Páginas

Minggu, 21 Februari 2016

Pidato Narkoba



Melihat statistik di blog ini, postingan yang paling banyak di baca adalah postingan yang berhubungan dengan pelajaran seperti Makalah Kewarganegaraan : Organisasi - Organisasi Internasional dan postingan yang berhubungan dengan saying-sayangan seperti Katanya Sayang, Tapi ....

Nah, maka dari itu tampaknya tidak ada salahnya jika saya kembali memposting hal yang berhubungan dengan pelajaran. Selain itu menaikkan statistic blog, juga untuk berbagi kepada teman-teman yang ada di luar sana agar memudahkan untuk menemukan tugas yang dicari.

Kali ini saya akan memposting sebuah naskah pidato yang berhubungan dengan narkoba. Sebenarnya naskah ini saya buat dengan meng-copypaste beberapa artikel yang ada di internet. Hasil yang saya dapat menurut saya kurang memuaskan dan tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Maka berdasarkan materi yang telah ada, saya merangkainya kembali menjadi sebuah naskah pidato yang sesuai dengan yang saya inginkan.

Hasilnya memang cukup panjang disbanding naskah pidato lain yang bertebaran di internet, tapi sebagai seseorang yang sudah pernah menjuarai lomba pidato tingkat kabupaten, jika kalian membawakannya dengan cara yang tepat, pidato berikut akan memakan durasi tepat 10 menit. Sesuai dengan waktu yang ditetapkan untuk membawakan sebuah pidato yaitu selama 7-10 menit.

Selain itu, pidato di bawah ini juga sudah sesuai dengan kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang benar. Jadi kalian tidak usah takut jika nanti guru Bahasa Indonesai kalian mengoreksi pengetikan ataupun penulisan dari naskah pidato tersebut.

Saya kira tak usah berpanjang lebar karena saya yakin kalian tidak akan membacanya.

Here We Go !! Pidato Narkoba sebanyak 2 lembar. Semoga Bermanfaat !!


Assalamu’alaikum Wr. Wb

Yang terhormat Ibunda Andi Husnawati
Dan hadirin yang berbahagia

Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat berkumpul di sini dalam keadaan sehat wal afiat. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabiullah Muhammad SAW dan semoga kita mampu meneladaninya.

Sebagai pembuka dari apa yang akan saya sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatan yang telah diberikan untuk menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan narkoba yang merupakan tema dari pidato kali ini.

Menurut WHO, Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif atau yang biasa kita kenal dengan NAPZA adalah bahan atau zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan atau psikologi seseorang serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi.

Hingga kini penyebaran dan penyalahgunaan narkoba sudah hampir tidak bisa dicegah. Mengingat hampir seluruh penduduk Indonesia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Hadirin yang saya hormati,
Seperti yang kita ketahui, narkoba dapat menyebar dengan cepat layaknya wabah. Berdasarkan Laporan Akhir Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba tahun anggaran 2014, jumlah penyalahguna narkoba diperkirakan ada sebanyak 3,8 juta sampai 4,1 juta orang yang pernah memakai narkoba dalam setahun terakhir pada kelompok usia 10-59 tahun pada tahun 2014 di Indonesia. Jadi, ada sekitar 1 dari 44 sampai 48 orang berusia 10-59 tahun masih atau pernah pakai narkoba pada tahun 2014. Angka tersebut terus meningkat dengan merujuk hasil penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional dengan Puslitkes UI dan diperkirakan jumlah pengguna narkoba mencapai 5,8 juta jiwa pada tahun 2015.

Berdasarkan data tersebut, bukan hanya orang tua dan dewasa saja yang menjadi korban, tapi juga remaja, terutama para pelajar yang masih duduk di bangku sekolah. Sebagai generasi penerus bangsa sudah seharusnya bagi para pelajar untuk dapat menjauhkan diri dari jeratan narkoba, karena hal ini dapat mengganggu konsentrasi dan fokus belajar serta mematikan kreatifitas.

