

Namun sialnya, tanpa sepengetahuanku, aku di alpa. Padahalkan aku di panggil untuk kepentingan sekolah, bukan kepentingan pribadi. Tambah rusak lah mood ku saat itu. Sial, guru koq gak pengertian banget sih, kan ada pemberitahuan dan keterangan dari teman-temanku, napa harus di alpa sih ?, gerutuku dalam hati.

Belum cukup kesialanku hari ini, PR yang di berikan seminggu yang lalu belum sempat ku selesaikan karena aku tidak mengerti dengan materi pembahasannya. Sebagai hukuman karena tidak mengerjakan PR, aku dan beberapa temanku yang lain yang juga tidak mengerjakan PR di suruh berdiri di depan kelas sampai ada yang bisa mengerjakan PR tersebut walaupun hanya satu nomor.

Ingin rasanya menangis saat itu. Aku mau menangis bukan karena di suruh berdiri, tapi karena kesal pada kejadian hari ini. Pengambilan nilai olahraga, tidak tuntas. Sosiologi, susulan lisan dan harus tuntas sebelum minggu depan. Fisika, di alpa, di suruh berdiri, dan di beri ceramah gratis. Arrgghh !!! Cukup sudah kesialanku hari ini. Tapi sayang, hari itu belum berakhir. Masih ada dua pelajaran lagi sebelum aku bisa bebas dari belenggu pelajaran ini.

Untunglah, pelajaran biologi tidak semenyeramkan pelajaran-pelajaran lain pada hari ini. Biologi, aku bisa agak santai dalam meneriman pelajaran karena materinya ringan dan mudah untuk di pahami. Tapi hanya satu pelajaran itu aku bisa santai.

Kelas tambahan sore, ulangan Fisika menanti. Ingin rasanya cepat-cepat pulang.

Tapi tidak semua dari hari berjalan dengan buruk. Hari ini juga, aku merajut kenangan dengan “dia”, “dia” mengajariku bersepeda. Dan alhamdulillah, berhasil, walaupun masih kurang lancar. Walaupun begitu, kegiatan merajut kenangan tersebut tetap berakhir dengan bencana, sepeda yang ku gunakan untuk belajar bannya berhasil bocor dengan sempurna karena masuk ke dalam terali got dan harus di ganti.

Tak apalah. Yang penting hari ini aku masih bisa tertawa lepas dengannya.

Sabtu, 18 Mei 2013

Pemberontakan Yang Mengharukan


Pernah nih, satu kali.Waktu itu minggu pertama kami belajar Matematika dengan guru baru, sebenarnya sih tidak baru, dia mengajar di kelas 1 tapi tidak mengajar di kelas 3, jadi aku bilang "baru" karena dia baru saja mengajar di kelas 3.

Guru baru, tentu saja suasana baru. Jadi kami, siswa kelas 3, harus beradaptasi lagi dengan suasana baru yang di ciptakan guru ini di kelas kami yang tenang dan menyenangkan. Sayangnya, guru ini tidak terlalu menyukai suasana kelas kami yang, ya memang, kelas kami kelebihan kapasitas, tapi itulah serunya, karena kelas kami kelebihan kapasitas, jadi otomatis kelas kami tuh ribut, heboh, penuh sesak, susah di atur, dan apalah yang lain.

Coba kalian bayangkan sendiri, 32 remaja yang baru saja akan memasuki masa dewasa dan tengah berada di masa puncak kenakalannya berkumpul dalam satu ruangan yang tidak cukup besar untuk siswa sebanyak itu.

Mungkin karena hal itu, guru tersebut, sebut saja Ibu Tina, dia selalu saja marah-marah setiap masuk kelas kami. Awalnya kami pikir, dia sedang datang bulan, makanya dia marah-marah terus, eh, setelah satu bulan berlalu, dia masih saja marah-marah.

Kami tentu saja tidak akan terima begitu saja kami di marahi setiap pertemuan, akhirnya, kami pun melakukan pemberontakan. Dan yang paling semangat melakukan pemberontakan itu adalah sahabat terbaikku, Alim.

Dian merupakan orang yang paling bersemangat melakukan pemberontakan karena dia adalah siswa yang paling sering jadi korban kemarahan Ibu Tina. Gimana gak jadi korban ?? Wong dia anaknya nakal gitu. Setiap guru pasti bakalan geregetan ngeliat tingkah dia.

Hari itu merupakan hari pelaksanaan rencana kami yang telah kami atur dan susun dengan rapi di asrama. Rencananya, kami semua akan keluar kalau Ibu Tina menyuruh kami keluar supaya gak ada yang tersisa di kelas dan dia kapok mengajar di kelas kami.

Seperti hari-hari biasanya, Ibu Tina masuk ke kelas kami dengan susana hati yang kusut belum di setrika. Seperti biasa juga, hari itu kami menyambut Ibu Tina dengan wajah yang biasa-biasa saja. Tanpa Ibu Tina tau, kalau di dalam otak kami sudah ada rencana yang bisa di bilang rencana kurang ajar.

Pelajaran pun di mulai seperti biasa. Suasana kelas sunyi senyap kayak di kuburan karena emang gak ada yang berani nanya kalau Ibu Tina yang mengajar. Siswapun di landa kebosana karena belajar di kuburan, eh maksudnya suasananya kayak kuburan.

Ritual yang biasa kami lakukan kalau sedang bosan adalah ngobrol dengan teman di samping kiri-kanan depan-belakang. Maka suasana berubah 100%, kelas yang tadinya sunyi senyap kayak kuburan menjadi rame kayak pasar.

