Páginas

Selasa, 01 September 2015

Salah Teriak Salah


LPJ yang berlangsung hari ini berlangsung ricuh walaupun tidak sericuh sidang-sidang wakil rakyat yang di pertontonkan ke masyarakat.

Ada hal yang lucu dan bisa jadi bahan renungan dalam LPJ kami kali ini.

Ustadzku pernah berkata bahwa seorang pemimpin adalah cerminan dari yang dipimpinnya. Jika pemimpinnya adalah orang baik, maka pasti yang dipimpin adalah orang-orang baik pula. Tetapi jika pemimpinnya memiliki sikap yang kurang baik, maka begitu pula lah yang dipimpinnya.

Tadi, ketika LPJ, Mr. Charming mengeluarkan kalimat “Salah Teriak Salah”.

Kami sebagai pengurus OSIS memang bersalah karena tidak menegur siswa yang melanggar. Tetapi siswa tersebut lebih salah lagi karena mereka ingin terus menerus ditegur.

Kemudian tadi ada peserta forum yang mengkritik ketidakhadiran Ketua OSIS pada saat pelaksanaan MOS. Hal itu memang sangat disesalkan oleh banyak pihak. Terkhusus saya. Karena tanpa Ketua OSIS, itu artinya saya harus bekerja ekstra sebagai ketua sekaligus sekretaris panitia MOS. Kerja ekstra itu artinya tenaga ekstra. Ingin rasanya meluapkan semua kekesalanku pada Ketua OSIS. Ingin rasanya marah-marah terhadapnya. Tapi itu semua tidak ku lakukan. Karena jauh di lubuk hatiku, aku sebenarnya bersyukur dan berterimaksih atas ketidakhadiran Ketua OSIS dalam pelaksanaan MOS.

Karena dengan ketidakhadirannya, aku bisa belajar menjadi pemimpin. Mengkoordinir teman-teman agar MOS dapat berjalan dengan baik, lancar, berkesan, dan menyenangkan bagi setiap peserta maupun panitia MOS. Suka duka selama tiga hari MOS merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam hidupku dan pelajaran yang tidak akan pernah ku lupakan. Oleh karena itu, sekali lagi aku memaklumi dan memaafkan ketidakhadiran Ketua OSIS dalam pelaksanaan MOS karena kampungnya yang jauh dipulau dan waktu itu bertepatan dengan gelombang pasang.

Tapi entah kenapa, peserta forum yang tidak mengerjakan apa-apa ketika MOS, yang tidak ikut ambil bagian apa pun, tidak bekerja keras, bahkan tidak menyita waktu dan tenaganya saat pelaksaan MOS malah mengkritik ketidakhadiran Ketua OSIS. Padahal, dia sendiri lah yang memilih Ketua OSIS yang menjabat sekarang. Bukankah hal itu lucu ketika kamu memilih seseorang dan kemudian kamu sendiri yang menjatuhkannya ? Lalu apa mau mu ? Mengapa engkau memilihnya tapi kemudian menjatuhkannya ?

Cobalah kita berfikir bersama.

Di awal, kamu membelanya dan dengan semangatnya mendukungnya untuk menjadi Ketua OSIS. Lalu ketika kinerjanya buruk, malah kamu sendiri yang mati-matian berusaha menjatuhkannya dengan mencari-cari kesalahannya.

Hal ini kemudian membuatku berfikir. Inikah yang terjadi dengan negeriku sekarang ? Negeri kita ? Tanah air tercinta ini ? Yang setengah mati kita bela dan pertahankan walaupun banyak bangsa di luar sana yang berusaha menjelek-jelekkan dan menjatuhkan bangsa kita.

Masih segar di ingatanku, di ingatan kita semua barangkali, ketika pemilihan presiden satu tahun yang lalu. Saat capres dan cawapres hanya terdiri dari dua pasang. Indonesia seakan terbelah menjadi dua kubu. Bahkan sahabat karib pun menjadi musuh karena beda orang yang di dukung pada saat itu.

Banyak dari kita yang mati-matian membela calon tertentu. Saling beradu pendapat. Mulai dari warung kopi sampai ruang kelas pun tidak lepas dari diskusi masalah siapa yang terbaik.

Tapi sekarang, setelah Presiden yang terpilih memiliki kinerja kerja yang buruk, seluruh rakyat seakan-akan bersatu untuk menjatuhkannya. Lalu dimana orang-orang yang dulu mati-matian membela dan mendukung dia ? Kemana semua orang yang dulu pasang salam 2 jari di semua akun social medianya ? Kemana orang-orang yang berpesta pora setelah pengumuman resmi oleh KPU siapa capres dan cawapres yang terpilih ? Kemana semua orang-orang itu ? Mengapa semuanya malah berbalik menyerang ?

Sama juga dengan masalah Sungai Ciliwung yang sekarang. Pemerintah memang salah karena menggusur masyarakat yang telah lama tinggal dan menetap di sekitar Sungai Ciliwung dengan menggunakan kekesaran dan cara-cara yang tidak pantas.

Tetapi rakyat lebih salah lagi karena mereka baru mau pindah jika di kerasi. Pemberitahuan pemerintah agar segera pindah di abaikan begitu saja. Pemerintah tidak sepenuhnya salah. Karena pemerintah telah menyiapkan rusun sebagai ganti rumah-rumah warga yang di gusur.

Inilah yang di sebut Salah Teriak Salah. Diri sendiri yang salah malah menyalahkan orang lain.

Mungkin LPJ kami tadi adalah miniatur dari pemerintahan negeri ini. Mulai dari ricuhnya sidang pleno sampai peserta forum yang berusaha menjatuhkan pilihannya sendiri.

Saya membuat tulisan ini bukan dengan maksud ingin menjatuhkan pihak tertentu. Saya hanya ingin kita berpikir bersama tentang apa yang kita lakukan.


Templates grátis free