Selain itu, penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lainnya itu tentu membawa dampak yang luas dan kompleks. Antara lain ialah perubahan perilaku, gangguan kesehatan, menurunnya produktivitas kerja secara drastis, kriminalitas dan tindak kekerasan lainnya. Hal ini tentu saja bisa membuat orang tua, organisasi masyarakat, dan pemerintah khawatir. Upaya pemberantasan narkoba pun sudah sering dilakukan. Namun masih sedikit kemungkinan untuk menghindarkan narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa.

Hadirin yang saya hormati,
Melalui media cetak dan elektronik kita dapat menyaksikan bagaimana para pengedar narkoba membangun jaringan dalam rangka menjual dan mengedarkan barang tersebut. Dari jaringan internasional sampai pada gerbong-gerbong narkoba melalui kurir dan dikemas secara rapi kemudian diedarkan hingga sampai pada daerah-daerah pelosok. Bahkan sampai pada lembaga pemasyarakatan yang notabene merupakan tempat untuk membuat efek jera bagi siapa saja yang melanggar hukum. Termasuk para pengedar dan pengonsumsi narkoba.

Sebenarnya ketentuan hukum yang mengatur tentang ancaman hukuman bagi pengedar dan pengguna narkoba ini telah di atur dalam undang-undang, dengan ancaman dan denda yang berat. Namun masih banyak orang yang tidak memperdulikan hal tersebut.

Jika lembaga pemasyarakatan yang setiap waktunya ada pemeriksaan dan pos penjagaan mampu mereka lewati untuk mengedarkan nakoba, lantas bagaimana dengan lembaga pendidikan ? Pelajar yang secara usia dan psikologis umumnya memiliki tingkat emosional yang labil dan pola pikir yang belum matang sangat rentan untuk terpengaruh dan tertarik dengan hal-hal yang menurut mereka baru. Dan ini menjadi ruang bagi para pengedar narkoba untuk mempengaruhi dan menghasut para pelajar untuk menggunakan narkoba dengan dalih sebagai gaya hidup dan trend remaja masa kini.

Hadirin yang saya hormati,
Untuk menghindari dan mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di lingkungan sekolah, upaya yang dapat dilakukan adalah menanamkan kesadaran dan pengetahuan tentang bahaya narkoba pada setiap anak didik, menciptakan suasana lingkungan sekolah yang sehat dengan membina huibungan yang harmonis antara pendidik dan anak didik, serta meningkatkan pengawasan anak sejak masuk sampai pulang sekolah.

Sebagai kesimpulan, narkoba adalah musuh bersama. Marilah kita bersama-sama memerangi narkoba dan menyelamatkan generasi emas penerus bangsa ini dari jeratan narkoba. Demikianlah pidato yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas segala perhatian dan kesempatan. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Minggu, 07 Februari 2016

Catatan Akhir Sekolah : Story Of The Real Kesurupan Part 2


Cerita tentang Amoy belum berakhir.

Setelah sampai di rumahnya, dia sadar kembali. Teman satu kostnya memapahnya masuk ke rumah. Anehnya, Amoy tidak mau diantar sampai di kamarnya. Dia hanya ingin berbaring di ruang tamu. Beberapa saat kemudian tantenya datang, dan dia pingsan lagi.

Bapakku mengusapkan air yang telah dibacakan ayat-ayat Allah kemukanya, dan dia mengelapnya. Hebat ! Dia mengelap air yang dibasuhkan ke mukanya. Padahal kan itu Cuma air biasa. Dia juga dipaksa untuk meminum air tersebut dan dia menolak. Ngeyel juga nih setan. Itu pertama kalinya aku menyaksikan orang kesurupan yang melawan seperti itu. The Real of Kesurupan.

Benar-benar menyusahkan setan satu ini. Kadang pingsan, kadang sadar. Kalau aku yang jadi pengusir setannya, sudah daritadi aku lemparkan dia kursi. Karena sudah berkali-kali ayat kursi dibacakan tapi dia tidak bereaksi apapun.