Ocehan terdengar di mana-mana. Tanduk Ibu Tina langsung keluar dan............. dia marah-marah. Kami pun diam seketika. Bukannya takut sama semburan marah-marah Ibu Tina. Tapi kami jengkel karena di marahin terus. Kami diam bukan berarti kami patuh. Kami diam tapi dalam hati kami menggerutu.

Sambil malas-malasan kami kembali mendengarkan kicauan Ibu Tina. Kayaknya rencana harus di jalankan nih. Dalam kebosanan itu, salah satu ritual lain yang pasti akan di lakukan siswa adalah tidur dalam kelas. Dan yang yang jadi mangsa Ibu Tina hari itu adalah Alim.

Dia kedapatan tidur dalam kelas. Ibu Tina menegurnya dengan bilang kayak gini,"Alim, kalau masih mau tidur, tidur saja di sini, di depan kelas.". Itu sih maksudnya teguran. Tapi entah kenapa, Alim malah menganggapnya sebagai perintah dan menjalankannya.

Itu sebenarnya merupakan bentuk protesnya Alim, karena dia paling sering di mangsa sama Ibu Tina. Tidak cukup hanya tidur di depan kelas, Alim pun mengajak sahabat terbaiknya, Laits, untuk tidur di depan kelas bersamanya.

Jelas saja Ibu Tina marah besar. Giman gak marah ? Seorang guru matematika yang terkenal pintar di kalangan para guru di permainkan dan di perlakukan bak orang bodoh oleh siswanya sendiri di hadapan 30 siswa yang lain. Pasti malu banget tuh.

Akhirnya Ibu Tina mengeluarkan senjata pamungkasnya dan paling sering di gunakannya kalau dia sudah tidak bisa mengendalikan kami.

"Yang mau saja belajar di dalam. Yang tidak mau belajar, SILAHKAN KELUAR ! Pintu terbuka lebar untuk kalian. Saya tidak akan menahan kalian. Bla...bla...bla...bla..", maaaasiiihh banyak lagi ocehan Ibu Tina hari itu.

Senjata itu lah yang kami jadikan sebagai boomerang untuk melawan kembali. Rencana yang telah di susun pun kami laksanakan. Di awali dengan Alim yang telah dendam kesumat ke Ibu Tina, di ikuti oleh Laits, dan beberapa santri putra yang lain.

Awalnya hanya beberapa saja yang keluar. Beberapa lebih memilih di dalam. Mereka yang di dalam takut mengambil resiko. Termasuk ya bikin ide itu sendiri. Hehehehe. Sebenarnya penggagas ide itu adalah santri putri, tapi kami sendiri malah adem ayem aja dalam kelas tanpa beranjak sedikitpun.

Santri yang udah ada di luar pun mengancam dan marah,"Wah, gak solid nih !! Keluar donk .. !! Keluar .. !!", kata mereka marah-marah di luar kelas.

Bahkan ada beberapa santri putra yang masuk kembali ke dalam dan menarik ke luar santri putra yang masih ada di dalam.

Alhasil, santri putra yang ada di dalam tinggal 3 batang dan santri putri yang ada di dalam utuh, 12 lobang. Hehehehe. Penghianat kelas nih. Wkwkwkwkwk ...

Dalam hati kami kurang puas sekaligus takut, kami kecewa karena rencana kami tidak berjalan dengan sempurna, tapi kami juga takut akan apa yang akan terjadi selanjutanya pada kelas kami. Kami takut nanti malah akan tambah parah, di marahi dari guru-guru yang lain.

Di luar dugaan dan di luar rencana, tiba-tiba Ibu Tina terisak. Dia menangis. Ya ..!! DIA MENANGIS. Ibu Tina menangis.

Kami kaget. Loh ? Koq ? Ada apa ini ?? Kenapa ?? Koq Ibu Tina nangis ?? Dosa dong kita .. !! Malah dia
pake ngadu lagi ke suaminya. Ya, waktu dia nangis tuh, dia sempat telpon suaminya dan mengadukan apa yang telah kami lakukan ke dia.

Gawat nih .. !! Bisa runyam nih masalahnya. Pada kondisi seperti itu, hati kecil kami tersentuh. #hati kecil #sookk .. Kami maju ke meja guru dan mencoba menenangkan Ibu Tina.

Gak tau juga kenapa. Kayaknya kelas tiga emang puncaknya nakal ya. Perasaan dulu aku gak nakal-nakal banget. Apalagi sampai berani melawan guru. Tapi, lihatlah aku hari ini. Nakalnya kebangetan sampe bikin guru nangis.

Kami berhasil membuat guru killer nangis gara-gara tingkah kami. Padahal rencana awalnya gak sampe bikin guru nangis.

Hmmm.. Pemberontakan yang kami lakukan malah menyebabkan duka.






Nb : Jangan di tiru ya kawan-kawan ....

Minggu, 12 Mei 2013

Happy Birthday, My Best Friend .. !!

15 tahun yang lalu, bertepatan dengan hari ini, seorang bayi laki-laki lahir dari pasangan entahlah, aku gak tau siapa nama orang tuanya. Yang pasti bayi itu sekarang udah besar dan menjadi sahabat terbaikku. Ini dia penampakannya. *kabuuurr ,, Alim lg ngmbil ancang-ancang tuh ..


ini dia bayi yang lahir 15 tahun yg lalu pada tanggal 11 Mei


Sekarang dia udah besar dan hari ini merupakan hari ulang tahunnya. Sebagai perayaan sekligus pengingat, supaya suatu saat nanti aku tidak lupa kalau aku pernah punya sahabat yang aneh, unik, dan antik seperti dia, jadi hari ini aku mau membahas tentang dia dan semua kegilaannya.

Dari foto yang di atas, pasti kesan pertama yang kalian bisa tangkap adalah kalau dia orangnya berantakan, nakal, dan apalah yang lain. Foto di atas sangat mencermikan kalau dia kelihatan sebagai pribadi yang bebas dan gak suka di atur.

