Páginas

Rabu, 09 Desember 2015

Inilah Politik

Hari ini Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) berlangsung serentak di seluruh Indonesia. Begitu pun dengan daerahku. Sayangnya aku belum cukup umur untuk ikut merayakan pesta rakyat ini. Teman-temanku yang sebagian besar sudah cukup umur ikut berpartisipasi menyumbangkan suara mereka kepada calon yang mereka ‘anggap’ dapat menjadikan daerahku lebih baik lagi untuk lima tahun kedepan.

Pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum memang belum keluar. Tapi berdasarkan laporan hasil perolehan suara dari setiap TPS sudah dapat dipastikan siapa yang akan memimpin Kabupaten Kepulauan Selayar untuk lima tahun ke depan.


Malam ini aku bertemu dengan salah satu tim sukses dari pasangan calon yang memenangkan PILKADA di sebuah kedai makan pinggir pantai. Kebetulan dia berteman dengan bapakku. Dari bapakku ku dengar dia adalah seorang preman, walaupun penampilannya tidak seperti preman-preman pasar yang tampil urakan dan tidak terurus.

Penampilannya rapi dengan menggunakan kemeja putih berlengan pendek dan celana kain hitam. Dia ditemani dua bapak-bapak yang menggunakan pakaian bernuansa hitam. Salah satu dari bapak-bapak itu adalah seorang konsultan politik.

Dia tampak bahagia sekali karena calonnya menang. Walaupun tidak dapat melihat wajahnya dan aku memang tidak ingin melihat wajahnya, pancaran kegembirannya terpancar jelas dari cara dia berbicara. Bukan hanya sekedar kebahagiaan, tapi juga kesombongan.
Bagaimana tidak ? Dengan menangnya calon yang dia dukung mungkin dia sudah menang puluhan juta dari hasil bertaruh dengan teman-temannya.

Dia bercerita dengan bahagianya bagaimana calonnya bisa menang. Berapa perolehan suara mereka di setiap TPS dan berapa banyak suara yang tidak disangka-sangka. Dia bahkan sibuk menerima telpon dari tim sukses yang berada di kepulauan dan menerima laporan bahwa di pulau mereka juga menang. Dia juga menelpon tim sukses calon yang kalah dan memamerkan kemenangan yang dimilikinya. Sombong betul orang ini, pikirku.


Aku yang saat itu sedang menikmati mie pangsit kesukaanku rasanya ingin segera pergi dari tempat itu. Aku merasa ingin muntah mendengarkan betapa bangga, senang, dan bahagianya dia karena calonnya menang. Tapi yang sampai di pendengaranku itu hanya kesombongan seseroang yang ingin berkuasa dengan menghalalkan segala cara. Aku merasa jijik dengan orang seperti mereka. Mereka yang mengandalkan uang untuk menang. Mereka yang mengandalkan uang untuk mendapatkan suara. Mereka yang mengandalkan uang untuk meraih apa yang mereka inginkan. Akan jadi seperti apa daerahku kedepannya jika dipimpin oleh pemimpin yang menang dengan cara seperti itu ?
Melihat realita seperti ini aku jadi berfikir, sebodoh itukah masyarakat ? Serendah itukah harga diri mereka ?

Pemilihan kepala daerah di daerah bagaikan ajang berjudi bagi mereka yang berduit. Setiap calon mengeluarkan pundi-pundi rupiah yang ada di tabungan mereka. Angkanya fantastis. Totalnya bisa mencapai puluhan milyar. Pantas saja hanya orang-orang berduit yang berani mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Yang menarik adalah bukan hanya para calon yang berjudi, tapi juga para tim sukses masing-masing saling berjudi. Segala sesuatunya menggunakan uang. Jangan berani bermimpi menang kalau tidak mengeluarkan budget yang besar. Besarnya suara tergantung dengan banyaknya uang yang dikeluarkan.


Inilah politik. Segala cara dilakukan untuk mencapai tujuan.

Templates grátis free