Dibacakan Surah Yasin dia juga tetap tidak merespon. Dia hanya ngomong, “Udah, gak usah ngaji. Gak bakalan mempan !”. Wah, kurang ajar nih setan. Tapi itu adalah pertama kalinya aku liat langsung orang kesurupan yang ngomong. Selama ini Cuma liat orang kesurupan yang teriak-teriak gak jelas maunya apa.

Surah Yasin tetap dibacakan. Memasuki pertengahan Surah Yasin barulah dia ngomong, “Berhenti mengaji. Badanku Sakit !”. Lah, tadi katanya gak mempan. Rasain, kesakitan juga kan sekarang.

Dia kembali mengamuk karena merasa kesakitan. Amoy berusaha meraih-raih orang yang membacakannya Surah Yasin. Melempar apa saja yang ada didekatnya. Aku terkena lemparan bantalannya. Oke, itu agak mengagetkan. Tidak lama kemudian, karena tidak juga berhasil mendapat orang yang membaca Surah Yasin dan semua barang sudah habis dilemparnya tanpa disangka-sangka dia bangun dan berdiri. Oh Tuhan, keadaan ini terlalu mencekam di siang hari yang panas ini. Wajahnya merah, matanya pun demikian. Menyiratkan amarah dan emosi yang meluap-luap.

Untung saja Bapakku bisa mengendalikannya. Jika tidak maka akan terjadi adegan berbahaya yang hanya dilakukan oleh professional *apaan.

Karena setannya ngeyel maka proses pengusirannya pun memakan waktu yang cukup lama. Mulai dari jam 14.00 sampai jam 15.30, gara-gara itu aku terlambat pergi les Matematika.

Terima kasih untuk pengalamannya, Amoy.

Jumat, 05 Februari 2016

Catatan Akhir Sekolah : Story Of The Real Kesurupan




Jam pelajaran terakhir, Bahasa Arab. Siswa di kelasku sudah mulai mencari posisi terbaik untuk bisa tidur tanpa ketahuan guru. Entah mengapa, setiap pelajaran terakhir waktu terasa berjalan sangat lambat. Jarum detik seakan enggan untuk berpindah dari tempatnya. Nampak bahagia melihat wajah-wajah menderita kami. Wajah menahan lapar, panas, haus, dan ngantuk.

Yang ada dalam pikiran kami pada saat-saat seperti ini hanyalah “Kapan bel pulang berbunyi dan mengakhiri penderitaan ini ?”. Bel pulang adalah yang paling ditunggu-tunggu pada saat pelajaran terakhir penuh siksaan ini berlangsung. Bunyi bel pulang bagaikan oase di tengah padang pasir, menentramkan hati dan jiwa yang telah lama meronta-ronta ingin pulang. Tidak hanya pelajaran Bahasa Arab, tapi semua pelajaran yang ditempatkan di jam terkahir, semenyenangkan apapun pelajaran itu tetap akan membosankan.

Ditengah penderitaan itu, tiba-tiba langit-langit kelasku bergetar dan bergemuruh. Guntur tapi tidak hujan. Langit memang agak mendung diluar sana. Tapi tidak ada sedikit pun rintik air yang jatuh dari langit.

Telah terjadi sesuatu di lantai atas yang menyebabkan terjadinya kehebohan yang sedemikian rupa. Suara teriakan dan langkah ketakutan warga atas terdengar, merambat melalui langit-langit kelasku.
Guruku yang saat itu tengah menjelaskan juga kaget dan menghentikan penjelasannya. Suasana kelas juga ikut heboh. Apa gerangan yang telah terjadi di atas sehingga terjadi kehebohan semacam itu ? Kami masing-masing sibuk berspekulasi dan berhipotesis. Guruku menyuruh kami tenang.

Dilihat dari bentuk kehebohannya sudah dapat dipastikan kalau di lantai dua sedang ada yang kesurupan. Ini bisa jadi alasan yang bagus untuk mengakhiri penderitaan ini. Kami pun memprovokasi guru kami untuk naik ke lantai atas. Memintanya untuk mengecek keadaan dan membantu guru yang lain untuk menyembuhkan siswa yang kesurupan. Kebetulan beliau juga termasuk orang alim yang bisa diandalkan untuk mengatasi hal-hal berbau supranatural tersebut.