Walaupun dalam kehidupan nyata, sebagian besar memang begitu, tapi seperti manusia kebanyakan, dia juga memiliki sisi yang baik. Tapi sayang, sisi baiknya tidak nampak dalam pergaulannya sehari-hari, jadi orang mengenalnya sebagai orang yang nakal.

Oh ya, sampe lupa, nama dia Alim. Lengkapnya Nur Alim Hamzah. Tapi kami biasa memanggilnya dengan Alrhy. Cukup keren sih untuk orang dengan tampang kayak gitu.#ditabokin aliim #larii .. Walaupun dengan berat hati, aku harus mengakui ini, kalau sebenarnya, dia itu sangat sangat sangat sangat baik, perhatian juga.

Dia merupakan anak ke-3 dari 4 bersaudara. Dan kata guru-guru nih, Alim tuh orangnya beda banget di bandingkan dengan kakak-kakaknya. Kakak-kakaknya tuh orangnya baik, penurut, gak nakal, dan sopan. Sedangkan Alim ? Dia bertolak belakang dengan itu semua. Itu sih kata guru.

Kenyataannya ?? Ya emang begitu, dia memang sangat nakal, pembangkang, dan keras kepala. Dia terkenal sebagai murid yang susah di atur.

Pernah nih satu kali. Waktu itu terjadi pergantian guru Matemtika. Jadi guru Matematika kami di ganti, kami di ajar oleh guru kelas 1, dan guru Matematika kami pindah ke kelas 1. Guru ini, sebut saja Ibu Tina, dia selalu saja marah-marah setiap masuk ke kelas kami.

Kami tentu saja tidak akan terima begitu saja kalau kami di marahi terus-menerus. Akhirnya kami pun melakukan pemberontakan. Baca selengkapanya di postinganku yang berjudul "Pemberontakan Yang Mengharukan". Dan yang paling semangat melakukan pemberontakan, ya si Alim ini.

penampakan Alim yang lain

Hari itu Ibu Tina marah besar karena Alim hanya tidur saja dan tidak memperhatikan apa yang sedang Ibu Tina jelaskan. Ibu Tina menyuruh Alim untuk tidur di depan kelas jika dia masih mau tidur di dalam kelas. Maksudnya sih sebagai teguran supaya Alim tidak tidur di kelas lagi.

Tapi dasar Alimnya yang aneh, dia malah melaksanakan apa yang Ibu Tina katakan waktu itu. Dia tidur di depan kelas. Dia tidur telentang di depan kelas. Dia bahkan mengajak sahabat terbaiknya, Laits, untuk tidur di depan kelas bersamanya.

Entah apa yang ada di pikiran Alim saat itu. Dia benar-benar aneh, tapi juga berani. Kami satu kelas, hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah anenhnya Alim yang memperlakukan Ibu Tina bak orang bodoh.

Dia juga terkenal sebagai santri yang paling sering melanggar. Tapi sebenarnya banyak orang yang salah besar menilai Alim.

Aku, sebagai pribadi yang berhati lembut, bergaul dengan siapa saja, dan mau menerima kekurangan orang #apaseeh .. mau bergaul dengan dia bagaimanapun penilaian orang terhadapnya.

Di kacamata kami (sahabat-sahabatnya), walaupun sebenarnya hanya satu orang di antara kami yang memakai kacamata, dia adalah orang yang baik, perhatian, pengertian, dan selalu ada di saat sahabat-sahabatnya lagi butuh.

Dia menjadi penghibur di kala duka menghampiri. Dia selalu bisa membuat orang di sekitarnya tertawa melihat tingkah laku konyolnya, bahkan kadang, guru yang jengkel terhadap sikapnya, dapat tertawa di buatnya.

Bagi kami, Alim adalah orang yang menyenangkan, enak di ajak ngobrol, kalau ngobrol ama dia tuh, kita gak pernah kehabisan bahan obrolan. Pasti ada aja yang bisa di obrolin. Selain itu, Alim juga orangnya gak ngebosenin.

Mungkin cuma itu yang bisa ku ceritakan tentang Alim.

Yang pasti Alim akan selalu ada di hati kami dan akan menjadi kenangan yang indah. :)

Mungkin kayaknya setelah mempost tulisan ini, aku harus segera kabur deh. Takut nanti Alim baca tulisan ini dan dia nabokin aku karena aku udah ngebeberin aibnya di dunia maya. Hhehehehehe .. :) #kabuuurr ... !!

Kamis, 09 Mei 2013

Munaqasyah .. Ancuuurr .. !!

Kemarin, tanggal 8 Mei 2013, semua santri kelas IX SMP dan XII SMA melaksanakan ujian Munaqasyah. Oh ya, munaqasyah itu adalah ujian terakhir yang harus dilaksanakan oleh santri untuk bisa mendapatkan ijazah pondok dan ijazah sekolah. Bnetuk ujiannya adalah menghapal juz 30.

Beberapa minggu sebelum tanggal 8 kemarin, pihak pondok sudah memberitahukan ke kami semua untuk memepersiapkan diri dengan menghapal juz 30. Tapi dasar kaminya aja yang bandel dan malas, pemberitahuan itu hanya di anggap sebagai angin lalu.

Waktu pun berlalu dengan begitu cepat, dan waktuku tinggal seminggu untuk menghapal satu juz. Mama dan Papa yang tau kalau aku harus menghapal sru juz untuk bisa mendapatkan ijazah terus memaksaku untuk menghapal.

Aku yang malasnya ampun-ampunan, apalagi di suruh menghapal, gak bakalan maulah. Gak menghapal juga pasti bisa koq dapat ijazah. Pikirku saat itu. Satu minggu yang tersita yang ku lakukan hanyalah bersantai di rumah.

Sekalipun menghapal, aku hanya mengulang beberapa surah yang memang sudah ku hapal. Supaya nantinya kalau aku gugup, aku gak bakalan lupa.

Hari H pun tiba. Berhubung saat itu aku lagi gak ada di pondok, jadi aku datang ke pondok pagi-pagi sekali, sekitar jam 7 lah. Setelah sampai di asrama, temanku yang tadinya ada di rumah semua udah pada nongol di sini.

Aku sempat protes, gimana sih ?? Gak solid banget !! Katanya datangnya nanti, Rabu pagi, barengan, koq kalian udah pada di sini semua ?? Selidik punya selidik, ternyata mereka tuh datangnya kemarin sore. Yaa !! Curang .. Tapi gak apa-apalah, ada koq tiga orang lain yang datangnya Rabu pagi juga.

Aku ke pesantren di antar sama sopir dan juga mama. Sebelum pergi, mama sempat pesan ke aku, "Nanti kamu gak usah ikutan cerita sama teman-teman kamu. Lebih kamu mojok noh di pinggiran terus ngulang-ngulang hapalan kamu", kata mama dengan nada mengancam

Aku sih ngangguk-ngangguk aja kayak kebo mau di kurban. "Iya, ma. Iya. Aku pasti menghafal koq. Mama tenang aja.". Setelah mobil pergi dan gak keliatan lagi, bukannya melaksanakan wejangannya Mama, aku malah ikut-ikutan nimbrung ama teman-temanku yang udah asyik ngobrol dari sebelum aku datang.

Yaaahh, maklumlah, namanya juga perempuan. Bahan obrolannya gak pernah habis.

Acara yang di jadwalkan mulai pukul 07.30, molor dua setengah jam sampai pukul 09.00. Gimana gak ? Pesertanya aja jam segitu masih pada santai-santai di asrama. Malah ada yang belum mandi lagi. Kacau nih negara kalau calon penerusnya kayak gini. JAM KARET .. !!

Pimpinan pondok udah berkali-kali manggil kami lewat mic di kantor diniyah. Tapi seakan mengaggap itu angin lalu, kami cuma menjawab dari asrama,"Iya, Tad !! Tunggu bentar .. ". Kurang ajar nih pesantren, udah bebas aturan sih, makanya berulah. Hehehehehe. #ditabokin ustadz..

Setelah kesadaran kami pulih, karena tadi kami tidak sadar, kami akhirnya kasian juga mendengar ustadz udah capek manggil kami daritadi. Setelah semua siap, semua udah selesai dandan, udah pada akur lagi setelah tadi berebut cermin (cermin di asrama tuh cuma ada dua, dan yang mau pake cermin ada 10 cewek unik yang cantik, imut, kalem tapi kadang bisa beringas juga kalau lagi marah), udah pada harum, pokoknya semua udah selesai, barulah kami rombongan pergi ke aula.

Setelah di teliti lebih cermat, kami mau pergi ulangan tapi kayak mau pergi kondangan. Gimana gak ?? Gayanya itu looohh .. !! Cantik-cantik semua *emang udah cantik dari sononya .. Semuanya pada pake gamis dan jilbab segitiga, beneran kayak mau ke pesta. Kami malah ketawa sendiri setelah menyadari hal itu.

Di depan aula, udah ada ustazd yang jadi musuh bebuyutanku sejak aku masuk di pesantren, namanya gak usah di sebutin deh, dia udah manggil-manggil. Dia nyuruh kami cepat-cepat jalan, katanya tinggal kami yang di tunggu.

Wahh .. !! Berasa kayak orang penting. Ternyata benar, tinggal kami yang di tunggu, setelah kami duduk rapi, anggun dan manis, *mencerminkan muslimah pesantren karena lagi banyak orang, kan malu kalau nunjukin sifat asli di depan banyak orang. Hehehehe. acara baru di mulai.

Ada banyak orang dalam ruangan. Beberapa guru, orang tua santri, pembina, dan santri berkumpul di aula. Kini, semua yang aku anggap biasa-biasa saja, semua yang aku anggap remeh, aku sendiri malah mulai takut menghadapinya.

Ada banyak orang !! Bagaimana ini ? Nanti kalau aku lupa ato gak tau gimana ? Waduh, bisa malu nih .. !! Keringat dingin mulai mengucur membasahi tubuhku. Ku buka Al-Qur'an kecil yang ku bawa dan mengulang-ngulang hafalanku.

Aku gugup. Suasananya beda jauh dari yang ku bayangkan. Ku pikir hanya sedikit orang yang akan datang. Ku kira kami menghapalnya di masjid, bukan di aula. Malah pake mic lagi. Bertambahlah rasa gugupku.

Tapi tidak tau kenapa, setelah lama kelamaan, rasa gugup itu mulai hilang. Aku malah asyik bercerita dengan teman-temanku. Acara pun di mulai. Peserta pertama mulai naik. Dengan lancarnya dia bisa menghapalkan dengan fasih surah yang di suruhkan.

Aduh .. ?? Bagaimana ini .. ?? Aku mulai gugup lagi. Takut. Ada rumor yang beredar, katanya yang banyak hafalannya aja dulu yang di kasih naik duluan. Oke, kalau gitu aku bisa tenang untuk sementara waktu. Itu artinya, nanti kalau aku tampil, penontonnya sudah tidak terlalu banyak. Jadi aku tidak perlu terlalu malu kalau nanti aku salah.

Satu per satu nama peserta di sebutkan. Sampai pada nama Nur Hidayah Rusli. Mati .. ?? Yaya' udah naik, bentar lagi berarti giliranku, karena yang banya hafalannya udah naik semua. Aduh .. ??!! Bagaimana ini ?? Aku mulai panik.