Beliau pun mengikuti saran kami dan segera naik. Tapi beliau menyuruh kami untuk tetap tenang dan tidak ikut naik. Peduli setan dengan larangan itu. Setelah beliau telah menghilang dibalik di ujung tangga, kami pun menyusul beliau naik ke lantai dua untuk menyaksikan kejadian yang menghebohkan tersebut.

Kesurupan memang bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Indonesia, atau mungkin dunia. Tapi menyaksikan orang kesurupan secara langsung memiliki seni tersendiri. Ada perasaan takut, takjub, heran, senang, sekaligus bangga karena bisa nantinya kita bisa menjadi narasumber untuk menceritakan kembali peristiwa tersebut.

Keadaan di lantai dua sudah sangat kacau. Para siswa memenuhi koridor. Ada yang berteriak, menangis, dan lari ketakutan, ada yang penasaran, ada yang saling bertukar informasi, ada yang jadi narasumber dan dikerubungi lebah pencari berita, bahkan ada yang hanya diam di tempatnya dan memandang dari kejauhan tidak berani mendekati lokasi kejadian perkara.

Berdasarkan penuturan warga atas, yang kesurupan adalah siswa kelas X Ilmu Alam atas nama Sri Amoy. Aku sebenarnya kurang mengenalnya. Hanya kenal nama. Wajahnya aku lupa yang mana. Sejujurnya aku bahkan tidak mengetahui siapa-siapa saja nama adek kelas yang dua tahun di bawahku.

Amoy diangkat menggunakan tandu dalam kondisi masih kesurupan menuju UKS. Dia mengamuk di atas tandu. Kurang lebih hamper sepuluh orang yang menahannya. Tapi Amoy lebih kuat daripada sepuluh orang tersebut. Wajah dan matanya berwarna merah menyala. Menggambarkan emosi yang teramat sangat. Akhirnya dia pun dimasukkan kembali ke dalam kelas XI Sosial II dan kembali mengamuk sejadi-jadinya. Belum sempat menyaksikan peristiwa yang menegangkan itu, para guru menyuruh kami untuk menjauh dari lokasi dan kejadian dan segera pulang.

Ya, karena adanya peristiwa kesurupan yang menghebohkan maka proses belajar mengajar diberhentikan dan siswa dipulangkan lebih awal dari biasanya. Keuntungan di pihak kami. Seandainya saja setiap hari setiap jam pelajaran terakhir ada yang kesurupan, maka kami tidak perlu merasakan penderitaan di detik-detik mencekam itu.

 Sang korban kesurupan pun juga telah ‘sadar’ dan segera dipulangkan. Karena rumahnya jauh, maka pihak sekolah meminta kepada Bapakku untuk mengantarnya pulang. Jaga-jaga kalau misalnya dia pingsan lagi di jalan. Ketika hendak disuruh masuk ke dalam mobil, dia pingsan lagi. Rupanya tadi dia belum sadar betul. Jin yang masuk ke dalam tubuhnya bersembunyi agar tidak disuruh keluar.

Selasa, 02 Februari 2016

Catatan Akhir Sekolah : Happy Birthday, Idha !


Hari ini, hari yang kau tunggu.

Bertambah satu tahun usiamu, bahagialah slalu.

Yang ku beri, bukan jam dan cincin

Bukan seikat bunga, atau puisi, juga kalung hati


HappyBirthday, Idha !!

Selamat Hari Kelahiran Teman Kelas, Teman Galau, Teman Curhat, Teman Baper, Teman Chat sampe tengah malam, Teman ngeJomblo juga (hahaha), Teman Segala-galanya.

Selamat Bertambah Dewasa !!

Cieee !! Yang udah Tujuh Belas Tahun. Yang udah dewasa. Udah mau urus KTP. Udah bisa liat konten yang 17tahun ke atas *ups.