Tidak lama setelah nama Yaya' disebutkan, namaku pun mulai di sebut sebagai peserta selanjutnya.

"Ya, selanjutnya Boyke Hendrawan. Bersiap-siap setelah ini Nurul Ilma Islamiyah", kata ustadz yang menjadi tim penguji hari itu.

Tuh kan. Ku bilang apa. Pasti nama aku gak bakal lama lagi. Gimana ini ? Mana masih banyak orang lagi. Perkiraan ku salah besar, ku kira nanti kalau aku naik undangan udah pada pulang. Yah, ini masih setia nongkrong di sini.

"Selanjutnya, Nurul Ilma Islamiyah", kata tim penguji dengan suara yang sengaja di buat supaya peserta gugup. Itu sih opini aku aja. Karena aku gugup setelah mendengar tim penguji menyebut namaku.

Dengan anggunnya, aku melangkah naik ke tempat yang sudah di sediakan. Berkali-kali aku membaca basmalah dalam hati dengan harapan semua berjalan dengan lancar.

"Ya, coba hafalkan Surah Al-Fatihah", kata tim penguji.

Setiap peserta yang naik, surah pertama yang di suruh hafal ya Surah Al-Fatihah. Aku mulai menghafal dengan suara yang ketahuan banget kalau aku lagi gugup. Dalam hati aku berucap,"semoga aja Al-Fatihahku lancar, kan selama ini, kalau aku baca Al-Fatihah dalam shalat, sering aku langkah-langkahin ayatnya" #gubraakkk

Di luar dugaan, ternyata Al-Fatihahku lancar. Selanjutnya aku di suruh menghafalkan Surah Al-Ikhlas. Wah, gampang nih, pikirku. Di luar dugaan. Tiba-tiba otakku BLANK .. !! Aku lupa pertengahan Surah Al-Ikhlas. Malu-maluin banget tau gak !! Surah segampang itu aku lupa. Nyesel deh gak ngelaksanain apa yang mama suruh tadi. Untung aja orangtua ku gak datang. Kalau datang sesudah acara ini, aku pasti di ceramahi abis-abisan tuh ama mereka.

Tapi setelah itu, semuanya lancar. Aku bisa menjawab semua soal yang di tanyakan. Sebagai penutup, tim penguji bilang kayak gini,"Ini kalau Surah-Surah pendek gak tau. Tapi kalau Surah-Surah panjang bisa masuk!".

Itu merupakan pujian ato sindiran, entahlah aku gak tau. Yang penting aku udah menghapal.

Akhirnya tuntas sudah bebankuu .. !! Cuma itu yang aku pikirkan waktu selesai Munaqasyah.

Tapi malunya itu loohh .. !! Tetap gak hilang ..

Masa Al-Ikhlas aja gak tauu .. !!

Arrrgghhh .. !!

Munaqasyaahhku Annccuurrr .. !!

Malu-maluin .. !!

Jumat, 03 Mei 2013

Ulang Tahunnya Fadhilah

Di pesantren itu, jiwa kebersamaan dan sosialnya kuat. Kalau ada yang sedih, pasti semuanya merasa sedih. Kalau ada yang senang, pasti yang lain juga kebagian senangnya. Selain itu, di pesantren juga ada kebiasaan buat ngerjain orang yang ulang tahun.

Hal itu dilakukan untuk berbagi kebahagiaan dengan yang lain. Jadi yang bahagia bukan cuma yang ulang tahun aja. Tapi yang lain juga. Karena mereka ikut merasakan keseruan. Tapi sebenarnya yang ulang tahun tersiksa dengan acara itu. Karena mereka di aniaya secara berjama'ah. Hehehehe.



Hari itu tanggal 25 Agustus, tepat sehari setelah kami kembali dari libur Ramadhan. Dan juga tepat sehari aku menjadi santri baru di pondok pesantren itu. Aku sebagai santri baru tidak tau apa-apa dengan apa yang terjadi pada hari itu. Jadi awalnya aku cuek saja dan tidak menghiraukan apa yang sedang teman-temanku bicarakan pada waktu itu.

Aku tidak mau dianggap sok ikut campur urusan orang. Jadilah aku hari itu hanya diam saja di tempat tidurku yang nyaman sambil menulis-nulis di binder kesayanganku.


Ternyata eh ternyata, mereka sedang membicarakan acara ulang tahunnya Fadhilah. Mereka sedang menyusun rencana bagaimana caranya ngerjain Fadhilah hari itu. Fadhilah yang gak tau dirinya sedang jadi bahan pembincaraan juga adem ayem ngerjain aktivitasnya.

Waktu di sekolah sih semuanya baik-baik saja dan nampak tidak ada yang mencurigakan dari para pelaku kejahatan(?). Mereka bersikap seperti hari-hari biasa. Santai, main, ngobrol, dan lain-lain. Pokonya seperti hari-hari biasa yang lain.

Tapi, waktu pulang sekolah, rencana yang sudah dipersiapkan matang-matang malamnya, mulai dilaksanakan. Rugi donk udah rapat dadakan malam-malam tapi besoknya gak dilaksanain. Entah siapa yang memulai, di depan asrama Fdhilah mulai di siram menggunakan air campuran bahan-bahan yang gak banget. Molto + Bedak + Pasir = Kotor + Harum = Fadhilah lari menghindari serangan dari teman-temannya.

Aku hanya melihat aksi yang berbahaya (?) melalui jendela kamar yang ada di dekat ranjangnya. Di sekitar situ tertulis : "ADEGAN BERBAHAYA. HANYA DILAKUKAN OLEH PROFESIONAL"#lo pikir lagi jalan di atas beling apa. Kan cuma acara siram-siraman. Dalam hati sih sebenarnya ada niat pengen gabung. Tapi mau diapa, saat itu, aku masih santri baru, musti jaga perilaku dulu.

Setelah acara siram-siraman di luar asrama selesai, Fadhilah masuk ke asrama dengan kondisi yang mengenaskan. Dia basah berat sodara-sodara. Aku kira acaranya cuma sampai di situ aja.Ternyata ada season keduanya*kayak sinetron aja. Acara siram-siraman di lanjutkan di teras belakang alis tempat mencuci.

Teman-temanku menyiram Fadhilah lagi dengan air bekas cucian dan air tergenang yang ada di lantai. Wah, bener-bener tega deh mereka. Fadhilah sampe nangis di belakang jamban. Maaf ya cantik, mereka kan cuma bercanda .Wkwkwk. Aku kembali hanya menjadi penonton keseruan hari itu. Mau gabung tapi malu-malu. Nanti aku gak digubris, kan malu sendiri nantinya.

Tanpa disangka-disangka ternyata Fadhilah manggil aku buat ikutan di keseruan itu. Wah, bener nih Dhilah manggil aku ? Aku gak mimpi kan ? Horee .. !! Dhilah manggil aku .. #lompat-lompat di atas genteng#. Tapi aku gak langsung mau. Sok-sokan jual mahal gitu. Hehehe. Tapi mereka maksa aku buat ikutan. "Ah, mia gak solid nih ! Gak mau ikutan basah-basahan!", kata Fadhilah waktu itu.

Karena aku tetap tidak mau ikut, akhirnya mereka menarikku masuk ke neraka(?), eh salah, ke teras belakang dan di siram pakai air kotor. Yaahh, basah deh. Aku kan belum ulang tahun. Koq udah di siram aja. Tapi gak apa-apa deh. Maka, mulailah kami siram-siraman. Berbagai macam jenis air pun digunakan dalam prosesi itu. Mulai dari air bersih yang dari kran, air bekas cucian, dan air kotor yang tergenang.

Abis acara ini musti beli bedak gatal nih kayaknya. Badan gatal-gatal semua !! Tanpa kami sadari, ternyata air yang kami gunakan itu banyak banget. Sampe-sampe, bak penampungan air warna orange yang besar itu tuh, airnya habis kami pake cuma buat siram-siraman hari itu.


bak penampungan air sebesar itu, airnya kami habiskan cuma buat ngerayain ultahnya Dhilah.
Pemborosan bangeett .. !! Hehehe ..

Gimana gak habis ?? Kami siram-siraman mulai dari sudah shalat dzuhur sampai menjelang ashar. Lama gak tuh?? Tangan dan kaki jadi keriput semua gara kelamaan kena air.

Tapi itu semua gak ada artinya selain keseruan yang kami rasakan hari itu. Selain keseruan itu, hal yang gak ada bayarannya lagi adalag hari itu aku merasa bangga, karena ternyata mereka bisa menerima kehadiranku. Bukrinya, walaupun aku masih santri baru, mereka mau melibatkanku untuk ikut berpartisipasi dalam keseruan mereka.

Terimakasih Fatimah Az-Zahra ...

I Love You ...



Sumber gambar :

Rabu, 01 Mei 2013

SIAL .. (Part II)


Sepertinya belum cukup kesialan kami hari itu, sesampai di pesanten kami dapat kabar yang bikin hati panas. Gimana gak panas coba ? Ternyata tadi, pembina yang liat kami naik di angkot tuh gak tau nama kami. Tapi karena ada seseorang yang berbaik hati dan pengen di liat baik di mata pembina, jadi dia bilang deh ke pembina siapa yang kabur.

Sialan tuh orang ! Belum pernah makan tinju kali ! Awas aja kalau ketemu, aku kasih makan tinju rasa strawberry(?). Karena kebodohan anak itu, kami ketahuan deh. Langsung aja deh tuh pembina manggil kami ke rumahnya. Aku kira kami mau disuguhin minuman dulu kek baru di tanya-tanya.

Ternyata di luar dugaan. Penyambutan yang luar biasa. Kami langsung di semprot dengan amarah yang ugh, memekakkan telinga. Pengen rasanya kabur dari rumah pembina saat itu juga. Telinga panas dengar ocehan pembina itu.

Setelah puas marah-marah, dia langsung nyuruh kami tanda tangan #wuuiih, berasa kayak artis diminta tanda tangannya. Tapi jangan salah, kirain di suruh tanda tangan di mana, ya elah, ternyata kami di suruh tanda tangan di buku pelanggaran. AMPUN ! Masuk buku hitam nih gue !! Di situ tertulis :

Nama Santri : Nurul Ilma Islamiyah
Pelanggaran : Kabur dari Pondok Tanpa Izin.

Tunggu bentar. Kabur dari Pondok Tanpa Izin ? Gak salah tuh. Namanya juga kabur, ya gak minta izin lah, masa kabur harus minta izin. Wah, parah nih pembina. Bahasa Indonesianya gak lulus kali ya?

Kalau udah tanda tangan di buku itu, dua kali tanda tangan di buku kami, aku pasti udah di depak dari pesantren ini. Mana waktu itu aku udah kelas tiga lagi. Musti lebih pintar lagi nih supaya nanti kalau melanggar lagi, gak perlu tanda tangan di buku itu lagi.*yaa, bukannya sadar.. hhehehe*

Hukuman ?? Oh iya ?? Masa iya udah capek marah-marah pembina gak ngehukum kami. Kalau hukumannya membersihkan sih gak apa-apa. Atau kalau cuma di suruh bayar sih gak apa-apa. Kan banyak uang ....... di bank .. hhehhe. :)

Tapi ini, pembina sengaja ngasih hukuman yang berat-berat, supaya kami gak ngulangin kenakalan kami lagi. Tau gak hukumannya apa ? Tanpa ekspresi bersalah sedikitpun, tuh pembina nyuruh kami membersihkan selokan yang ada di belakang asramaku sampai belakang asrama dikterapan. GILA ! Itukan panjang banget.