Jadi anak yang baik ya, Cabe ! Tetap jadi gadis cantik kebanggaan kita semua. Tetap jadi seperti sekarang, atau kalau bisa lebih baik lagi. Prestasinya ditingkatkan.
Jangan pernah berubah. Jika ingin berubah, berubahlah menjadi yang lebih baik. Tetaplah jadi teman yang selalu setia mendengar semua curhatan galau tidak jelasku dan menanggapinya dengan sepenuh hati.


Tuhan, temanku yang satu ini sudah dewasa. Jaga dan sayangilah dia, Tuhan. Jadikanlah dia anak yang baik, berbakti, sukses, dan berguna bagi bangsa, agama, dan Negara.

Aku sangat bangga bisa menjadi salah satu bagian dari perayaan SweetSeventeen-mu. Melihatmu tumbuh selama 3 tahun ini. Melihatmu berubah sedikit demi sedikit. Perubahan yang baik tentunya. Dari yang awalnya pendiam, sekarang sudah mulai ikut-ikutan cerewet. Yang awalnya jarang bersuara, sekarang udah sering ikutan nimbrung kalau ada yang ngobrol. Yang awalnya ALAY, sekarang sudah tobat dari keALAYan itu.

Maaf gak bisa ngasih hadiah. Bukannya gak mau. Tapi aliran dana dari pusat agak kurang lancar. Hanya cukup untuk jajan di sekolah dan membayar photocopyan soal-soal. Kelas tiga membutuhkan lebih banyak dana daripada tahun-tahun sebelumnya.

Sekali lagi, Selamat memasuki usia dewasa, Cabe Kesayangaaaannn !!

Be The Best and Do The Best !!

Senin, 01 Februari 2016

Catatan Akhir Sekolah : Prolog


Tugas sekolah yang paling aneh yang pernah ku terima : membuat diary. Guruku menyuruh kami membuat diary sebagai syarat untuk mengikuti Ujian Nasional Bahasa Indonesia. Tugas itu harus ditulis tangan dan dikumpul sebelum ujian dilaksanakan.

Tugas itu tidak susah. Menyenangkan malah. Karena aku sudah terbiasa menulis. Masalahnya adalah beberapa waktu belakangan ini aku mulai malas menulis. Bukan malas menulis sih sebenarnya. Tapi malas merangkai kata untuk dijadikan sebuah tulisan yang bermutu dan enak untuk dibaca. Tapi itu tergantung tujuan menulisnya juga sih. Kalau diary biasa, bagaimana pun bentuk aturan tata bahasanya kan tidak ada yang mau baca, jadi gak masalah.

Tapi aku sudah terbiasa menulis di blog, dan mencurahkan apa yang ku rasakan harus dapat ku tuliskan dengan benar dan tidak terkesan membosankan atau biasa saja.

Menulis di diary, satu kalimat pun yang ingin ditulis tetap jadi sebuah tulisan. Nah di blog, aku tidak mungkin mempost tulisan yang isinya hanya beberapa kata. Kalau itu puisi sih bagus. Lah kalau itu adalah curhatan remaja galau bin alay ? Pembaca akan lari dan tidak akan mau datang lagi.

Memang sih tujuan awal bikin blog sebagai diary elektronik untuk mengatasi kemalasanku menulis menggunakan tangan. Tapi setelah lama berkecimpung di dunia blogger, tentu saja aku juga ingin mempunyai pembaca tetap. Pembaca yang menunggu setiap tulisanku. Aku juga ingin menghasilkan sebuah tulisan yang bermanfaat. Bukan hanya tulisan yang berisikan curhatan tidak jelas. Setidaknya aku bisa berbagi pengalaman lah sama mereka yang ada di luar sana.

Berhubung Ujian Nasional tinggal beberapa bulan lagi, selain belajar aku mungkin akan menyisihkan waktuku untuk menulis. Menulis catatan akhir sekolah. Sebuah catatan yang dapat dibaca ulang suatu hari nanti sebagai sebuah kenangan.


Dan tulisan ini adalah pembuka dari cerita-cerita selanjutnya.

Templates grátis free