Mana selokannya bau banget lagi. Jorok tingkat dewa tau gak ! Dan lebih parahnya lagi, tu pembina nyuruh kami membersihkannya dengan tangan kosong. TANGAN KOSONG !! #sengaja kasih huruf besar biar tambah heboh.Hhehe :)

Belum membersihakan aku rasanya mau mati saat itu juga. Gak ada hukuman yang lebih ringan apa ? Berat banget sih ? Kami kan kaburnya cuma sebentar. Gak sampe setengah hari. Kabur gak sampe setengah hari, tapi hukuman kami tiga hari.

Gila tuh pembina. Gak punya perikesantrian banget sih. Santri juga manusia. Punya akal punya hati. Jangan samakan dengan tukang bersih selokan #song.

SIAL SIAL SIAL BANGET aku hari itu. Udah harus jalan 3 km, eh sekarang harus membersihkan selokan pake tangan kosong selama tiga hari ..

Maakkk ... !! Paakkk ... !! Tolongin anakmu ini donkk .. Merana banget hidup di pesantren. Dikit-dikit hukuman. Dikit-dikit hukuman. Susah ya kalau jadi orang nakal. Selalu jadi inceran pembina.

*makanya jangan nakal. bandel sih kalau di bilangin .. :P*

SIAL .. (Part I)

Hari itu aku sial banget .. !!
Benar-benar sial deh pokoknya. Baru aja dua kali kabur, eh kabur yang kedua ketahuan. Kabur yang pertama kan baik-baik aja tuh, lancar, terkendali, tanpa masalah. Tapi kabur yang kedua ini, masalahnya banyak banget.

Jadi ceritanya gini :

Hari itu di sekolah ku lagi diadain acara LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan), jadikan yang ada di kelas itu cuma peserta LDK aja. Buat kami yang gak ikut LDK, ya seperti biasa, nganggur diasrama. Tapi ya namanya juga nganggur, kan gak ada nganggur yang enak.

Bosan di asrama, setan kecil pun mulai menggodaku dan kawan-kawan #lagi. Aku bilang lagi, karena setiap ada niat buruk, pasti yang godain aku buat ngelakuin hal buruk ya itu, si setan kecil itu. Bosan di asrama, muncullah ide untuk melaksanakan misi kabur yang berikutnya. Temanku kabur kali ini adalah sahabatku sendiri, namanya Refa.

Hampir sama seperti kabur yang pertama, hal pertama yang kami lakukan adalah meninjau lokasi kabur. #alaah, meninjau, kayak mau pemilihan aja bu. Setelah kami cermati dan kami teliti dengan seksama #bahasa lo#, ternyata medan tidak terlalu mudah untuk di lewati. #medan apalagi ini.

Di sekitar Tempat Kejadian Perkara #eh, lo kira pembunuhan apa#, di sekitar kelas, banyak guru-guru killer berkeliaran. Bisa gawat nih kalau ketahuan kabur. Mulailah aku dan Refa putar otak buat nyari akal yang lebih jitu. Kami mulai sok-sokan jalan di sekitar kelas, supaya keliatan kalau kita cuma mau jalan-jalan keliling pesantren aja, padahal di otak udah ada akal.

Setelah celingak-celinguk ke sana kemari, eh ternyata ada malaikat penolong di sana nongol dengan gagahnya. #huueekk .. pengen muntah nyebut dia malaikat penolong. Ternyata di sana ada sahabatku yang sedang bertugas jadi panitia keamanan, emang cocok sih dai jadi satpam dadakan. Wong mukanya sangar gitu, badannya kekar lagi, siapa coba yang gak takut.

Bagus buat dimanfaatin nih si satpam dadakan. Maka kupanggillah dia, "Prus, sini .. !!". Dengan secepat siput dia pun datang menghampiri kami.#lambaaat beneer.

Aku : bantuin donk .. !!

Ciprus : Bantuin apa ??

Aku : gini, aku ama Refa kan pengen kabur nih ceritanya. Supaya aman, kamu jagain kita ya dari belakang. Supaya gak ada yang curiga gitu. Kamu jaga di depan kelas kami. Kalau kami udah pergi baru kamu boleh pergi. Gimana ? Mau gak ?

Ciprus : kabur lagi kabur lagi. Kebiasaan ya kalian berdua.

Aku dan Refa : Heheheh #nyengir kuda.

Aku : jadi gimana ? Mau gak bantuin kami ??

Ciprus : Iya deh. Aku mau.

Setelah percakapan yang singkat itu, aku dan Refa langsung jalan ke arah kelas dan Ciprus menjaga di depan kelas. Keluar dari kelas lewat jendela belakang dan kabur dari pesantren untuk yang kedua kalinya.
Kaburnya sih berjalan dengan lancar. Tapi tanpa sadar, waktu kami mau naik di angkutan umum, ternyata ada pembina yang ngeliat kami. Sial banget .. !!

Waktu mau kembali ke pesantren, di jalan pulang, kami juga ketemu sama pembina. Bertambahlah kesialan kami hari itu. Demi menghidari pembina kami jalan sejauh kurang lebih 3 km dari pusat kota ke rumah sakit daerah. Kaki rasanya udah mau patah. Kabur emang gak selalu gampang. Butuh perjuangan dan pengorbanan.

Untung aja waktu itu Tuhan gak marah sama kami, kami masih di tolong dengan cara ada angkot yang lewat di depan kami. Tanpa basa-basi, langsung aja deh kami nyetop tuh angkot. Ah .. !! Lega rasanya bisa duduk. Tinggal tunggu aja nih, hukuman apa yang bakal pembina kasih ke santri nakal kayak kami ini.

Minggu, 28 April 2013

The First Fuzzy

The First Fuzzy .. ??
Koq judulnya The First Fuzzy sih .. ??

Iya emang .. Judulnya The First Fuzzy. Karena pada postingan kali ini aku akan menceritakan pengalaman pertamaku kabur dari pesantren. Pengalaman itu tidak akan pernah terlupakan.
kabur photo kabur.gif
Hari itu masih aku ingat hari Jum'at. Dan hari itu jam pelajaran pertama adalah olahraga dan kedua adalah biologi. Entah setan apa yang merasukiku saat itu sampai-sampai aku setuju dengan ajakan teman ku itu. Kami sengaja tidak ikut pelajaran olahraga, karena memang hari itu kami tidak belajar dengan baik. Guru-guru memiliki agenda acara yang lain sehingga sudah bisa dipastikan kalau jam pelajaran kedua nanti, guru tidak akan masuk.

Mulailah kami menyusun rencana gila untuk kabur dari kepenatan pesantren yang melelahkan.

"Gimana nnih cara kita kabur?", tanyaku ke temanku yang mengajakku kabur. Maklumlah, kabur pertama, jadi aku tidak tau bagaimana cara kabur yang baik dan benar agar tidak ketahuan dari pembina.

"Kita bikin rencana dulu ! Kita harus lewat mana ? Kalau lewat depan, pasti kita ketahuan, kalau lewat atas nanti guru-guru curiga, kita lewat mana donk nih?", temanku nanya balik ke aku.

Aku mulai berfikir. Wah, susah banget sih mau kabur, butuh strategi dan perencanaan yang mantap. Seribu kali berfikir, satu kali melangkah. Aku mulai mengambil kesimpulan, ini orang belum profesional kabur rupanya, koq dia malam nanya ke aku ? Aku kan gak tau cara kabur. Ini pertama kalinya aku kabur, itupun kalau jadi. Pikirku waktu itu.

"Kita lewat rumah Nindar saja!", aku mulai mengeluarkan usul saat lampu di atas kepalaku mulai menyala.

"Tapi bagaimana cara kita ke rumahnya Nindar. Kalau mau ke rumahnya Nindar kita tetap haru lewat atas. Di atas banyak guru.", kata temanku lagi.

Otakku kemudian bekerja lagi. Mencari ide yang lebih bagus. Untung aja waktu itu otakku baru selesai dipanaskan, jadi sudah encer dan bisa digunakan untuk berfikir.

"Gini aja, kita bawa tas, terus pura-pura naik ke atas dan masuk ke kelas kita. Dari kelas kita keluar lewat jendela yang ada di kelas terus kita kebelakang kelas dan langsung kerumahnya Nindar? Gimana ?". Entah darimana aku dapat ide itu. Tampaknya setan memang telah merasukiku saat itu, sehingga aku bisa mendapatkan ide nakal macam itu.

Setelah berfikir cukup lama, mengunyah, menelan, dan mencerna perkataanku #apa seeh. Akhirnya temanku itu setuju dengan usul yang kusarankan. Mulalilah kami mengendap-ngendap naik ke atas. Memperhatikan sekitar siapa tau ada yang memandang kami dengan tatapan curiga. Alhamdulillah kami sampai di atas dengan selamat dan badan masih utuh semua. Gak ada yang menyerang kami. Loh ? Koq ? Ah ! Ngawur !!

Setelah sampai di atas, kami berpura-pura masuk ke kelas dan menyimpan tas kami. Kemudian kami kembali keluar kelas dan kembali mengamati keadaan sekitar. Setelah merasa cukup aman. Mulalilah kami melakukan aksi kami yang selanjutnya. Memanjat jendela. Setelah sampai di luar jendela, tepat di belakang kelas kami, ada pagar yang menandai batas wilayah pesantren.

Rumah Nindar ada di balik pagar itu. Karena kami tidak mungkin memanjat pagar itu, kami hanya bisa merangkak lewat tengah-tengah pagar yang ada bolongnya. Belum selesai sampai disitu, kami masih harus melewati rumput-rumput yang tinggi untuk bisa sampai di rumahnya Nindar.

Dan ternyata sodara sodara ! Masih ada satu pagar lagi yang harus di lewati untuk bisa sampai di rumahnya Nindar. Pagar yang satu ini harus dipanjat, gak bisa lewat bawah. Untung aja di dekat pagar itu ada batang pohon yang sengaja di simpan untuk membantu manjat pagar itu. Jadilah kami memanjat pagar itu.

Perjuangan kami belum selesai. Kami masih harus menunggu datangnya angkot. Kalau sudah masuk di dalam         angkot, baru kami merasa lega. Karena itu artinya, misi kabur kami sukses. Tapi masih ada rasa was-was menghantui. Siapa tau nanti diperjalan kami ketemu pembina, wah, bisa ribet tuh urusannya.

Akhirnya kami bisa sampai di rumah dengan aman selamat. Misi kabur kami berhasil. Setelah melewati perjuangan yang berdarah-berdarah dan melelahkan akhirnya kami berhasil KABUR .. !! #backsound lagunya dora the explorer.

Ternyata kabur gak gampang. Butuh perjuangan dan keberanian


Sumber gambar :
http://s557.photobucket.com/user/adi_refan/media/kabur.gif.html
 
ReKerNoPis Blogger Template by Ipietoon Blogger Template